Apa itu Prosthesis?

Prosthesis merupakan sebuah alat kesehatan yang didesain untuk menggantikan bagian tubuh tertentu untuk membantu pasien mendapatkan kembali fungsi tertentu setelah bagian tubuhnya cidera berat karena kecelakaan atau terkena penyakit.

Sebagai ketentuan medis, penyedia layanan kesehatan dilatih untuk mampu mempertahankan bagian tubuh sebisa mungkin. Namun, terdapat beberapa kasus dimana kerusakan dapat mengarah pada komplikasi yang lebih parah seperti kematian, sehingga proses mengangkat bagian tubuh tersebut menjadi pilihan yang lebih baik. Saat organ tubuh, seperti kandung kemih atau usus buntu dapat diangkat tanpa mempengaruhi kualitas hidup seseorang, maka tidak sama halnya dengan bagian tubuh lainnya jika dihilangkan, seperti kaki, tulang, mata, dan tangan. Untuk memastikan bagian tubuh tersebut masih dalam kondisi yang dapat bekerja, maka digunakanlah prosthesis.

Prosthesis terdiri dari berbagai ukuran, bentuk, dan fungsi. Beberapa prosthesis berfungsi menunjang kecantikan. Hal ini termasuk silikon yang dimasukkan ke dalam payudara atau tangan. Silikon tersebut dapat memperbaiki bentuk, tetapi tidak dapat membuat bagian tubuh tersebut menjadi berfungsi seperti semula.

Kebanyakan prosthesis digunakan untuk mengembalikan fungsi bagian tubuh yang telah dihilangkan. Prosthesis yang sangat populer digunakan adalah pada bagian tangan dan kaki. Prosethesis untuk tangan dapat terdiri dari prosthesis tangan dan lengan bagian bawah, atau lengan bagian atas, yang direkomendasikan saat sendi pada siku juga hilang atau harus diangkat.

Sebuah prosthesis disebut transtibial saat ia menggantikan bagian tubuh di bawah lutut seperti pada bagian kaki. Namun, jika termasuk bagian lutut dan menghubungkannya ke paha, maka disebut dengan prosthesis transfemoral.

Prosthesis dapat bersifat dapat dipindahkan atau permanen. Prosthesis yang dipasang di bagian dalam tubuh seperti pinggul palsu biasanya bersifat permanen. Sementara sebagian besar prosthesis terdiri dari bagian rongga, poros, dan komponen – komponen untuk meniru melekatnya bagian tibuh ke persendian, beberapa prosthesis menggunakan kabel untuk melekatkan prosthesis ke tubuh.

Selama bertahun tahun, telah terdapat perkembangan dan penelitian yang signifikan untuk meningkatkan desain prosthesis. Beberapa pasien bahkan telah menggunakan lengan robotik dengan elektroda yang terhubung ke saraf tertentu pada otak untuk mendapatkan kendali yang lebih alami.

Siapa yang Membutuhkan Prosthesis & Hasil yang Diharapkan

Amputasi telah menjadi alasan utama mengapa prosthesis digunakan. Menurut perkumpulan orang yang diamputasi, lebih dari 2 juta orang di Amerika Serikat mengalami kehilangan bagian tubuh, dan lebih dari 180,000 amputasi dilakukan di negara tersebut setiap tahunnya.

Perkumpulan ini juga mengungkapkan bahwa kebanyakan kasus kehilangan anggota tubuh disebabkan oleh penyakit yang menyerang saraf pada bagian tubuh tersebut seperti diabetes atau kelainan kardiovaskular. Sementara sekitar 45% disebabkan oleh trauma seperti kecelakaan kendaraan, akibat jatuh, atau tindakan kekerasan. Hanya sekitar 2% yang disebabkan oleh kanker.

Pasien yang telah didiagnosis mengalami osteoporosis, yakni sejenis penyakit yang mengakibatkan tulang menjadi lemah, dapat juga membutuhkan prosthesis di kemudian hari. Penyakit ini menyebabkan kasus patah tulang paling tidak sebanyak 8 juta setiap tahun. Sekitar 80% terjadi di bagian lengan bawah. Lainnya terjadi pada bagian tulang paha, tulang belakang, dan tulang lengan atas.

Hasil yang diharapkan dari penggunaan prosthesis bermacam-macam. Beberapa pasien menghindari penggunaan prosthesis. Sebaliknya, terapis fisik sering merekomendasikan penggunaan prosthesis. Selama rehabilitasi, pasien akan diajarkan bagaimana mendapatkan kembali mobilitas tubuhnya dengan bagian tubuh palsu yang baru dan cara merawat prosthesis.

Biasanya prosthesis dapat digabungkan ke dalam tubuh paling cepat dalam waktu 2 minggu setelah dilakukan operasi atau amputasi.

Cara Kerja Prosthesis

Penggunaan prosthesis bukan sebuah keharusan, sehingga pasien selalu dapat memilih untuk tidak menggunakannya. Namun, kebanyakan dokter sangat merekomendasikannya agar pasien dapat kembali melakukan aktifitas normal setelah menjalani amputasi.

Seorang ahli prosthesis adalah orang yang bertanggung jawab untuk mendesain, mengukur, dan membuat prosthesis tepat dipasang. Ia bekerja sama secara erat dengan dokter dan pasien untuk menentukan jenis prosthesis terbaik bagi pasien tersebut berdasarkan kondisi kondisi tertentu dari pasien.

Beberapa hari setelah amputasi dilakukan, proses desain akan dimulai. Ahli prosthesis biasanya akan mengukur panjang tunggak kemudian membandingkannya dengan dimensi bagian tubuh tersisa yang mash sehat. Ia menggunakan hasil pencitraan dari Xray, CAT, serta pemindaian MRI.

Setelah pengukuran dilakukan, Ia akan membuat cetakan prosthesis menggunakan plaster, dan akan memakan waktu beberapa minggu untuk menyelesaikan prosthesis, walaupun di beberapa Rumah Sakit telah tersedia prosthesis yang telah dibuat sebelumnya, sehingga yang dibutuhkan hanya proses pengepasan.

Selama proses pengepasan, prosthesis dihubungkan dengan tunggak kemudian diatur dan disatukan sampai benar-benar pas. Dalam beberapa kasus, beberapa penyesuaian akan dilakukan supaya benar-benar pas. Pasien lalu dapat mulai menjalani rehabilitasi.

Kemungkinan Resiko & Komplikasi

Prosthesis biasanya tidak memiliki risiko atau komplikasi yang serius. Namun, pasien dapat saja merasakan sakit yang cukup parah serta rasa tidak nyaman pada minggu-minggu awal menggunakan prosthesis, khususnya yang digunakan di tubuh bagian bawah. Hal ini terjadi karena pasien dipaksa untuk membawa beban tubuh bagian atas.

Rujukan:

  • http://livehealthy.chron.com/different-types-prosthetics-1244.html
  • http://www.iofbonehealth.org/facts-statistics
Bagikan informasi ini: