Apa itu Penyakit Arteri Perifer?

Penyakit Arteri Perifer (PAP) adalah gangguan kesehatan di mana arteri menyempit atau tersumbat. Biasanya disebabkan oleh penumpukan plak, yang terbentuk dari beragam zat yang ditemukan dalam darah. Zat yang dimaksud di antaranya, kalsium, lemak, dan kolesterol. Jumlah kecil dari zat-zat tersebut dapat tertinggal di dinding arteri yang dilalui oleh aliran darah. Zat yang tertinggal lama kelamaan menyebabkan obstruksi yang mengurangi aliran darah ke organ tertentu. Jika obstruksi cukup besar, ada kemungkinan darah tidak bisa mengalir sama sekali.

Seperti namanya, PAP menyerang arteri perifer di kepala, perut, dan anggota gerak. Namun, gangguan ini lebih sering memengaruhi pembuluh darah yang memasok darah ke kaki. Jika telah terjadi, pasien umumnya merasakan keram, mati rasa, dan nyeri. Selain itu, risiko infeksi serius juga meningkat yang dapat menyebabkan kematian jaringan dan amputasi. Kedua komplikasi tersebut dapat terjadi jika kaki tidak menerima nutris dan oksigen yang cukup untuk melawan infeksi.

Risiko berkembangnya PAP lebih besar pada mereka yang memiliki diabetes tidak terkontrol dan tekanan darah tinggi. Selain itu, risiko lebih tinggi dimiliki oleh mereka yang obesitas dan merokok.

Penyebab Penyakit Arteri Perifer

Dalam kebanyakan kasus, PAP muncul karena aterosklerosis. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan penumpukan plak di arteri yang menghalangi aliran darah. Namun, aterosklerosis tidak hanya meningkatkan risiko PAP, tapi juga masalah kesehatan lain seperti stroke dan serangan jantung. Sebab, aterosklerosis menghalangi darah kaya oksigen mencapai bagian tubuh tertentu.

Akan tetapi, apa yang menyebabkan penumpukan plak di arteri belum sepenuhnya diketahui. Banyak faktor yang terbukti berperan, di antaranya kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, diabetes, merokok, dan obesitas.

Ada juga penyebab PAP lainnya, namun kurang umum. Seperti gumpalan darah dan cedera.

Gejala Utama Penyakit Arteri Perif

Banyak penderita PAP yang tidak menunjukkan gejala pada stadium awal. Namun, seiring menyempitnya arteri, mereka akan merasakan kram dan nyeri. Tingkat keparahan gejala bergantung pada jumlah darah yang diterima organ tubuh. Dalam kasus ringan, nyeri biasanya hilang setelah beberapa menit. Sedangkan dalam kasus berat, pasien bisa merasakan nyeri menyiksa bahkan saat duduk atau berbaring.

Gejala lainnya seperti lemas, terasa dingin, dan bahkan perubahan warna pada organ. Gejala-gejala tersebut muncul karena kurangnya pasokan oksigen. Pasien juga mungkin menyadari pertumbuhan ibu jari kaki yang lambat. Pada pria, gangguan ini bisa menimbulkan disfungsi ereksi.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Prosedur diagnosa PAP dimulai dari pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda penyakit, seperti jaringan mati dan luka pada kaki atau jari kaki yang sembuh dengan lambat. Dokter juga akan memeriksa apakah denyut di kaki pasin lemah. Selain itu, dokter akan mengukur tekanan darah tinggi.

Kadang tes pencitraan juga digunakan. Di antaranya ultrasound dan angiografi untuk menunjukkan seberapa baik aliran darah ke arteri. Kedua tes pencitraan ini juga dapat memastikan keberadaan sumbatan dan mengidentifikasi lokasinya.

Dokter bisa menggunakan tes lainnya untuk menentukan apakah sumbatan disebabkan oleh gumpalan darah, penumpukan plak, atau luka parut pada jaringan. Informasi yang didapatkan dari berbagai prosedur diagnosa akan digunakan oleh dokter untuk merumuskan rencana pengobatan terbaik.

Kasus ringan umumnya tidak membutuhkan pengobatan. Sebab, aliran darah yang buruk masih dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup. Pasien akan disarankan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, dan berhenti merokok (jika perokok). Selain itu, pasien diminta mengatasi masalah kesehatan dasar seperti diabetes. Jika pasien telah merubah gaya hidup dan kondisinya tidak kunjung membaik, maka penanganan medis diperlukan.

Obat-obatan tertentu juga akan diresepkan untuk meredakan gejala dan mencegah penyakit semakin parah. Obat tersebut mampu mengurangi risiko komplikasi serius seperti stroke dan serangan jantung. Obat pun digunakan untuk menurunkan tingkat kolesterol dan darah, mencegah terbentuknya gumpalan darah, serta memperlebar pembuluh darah.

Dalam kasus PAP paling berat, kondisi tersebut bisa diobati dengan angioplasti, di mana sebuah kateter digunakan untuk menghilangkan plak yang menumpuk dan memperlebar pembuluh darah. Kateter akan dimasukkan ke nadi, kemudian diarahkan ke pembuluh darah yang tersebut. Balon yang ada di ujung kateter akan dikembangkempiskan untuk mendorong plak dari pembuluh darah. Ini akan memungkinkan darah mengalir dengan lebih baik. Dokter juga bisa memasangkan stent (cincin/ring) untuk mencegah pecahnya pembuluh darah.

Selain angioplasti, pasien juga mempunyai pilihan yang disebut operasi bypass di mana pembuluh darah dari bagian tubuh lain dicangkok dan digunakan untuk mengalihkan rute aliran darah.

Rujukan:

  • Prevention and treatment of PAD. American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/PeripheralArteryDisease/Prevention-and-Treatment-of-PAD_UCM_301308_Article.jsp.

  • Peripheral arterial disease. The Merck Manual Professional Version. http://www.merckmanuals.com/professional/cardiovascular-disorders/peripheral-arterial-disorders/peripheral-arterial-disease.

  • Hirsch AT, et al. ACC/AHA 2005 guidelines for the management of patients with peripheral arterial disease. Journal of the American College of Cardiology. 2006;47:e1.

Bagikan informasi ini: