Apa itu Keratokonus?

Keratokonus adalah penyakit mata progresif yang ditandai dengan benjolan pada kornea, sehingga bentuk kornea terlihat seperti kerucut dan bukannya bulat. Saat hal tersebut terjadi, mata tidak akan dapat memusatkan pandangan pada gambar dengan baik.

Mata dilapisi oleh sklera, dan salah satu bagian dari mata adalah kornea, yaitu selaput transparan tipis atau “jendela” di mana cahaya masuk dan mulai masuk ke mata. Kornea terdiri dari beberapa lapisan yang berfungsi untuk memantulkan cahaya sehingga dapat melewati pupil, yang membentuk bagian dari iris. Sedangkan iris berfungsi untuk mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan mengecil atau membesar. Kemudian, cahaya akan melewati lensa kristalin dan vitreous sampai akhirnya ke retina, yang mengubah semua cahaya yang diterima menjadi impuls elektrik yang dapat dibaca oleh otak.

Normalnya, kornea berbentuk bulat. Namun, karena beberapa kemungkinan, kornea dapat menipis dan berubah bentuk menjadi kerucut. Oleh karena itu, cahaya malah menjadi “memencar” dan bukannya terfokus ketika sampai di retina. Kemudian, otak akan “melihat objek” seakan-akan objek tersebut tidak terlihat jelas atau buram.

Sebagai penyakit yang progresif, semua kerusakan pada kornea tidak dapat disembuhkan namun dapat distabilkan. Selain itu, biasanya kerusakan terjadi secara perlahan, selama sepuluh tahun atau lebih sebelum menyebabkan gejala atau mulai memburuk lagi. Keratokonus biasanya ditangani dengan memberikan lensa kontak atau kacamata yang sesuai dan harus sering diganti, tergantung pada perkembangan pengobatan atau penyakit. Keratokonus tidak menyebabkan kebutaan, namun penglihatan bisa menjadi sangat buram dan mengurangi kualitas hidup pasien. Kornea juga dapat terluka.

Keratokonus dapat diderita oleh anak muda, namun banyak kasus yang terjadi pada remaja dan anak. Walaupun keratokonus dapat merambah pada kedua mata, tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap mata.

Penyebab Keratokonus

Keratokonus tidak memiliki penyebab pasti. Salah satu teori yang selama ini dipercaya adalah bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor genetik karena ada pasien yang memiliki anggota keluarga inti, misalnya orangtua atau saudara kandung, yang didiagnosis dengan keratokonus. Oleh karena itu, anak yang berusia 10 tahun sudah disarankan untuk menjalani pemeriksaan mata untuk keratokonus. Namun, ada juga beberapa ahli yang mengatakan bahwa faktor genetik berjumlah rendah hanya 6% dari total penderita keratokonus. Beberapa orang percaya bahwa keratokonus disebabkan oleh kekurangan antioksidan pada mata. Kolagen juga dapat ditemukan di mata, terutama di kornea, di mana kolagen membantu membentuk kornea. Sementara itu, sel kornea menghasilkan produk sampingan dengan fungsi sel tertentu, yang harus dihilangkan dari sel kornea dengan antioksidan. Saat kadar antioksidan pada mata rendah, produk sampingan tersebut tetap berada di kornea, dan menyebabkan kerusakan pada kolagen. Hal ini akan menyebabkan perubahan bentuk kornea secara bertahap.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan hubungan kuat antara alergi dan keratokonus – mereka yang rawan terkena eksim, rinitis alergi atau hay fever, dan asma juga lebih berisiko terkena keratokonus.

Salah satu kemungkinan penyebab keratokonus lainnya adalah terkena sinar matahari dalam jangka panjang dan iritasi berulang pada mata. Lensa kontak berkualitas rendah juga dipercaya sebagai penyebab keratokonus karena alat ini bersentuhan langsung dengan kornea.

Teori penyebab keratokonus lainnya tidak memiliki cukup bukti atau hanya berdasarkan pengalaman seseorang saja, sehingga masih tetap diperdebatkan atau tidak sepenuhnya diterima dalam bidang kedokteran. Teori ini termasuk teori bahwa keratokonus disebabkan oleh mengucek mata atau ketidakseimbangan hormon.

Gejala Utama Keratokonus

  • Penglihatan yang buram atau tidak jelas
  • Kepekaan terhadap cahaya
  • Iritasi mata kronis
  • Kebiasaan sering mengganti lensa kontak atau kacamata
  • Melihat cahaya yang menyilaukan atau lingkaran cahaya
  • Sakit mata
  • Mengucek mata
  • Sakit kepala
  • Penglihatan ganda
  • Mata tegang
  • Kesulitan melihat, terutama saat malam hari
  • Gangguan refraksi, misalnya rabun jauh, astigmatisma (silindris), dan rabun dekat

Pada tahap awal keratokonus, pasien tidak mengalami gejala apapun atau gejalanya tidak terasa sehingga sering didiamkan saja. Selain itu, penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit mata lainnya. Hanya dokter spesialis mata yang dapat mengetahui perbedaannya melalui berbagai tes.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Dokter mata adalah dokter spesialis yang sudah terlatih untuk menilai, mendiagnosis, mengobati, dan menangani berbagai penyakit mata, termasuk keratokonus. Apabila dokter mencurigai bahwa pasien menderita keratokonus, ia akan melakukan tes standar seperti keratometri. Tes ini dapat mengetahui bentuk, terutama lengkungan kornea, dengan melihat pola pantulan cahaya. Namun, untuk pemeriksaan yang lebih menyeluruh, dokter dapat melakukan pemetaan 3D pada kornea mata. Biasanya, pengobatan pertama yang dilakukan akan meliputi penggunaan lensa kontak yang halus dan kacamata. Seiring memburuknya keratokonus, alat bantu penglihatan ini juga harus disesuaikan.

Namun, komplikasi baru akan terjadi setelah kornea sudah sangat berubah bentuknya dan lensa kontak yang halus tidak lagi dapat dipakai. Langkah selanjutnya adalah menggunakan lensa kontak RGP (rigid gas permeable), yang dapat “melapisi” kornea sehingga dapat mengatasi penipisan kornea. Walaupun efektif, banyak orang yang tidak nyaman menggunakan lensa kontak ini. Oleh karena itu, beberapa dokter menyarankan lensa hybrid, lensa untuk sklera (semi atau skleral), atau menggunakan lensa kontak halus dan RGP secara bersamaan (sebuah proses yang dikenal sebagai membonceng atau piggybacking), di mana lensa yang halus berperan sebagai bantalan untuk lensa RGP.

Apabila penyakit telah memburuk sampai tidak dapat ditangani dengan lensa kontak, termasuk lensa RGP, maka dapat dilakukan operasi. Operasi meliputi pemasangan implan Intacs, yang merupakan alat sisipan terbuat dari plastik. Intacs akan dipasang di sekitar kornea untuk membantu memperjelas penglihatan.

Penyambungan silang kornea (corneal cross-linking) juga disarankan, terutama apabila masih ada cukup jaringan yang tersisa di kornea. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memperkuat jaringan sehingga tidak berubah lagi bentuknya. Pada tindakan ini, riboflavin, sebuah vitamin B, akan dimasukkan ke kornea dengan bantuan sinar UV. Selama tindakan, dokter dapat mengangkat lapisan luar dari kornea yang bernama epitelium.

Apabila metode pengobatan lainnya telah gagal dan penyakit sudah tambah memburuk, maka kemungkinan harus dilakukan transplantasi kornea. Juga dikenal sebagai keratoplasti, pasien akan mendapatkan kornea yang sehat dari donor yang telah meninggal. Dengan tindakan ini, diharapkan penglihatan dapat sangat membaik, walaupun dalam beberapa kasus kornea masih harus dibantu dengan lensa kontak halus atau kacamata.

Rujukan:

  • Dahl BJ, Spotts E, Truong JQ. Corneal collagen cross-linking: an introduction and literature review. Optometry. 2012 Jan;83(1):33-42

  • Jain A, Paulus YM, Cockerham GC, Kenyon KR. Keratoconus and other noninflammatory corneal thinning disorders. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane's Ophthalmology. 2013 ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:vol 4, chap 16C

  • Sugar J, Batta P. Keratoconus and other ectasias. In: Yanoff M, Duker JS, eds. Ophthalmology. 4th ed. St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2013:chap 4.18

Bagikan informasi ini: