Apa itu Psikosis?

Psikosis adalah gejala umum dari banyak penyakit jiwa. Kondisi itu menyebabkan seseorang menjadi terpisah dari kenyataan dan berhalusinasi. Penderita menjadi sering mendengar dan melihat sesuatu yang tidak ada. Dalam kasus yang jarang terjadi, mereka bahkan mungkin menyentuh atau merasakan hal-hal yang tidak ada. Hal ini terjadi karena mereka tidak mengetahui mana yang nyata dan tidak, mereka cenderung bereaksi terhadap situasi yang berbeda dan menunjukkan perilaku abnormal. Misalnya, mereka mungkin berdebat dengan orang yang tidak ada.

Penyakit mental yang gejala khasnya adalah psikosis disebut gangguan psikotik. Ini termasuk:

  • Skizofrenia - Gangguan mental di mana seseorang mengalami kesulitan kognitif. Hal ini sering merupakan kondisi seumur hidup yang membutuhkan perawatan jangka panjang.

  • Gangguan delusional - Membuat seseorang sangat percaya pada hal-hal yang tidak hadir atau nyata. Namun, kelainan ini bisa sangat ringan. Banyak pasien masih bisa hidup normal. Mereka masih bisa menjalankan tanggung jawab sehari-hari mereka meski ada gangguan.

  • Gangguan bipolar - Seseorang dengan kelainan ini memiliki perubahan suasana hati yang ekstrem dan tak terduga. Mereka bisa sangat bahagia pada satu saat dan tertekan di hari berikutnya.

  • Psikosis akibat obat - Dipicu oleh substansi yang menyebabkan perubahan mood yang tidak normal. Ini termasuk obat yang tergolong downers dan stimulan. Gejala psikosis biasanya hilang begitu efek dari zat yang dikonsumsi hilang.

  • Psikosis organik - Terjadi bila bagian otak yang berfungsi sebagai pengatur pikiran mengalami kerusakan. Kerusakan itu bisa disebabkan oleh luka kepala yang parah atau sakit fisik.

  • Gangguan psikotik singkat - Terjadi bila seseorang mengalami kejadian yang dapat mengubah hidup. Seperti kehilangan pekerjaan atau mengalami perceraian. Gejalanya bersifat sementara. Seringkali, gangguan tersebut hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Penyebab Psikosis

Ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan psikosis. Di antaranya:

  • Penyalahgunaan narkoba atau alkohol

  • Kejadian traumatis - Contohnya adalah kematian orang yang dicintai dan pelecehan seksual.

  • Penyakit otak - Ini termasuk tumor otak dan stroke.

  • Infeksi otak

  • Genetika - Memiliki kerabat dekat yang menderita psikosis (seperti orang tua atau saudara kandung) dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan kondisi yang sama.

Gejala Utama Psikosis

Seseorang dengan psikosis biasanya menunjukkan gejala-gejala ini:

  • Melihat dan mendengar hal-hal yang tidak ada

  • Khawatir secara berlebihan tanpa alasan yang jelas

  • Terus-menerus merasa mereka diawasi. Beberapa bahkan merasa bahwa orang lain berada di luar sana untuk menyakiti mereka.

  • Menderita depresi. Mereka selalu merasa murung dan sedih, sering kali karena alasan yang tidak jelas

  • Tidak dapat merasakan emosi yang normal. Mereka acuh tak acuh terhadap perasaan orang lain. Mereka juga tidak merasakan emosi yang dirasakan kebanyakan orang selama kejadian tertentu. Misalnya, mereka tidak merasa senang karena mereka memiliki bayi baru atau tidak merasa sedih saat seseorang yang mereka cintai meninggal dunia.

  • Tidak peduli dengan penampilan dan kebersihan diri mereka

  • Lebih suka sendirian daripada dengan orang lain. Beberapa pasien bekerja ekstra untuk menghindari kontak sosial apa pun.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Seseorang yang menunjukkan gejala seperti yang disebutkan sebelumnya harus diperiksa oleh penyedia layanan kesehatan mental sesegera mungkin. Diagnosis dini dapat mencegah gangguan meningkat. Ini juga merupakan kunci untuk menghindari sejumlah komplikasi.

Psikolog dan psikiater akan mendiagnosa dan mengobati gangguan tersebut. Seringkali, mereka meminta pasien untuk datang dengan orang yang dicintai karena umumnya, pasien kurang memiliki wawasan tentang kondisi yang dideritanya.

Untuk mengetahui apa yang menyebabkan gejala tersebut, dokter akan meninjau riwayat kesehatan pasien. Mereka juga akan membahas gaya hidup pasien. Sejumlah tes dan prosedur medis juga digunakan untuk menyingkirkan masalah medis lainnya.

Psikosis diobati dengan:

  • Obat antipsikotik - Obat ini bekerja mengendalikan gejala. Ada dua jenis obat ini: generasi pertama dan kedua. Antipsikotik generasi pertama, pertama kali digunakan pada tahun 1950an. Mereka bekerja dengan cara memblokir tipe tertentu dari reseptor dopamin (D2). Antipsikotik generasi kedua juga memblokir reseptor D2 serta 5-HT2A, reseptor serotonin. Keduanya terbukti efektif, namun bisa menimbulkan sejumlah efek samping. Keduanya meningkatkan risiko pergerakan otot tanpa disadari pasien dan diabetes tipe 2. Obat-obat itu juga bisa menyebabkan penambahan berat badan dan kelainan lipid. Penting untuk dicatat bahwa obat ini hanya mengobati gejala psikosis. Keduanya tidak untuk kondisi medis lainnya.

  • Terapi perilaku kognitif (CBT) - Terapi medis paling baik dikombinasikan dengan CBT. Ini adalah terapi bicara dimana konselor berfokus untuk membantu pasien memahami perilaku mereka. Mereka juga mengajarkan beberaoa teknik pada pasien tentang bagaimana mengatasi masalah mereka dengan lebih baik.

Prognosis

Dengan menggabungkan CBT dan konsumsi obat, prognosis pasien psikosi jangka panjang cenderung baik. Namun akan lebih baik, jika kondisi diketahui lebih dini dan segera ditangani.

Rujukan:

  • Perälä J, Suvisaari J, Saarni SI, et al. Lifetime Prevalence of Psychotic and Bipolar I Disorders in a General Population. Arch Gen Psychiatry. 2007;64(1):19-28. doi:10.1001/archpsyc.64.1.19.

  • Cutajar, M., Mullen, P. E., Ogloff, J. R. P., Thomas, S. D., Wells, D. L., & Spataro, J. (2010). Schizophrenia and other psychotic disorders in a cohort of sexually abused Children. Archives of General Psychiatry, 67(11), 1114-1119.

  • National Institute of Mental Health: “Recovery After an Initial Schizophrenia Episode (RAISE) Questions & Answers.”

Bagikan informasi ini: