Apa itu Perianal Fistula?

Perianal fistula adalah saluran abnormal yang menerobos kulit di sekitar anus. Saluran ini bisa terbentuk, bila kelenjar pada dubur terinfeksi dan bernanah. Saluran ini menyediakan jalan untuk drainase bagi nanah untuk timbul ke permukaan kulit. Drainase ini akan terus berlanjut selama penderita masih mengalami infeksi.

Pada umumnya, kondisi ini dapat diobati dengan operasi untuk menutup saluran abnormal. Dengan operasi ini, kerusakan otot sfingter dapat diminimalisir. Otot ini berfungsi untuk membuka dan menutup anus. Jika terjadi kerusakan pada otot ini, risiko inkontinensia usus akan meningkat.

Prognosis untuk pasien dengan fistula sangat baik setelah dioperasi. Namun hal tersebut, tidak menjamin bahwa fistula tidak akan kembali di masa depan. Pada sekitar 7-21% kasus, saluran abnormal akan kembali beberapa bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan. Risiko kekambuhan tergantung pada kompleksitas dan letak saluran abnormal.

Penyebab Perianal Fistula

Perianal fistula terjadi ketika bakteri atau tinja terjebak dalam kelenjar kecil di dalam anus. Kondisi ini merupakan komplikasi umum penyakit Crohn. Kemunculannya ditandai dengan peradangan kronis pada saluran gastrointestinal (GI). Hal ini juga dapat terjadi, ketika tekanan menyebabkan tonjolan kantong jaringan di dalam usus besar. Kantong ini bisa menyebabkan infeksi jika pecah. Penyebab lainnya ialah kanker dan trauma anus atau rektum. Pasien dengan tuberkulosis dan PMS juga memiliki risiko lebih besar mengembangkan perianal fistula.

Gejala Utama Perianal Fistula

Perianal fistula menyebabkan rasa sakit yang hebat. Sehingga, pasien sering kali mengalami kesulitan untuk duduk diam. Gejala ini akan mereda bila nanah dikeringkan. Akan tetapi, pengeringan/drainase tidak akan membuat nanah menghilang. Sebab, infeksi terus menerus menghasilkan nanah. Gejala lainnya, bagian saluran abnormal di permukaan kulit sering meradang dan memerah. Penderita juga memiliki benjolan di daerah anus yang tidak bisa sembuh.

Namun, ada beberapa kasus, di mana perianal fistula tidak menyebabkan rasa sakit melainkan rasa gatal.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Penyakit ini bisa didiagnosa oleh dokter umum. Namun, tindakan pengobatannya akan dilakukan oleh spesialis bedah umum atau kolorektal.

Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter biasanya hanya melakukan pemeriksaan rektum sederhana. Akan tetap kadang, dokter sering perlu melakukan tes untuk melacak lokasi saluran abnormal di dalam rektum. Ini bisa dilakukan dengan cara:

  • Memasukkan alat bantu bernama scope ke dalam anus untuk menilai daerah anal dan dubur. Prosedur ini disebut anoscopy.

  • Menyuntikkan larutan kontras ke saluran, lalu pasien akan menjalani rontgen. Prosedur ini memberi dokter gambaran yang menunjukkan asal fistula. Magnetic Resonance Imaging (MRI) juga bisa digunakan. Tes ini memberikan informasi lebih rinci dibandingkan rontgen.

Cara untuk mengobati penyakit ini tergantung pada banyak faktor. Salah satu yang paling penting adalah letak fistula, karena dokter harus memastikan otot sfingter pasien tidak rusak dalam proses pengobatan. Karena kerusakan otot sfingter dapat menyebabkan komplikasi berupa usus inkontinensia

Penyakit ini bisa diobati dengan menggunakan perekat fibrin dan penyumbat bioprostik. Perekat fibrin disuntikkan ke dalam fistula sehingga akan menutup dan menyembuhkan. Sementara, penyumbat bioprostetik dapat digunakan untuk menghalangi pembukaan internal saluran. Penyumbat ini dapat mencegah nanah memasuki saluran, sehingga membuat kering dan sembuh.

Akan tetapi, kedua metode ini hanya membantu meredakan gejala untuk jangka pendek dan tidak dapat menyembuhkan penyakit. Kedua metode ini menjadi pilihan, apabila operasi tidak dapat dilakukan. Prosedur operasi tidak bisa dilakukan jika saluran abnormal dekat dengan otot sfingter, karena risiko kerusakan permanen sangat besar.

Operasi yang dilakukan untuk mengobati kondisi ini disebut fistulotomy. Dalam prosedur ini, dokter bedah menyayat saluran agar terbuka. Hal ini akan membuat nanah mengering dan kemudian sembuh seperti bekas luka yang rata. Pilihan lainnya adalah penggunaan seton. Benang bedah ini dimasukkan dan dibiarkan di dalam saluran. Ini membuat saluran terbuka, sehingga nanah mengalir sepenuhnya. Kemudian, benang tersebut bisa digunakan untuk memotong saluran secara perlahan.

Advancement rectal flap juga merupakan pilihan pengobatan lain. Dalam prosedur ini, saluran abnormal dipotong terbuka. Kemudian, dokter bedah akan memotong flap ke dinding dubur. Setelah melepaskan bukaan internal saluran, flap dijahit kembali. Pilihan ini meminimalkan jumlah otot sfingter yang perlu dipotong selama prosedur berlangsung.

Pasien umumnya boleh pulang ke rumah setelah menjalani operasi. Mereka disarankan untuk merendam area yang menjalani operasi di bak mandi hangat beberapa kali dalam sehari. Ini membantu mempercepat proses penyembuhan. Mereka juga disarankan mengonsumsi makanan lunak untuk mencegah sembelit. Dokter juga meresepkan obat untuk mengobati rasa sakit atau ketidaknyamanan yang sering muncul pasca operasi.

Waktu pemulihan memakan waktu antara dua sampai empat minggu. Tapi banyak pasien yang bisa kembali menjalani aktivitas normal, seminggu setelah prosedur operasi. Pasien kadang disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan bahwa luka operasi sembuh dengan baik. Dokter juga ingin memastikan tidak ada komplikasi yang berkembang.

Rujukan:

  • Wald A, Bharucha AE, Cosman BC, Whitehead WE. ACG clinical guideline: management of benign anorectal disorders. Am J Gastroenterol. 2014 Aug. 109(8):1141-57; (Quiz) 1058.

  • Hamalainen KP, Sainio AP. Incidence of fistulas after drainage of acute anorectal abscesses. Dis Colon Rectum. 1998 Nov. 41(11):1357-61; discussion 1361-2.

  • Perry WB, Dykes SL, Buie WD, Rafferty JF. Practice parameters for the management of anal fissures (3rd revision). Dis Colon Rectum. 2010 Aug. 53(8):1110-5

Bagikan informasi ini: