Apa itu Regurgitasi Pulmonal?

Regurgitasi paru (RP) adalah suatu kondisi yang menggambarkan katup pulmonal yang bocor. Katup pulmonal adalah salah satu dari empat katup jantung. Tiga lainnya adalah katup mitral, aorta, dan trikuspid. Masing-masing memainkan peran penting dalam sirkulasi darah normal. Dengan setiap detak jantung, katup ini terbuka, membiarkan darah mengalir ke depan. Mereka kemudian menutup rapat agar darah tidak mengalir ke belakang. RP terjadi saat tutup klep pulmonal tidak menutup dengan benar. Hal ini menyebabkan darah mengalir kembali ke ventrikel kanan alih-alih mengalir ke paru-paru.

Kondisinya sangat umum. Menurut statistik, lebih dari 90% populasi memiliki kasus kondisi ringan sampai sedang. Tapi karena sering tidak menimbulkan gejala, banyak yang tetap tidak terdiagnosis. Banyak kasus secara tidak sengaja ditemukan saat pasien menjalani tes kesehatan untuk masalah kesehatan yang tidak terkait. Ini menunjukkan, banyak pasien dengan RP mampu menjalani kehidupan normal.

Penyebab Regurgitasi Pulmonal

Penyebab paling umum dari RP adalah cacat jantung yang hadir saat lahir dan hipertensi pulmonal (HTP). HTP mengacu pada tekanan darah tinggi yang persisten di arteri ke paru-paru. Ini memaksa jantung untuk bekerja lebih keras agar bisa mendorong darah masuk. Sementara, cacat jantung yang hadir saat lahir adalah kelainan yang memengaruhi dinding dan katup jantung. Cacat ini juga dapat memengaruhi arteri dan vena di dekat organ. Sejumlah kasus PR dikaitkan dengan Tetralogi Fallot. Ini adalah kelainan jantung yang langka dan kompleks. Ini menyebabkan darah terdeoksigenasi mengalir keluar dari jantung dan bagian tubuh lainnya.

Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh hal lain yang kurang umum, seperti:

  • Endokarditis infektif - Infeksi ini disebabkan oleh bakteri yang telah melakukan perjalanan ke jantung melalui aliran darah. Bakteri bisa menetap di katup pulmonal atau di lapisan jantung.

  • Masalah katup pulmonal - Beberapa pasien terlahir dengan klep paru yang menebal, cacat, atau menyempit. Ini membatasi jumlah darah yang mengalir melalui katup. Dalam kasus yang sangat jarang, katup terbentuk dengan buruk atau hilang.

  • Komplikasi prosedur jantung - PR bisa terjadi sebagai komplikasi beberapa prosedur medis. Contohnya adalah valvuloplasti balon yang dimaksudkan untuk melebarkan katup pulmonal yang menyempit. Selain itu, katup juga bisa rusak saat pasien menjalani operasi jantung dimaksudkan untuk memperbaiki beberapa jenis cacat jantung.

Gejala Utama Regurgistasi Pulmonal

Banyak pasien dengan RP tidak menunjukkan gejala apapun. Dalam kasus seperti itu, RP tidak menimbulkan kekhawatiran. Namun, dalam kasus parah, pasien sering mengalami kelelahan, sesak napas, dan nyeri dada yang terus-menerus. Gejala lainnya termasuk detak jantung abnormal dan pingsan. Saat pasien menjalani pemeriksaan fisik rutin, dokter mendengar jenis murmur tertentu saat mereka memeriksa detak jantung pasien dengan menggunakan stetoskop. Murmur adalah suara yang tidak biasa yang terjadi di antara detak jantung. Kedengarannya seperti suara mendesis atau mendesing. Ini adalah pertanda adanya masalah dalam sirkulasi darah.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang menunjukkan gejala seperti yang disebutkan di atas, perlu pergi ke dokter rpimer mereka untuk mendapatkan menjalani pemeriksaan awal. Jika dokter mereka mencurigai masalah yang berhubungan dengan jantung, mereka dirujuk ke spesialis jantung.

Mendiagnosis kondisi dimulai dengan pemeriksaan fisik. Spesialis jantung akan mendengarkan detak jantung pasien dengan menggunakan stetoskop. Murmur jantung biasanya pertanda pertama bahwa pasien memiliki RP. Dokter juga akan meninjau riwayat kesehatan pasien. Ini untuk mengetahui apakah ada riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan/atau hipertensi pulmonal.

Tes yang digunakan untuk mengonfirmasi RP mencakup ekokardiografi Doppler (EKG). EKG adalah tes standar yang digunakan dalam kardiologi (perawatan jantung). Tes ini menggunakan teknologi ultrasound untuk menilai kesehatan jantung dan pembuluh darahnya. Tes ini dapat menghasilkan citra hati dan memungkinkan dokter menentukan kecepatan dan arah aliran darah. Sehingga, tes ini sangat berguna karena bisa mendeteksi bahkan sejumlah kecil kebocoran katup. Tes ini juga membantu dokter menilai kondisi ventrikel kanan. Oleh karenanya, dokter dapat mengkonfirmasi apakah ventrikel kanan membesar atau menebal.

Pada pasien dengan kasus RP yang parah, magnetic resonance imaging (MRI) juga dapat digunakan. Tes ini membantu dokter menentukan apakah ada kebutuhan untuk operasi.

Pengobatan RP ditentukan bedasarkan penyebabnya. Pilihan pengobatan meliputi terapi medis dan posedur tertentu. Contohnya adalah balon valvuloplasty bagi mereka yang memiliki katup pulmonal yang menyempit. Pasien dengan kasus ringan mungkin tidak memerlukan perawatan. Namun, kondisinya dapat dipantau dengan EKG berkala untuk memastikan tidak semakin parah.

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, penggantian katup pulmonal dilakukan. Dalam rposedur ini, katup pulmonal berpenyakit dihilangkan dan diganti. Dokter dapat menggunakan katup biologis atau mekanis yang terbuat dari bahan buatan. Prosedurnya bisa dilakukan melalui operasi jantung terbuka. Ini membutuhkan sayatan di dinding dada. Hal ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang kurang invasif yang menggunakan beberapa sayatan kecil. Teknik tersebut meminimalkan banyak risiko operasi terbuka. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada keahlian, pengalaman spesialis bedah.

Prognosis untuk pasien dengan RP berat bergantung pada sejumlah faktor. Ini termasuk penyakit yang mendasari, jika katup lain juga rusak, dan seberapa cepat pasien mendapat pengobatan.

Rujukan:

  • Types of replacement heart valves. American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/HeartValveProblemsandDisease/Types-of-Replacement-Heart-Valves_UCM_451175_Article.jsp#.WBjnUWXT8lY.

  • Single ventricle defects. American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/CongenitalHeartDefects/AboutCongenitalHeartDefects/Single-Ventricle-Defects_UCM_307037_Article.jsp#.WCyKrWVNwlZ.

Bagikan informasi ini: