Apa itu Kista Pilonidal?

Kista pilonidal adalah benjolan abnormal yang terbentuk pada ujung atas belahan pantat atau pada daerah tulang ekor. Kista ini tampak seperti papula atau nodul yang membengkak dan biasanya dipenuhi sel rambut dan kulit. Jika kista terinfeksi dan membentuk abses, saluran sinus (sinus pilonidal) dapat terbentuk yang membuka jalan ke permukaan kulit, dimana nanah dan cairan lainnya akan keluar. Kista pilonidal yang tidak terinfeksi biasanya tidak menimbulkan gejala. Sedangkan kista yang terinfeksi umumnya menyebabkan rasa sakit, pembengkakan, keluarnya darah atau nanah, dan bau busuk.

Kondisi ini tidak serius dan jarang menjadi kondisi darurat medis. Namun, perawatan biasanya disarankan karena kista bisa membesar dan penderitanya merasa sangat tidak nyaman saat duduk atau tertekan. Bergantung pada tingkat keparahan kondisinya, kondisi ini biasanya dapat ditangani dengan mengeluarkan nanah atau melalui operasi yang menghilangkan semua jaringan dan sinus yang terinfeksi.

Siapa saja dari segala umur dan jenis kelamin dapat mengembangkan kista pilonidal. Beberapa bayi yang terlahir dengan kulit menjorok ke dalam di dasar tulang belakang memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan kista jika terinfeksi. Namun, kondisi ini lebih umum menyerang pria berusia 20-an.

Penyebab Kista Pilonidal

Alasan pasti mengapa kista pilonidal berkembang tidak diketahui. Namun, ada teori yang menunjukkan bahwa aktivitas tertentu, seperti duduk terlalu lama dapat memaksa rambut yang tumbuh di daerah dasar tulang belakang untuk masuk kembali ke kulit. Jika ini terjadi, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi seolah-olah benda asing menyerang tubuh. Teori ini menjelaskan mengapa kondisi ini lebih umum diderita orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan mereka untuk duduk dalam jangka waktu yang lama (seperti supir truk dan taksi) dan mengapa kista pilonidal biasanya mengandung rambut.

Faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko terkena kista pilonidal antara lain:

  • Obesitas

  • Trauma pada daerah tulang ekor

  • Rambut tumbuh secara berlebih

  • Keluarga dengan riwayat kista pilonidal

  • Laki-laki dengan risiko empat kali lebih besar dibandingkan wanita

  • Gaya hidup sedentari

  • Kurang menjaga kebersihan

  • Duduk terlalu lama terutama dengan pose bungkuk

Gejala Utama Kista Pilonidal

Seringkali, kista pilonidal tidak menyebabkan gejala apapun, terutama pada tahap awal dan jika tidak terinfeksi. Selain adanya benjolan kecil di belahan pantant, pasien biasanya tidak menyatakan keluhan lain. Namun, ketika kista terinfeksi, gejala berikut biasanya muncul:

  • Rasa sakit atau ketidaknyamanan yang meningkat saat duduk, mengendarai sepeda, atau melakukan olahraga tertentu seperti sit-up.

  • Kemerahan pada kulit

  • Bengkak

  • Keluarnya nanah dan darah

  • Bau busuk

  • Rambut menonjol dari kista

  • Kulit terasa hangat

  • Demam (sangat jarang)

  • Daerah tulang ekor menjadi lembab

  • Fistula - Saluran sinus abnormal terbuka ke permukaan kulit.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Kista pilonidal didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Melalui pemeriksaan ini, dokter berpengalaman dapat membedakannya dari jenis kista lain yang memiliki penampilan serupa, misalnya kista dermoid dan teratoma sakrokoccygeal. Kemampuan untuk membedakan kista pilonidal penting karena setiap jenis kista memerlukan metode pengobatan yang berbeda. Tes darah juga bisa dilakukan jika kista terinfeksi.

Tujuan pengobatan kista pilonidal adalah untuk menghilangkan semua jaringan kista (untuk mencegah kekambuhan) dan memastikan sembuhnya jaringan sehat. Kista pilonidal yang terinfeksi dan bernanah dapat diobati dengan antibiotik sebelum disayat untuk mengeluarkan nanah.infeksi telah sembuh, pasien mungkin menjalani sistektomi pilonidal.

Untuk prosedur ini, dokter mungkin menggunakan jarum yang dipanaskan secara elektrik atau instrumen lainnya untuk menghilangkan saluran jaringan, sinus yang terinfeksi dan juga sekitar 0,2 cm jaringan sehat di sekitar kista. Kemudian, dinding luka juga didebridemen dengan kuretase. Dokter mungkin a memilih menjahit tepi luka untuk meminimalkan jumlah jaringan yang terekspos.

Dalam kebanyakan kasus, luka dibiarkan terbuka agar sembuh dengan sendirinya. Meskipun teknik ini mempersingkat waktu operasi dan meminimalkan risiko kambuh, tapi akan memperpanjang masa penyembuhan dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan karena perlu mengganti perban setiap hari.

Untuk mempercepat pemulihan, alat terapi luka tekanan negatif dapat digunakan untuk membuat luka sembuh lebih cepat, mengurangi bakteri, dan memberikan debridemen lokal dengan mengganti perban setiap hari.

Kistektomi juga dapat melibatkan penutupan luka dengan jahitan. Jika luka itu dalam, maka akan dijahit dengan benang yang dapat diserap tubuh.

Meski terbukti efektif, kistektomi pilonidal memiliki risiko dan kemungkinan komplikasi seperti penyembuhan luka yang tertunda. Jika luka sudah tertutup tapi belum sembuh seperti yang diharapkan, pasien harus menjalani prosedur lain untuk mengobati infeksi. Risiko lainnya termasuk rasa sakit, terutama bagi pasien yang luka-luka dibiarkan terbuka dan harus mengganti perban setiap hari. Kondisinya juga bisa kambuh bahkan setelah berhasil diobati.

Rujukan:

  • Velitchklov N, Vezdarova M, Losanoff J, Kjossev K, Katrov E. A fatal case of carcinoma arising from a pilonidal sinus tract. Ulster Med J. 2001 May. 70(1):61-3.

  • Mentes O, Bagci M, Bilgin T, Coskun I, Ozgul O, Ozdemir M. Management of pilonidal sinus disease with oblique excision and primary closure: results of 493 patients. Dis Colon Rectum. 2006 Jan. 49(1):104-8.

  • Favuzza J, Brand M, Francescatti A, Orkin B. Cleft lift procedure for pilonidal disease: technique and perioperative management. Tech Coloproctol. 2015 Aug. 19 (8):477-82.

Bagikan informasi ini: