Apa itu Stenosis Pulmonal?

Stenosis pulmonal adalah penyempitan katup atau arteri paru-paru yang mengakibatkan terhambatnya aliran darah dari jantung ke paru-paru. Kondisi ini memaksa otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa lebih banyak darah. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan penebalan otot jantung, yang meningkatkan risiko pasien gagal jantung.

Stenosis pulmonal biasanya terjadi sebelum kelahiran (cacat bawaan), tetapi juga bisa terjadi karena komplikasi penyakit lain seperti demam rematik dan sindrom karsinoid. Penyakit ini dapat diobati dengan cara melebarkan katup atau arteri yang menyempit melalui prosedur berbasis kateter ataupun melalui bedah perbaikan atau penggantian katup yang rusak menggunakan katup jaringan (bioprostetik) atau katup mekanis.

Penyebab Stenosis Pulmonal

Stenosis pulmonal sebagai cacat bawaan terjadi saat katup gagal berkembang dengan baik selama periode kehamilan. Hal ini sering ditemukan pada anak-anak yang juga memiliki kelainan jantung kongenital dan kondisi genetik langka, terutama sindrom Noonan dan Williams.

Sementara, stenosis pulmonal pada orang dewasa bisa terjadi dikarenakan dari kondisi medis lain yang cenderung dapat meningkatkan risiko cedera katup jantung. Termasuk di antaranya:

  • Sindrom karsinoid - Terjadi ketika tumor karsinoid melepaskan bahan kimia tertentu ke dalam aliran darah, menyebabkan katup jantung menebal dan akhirnya bocor. Sekitar 40% pasien dengan kondisi ini mengembangkan penyakit jantung karsinoid yang berhubungan dengan disfungsi katup jantung.

  • Demam reumatik - Menyebabkan penyakit jantung rematik yang umumnya menyerang ruang jantung. Hal ini dapat menyebabkan stenosis katup dan regurgitasi serta kerusakan pada otot jantung.

Gejala Utama Stenosis Pulmonal

Pasien dengan stenosis paru-paru ringan sampai dengan sedang biasanya asimptomatik atau tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, pada kasus yang parah di mana sejumlah besar darah tidak dapat melewati katup atau arteri pulmonal, lidah dan bibir bayi yang mengidap stenosis paru-paru mungkin akan tampak kebiruan (sianotik), yang mengindikasikan bahwa jumlah oksigen yang memasuki paru-parunya tidak mencukupi. Ini adalah keadaan darurat medis di mana prosedur bedah perlu segera dilaksanakan.

Sementara, pada pasien dewasa umumnya menunjukkan gejala nyeri dada, kelelahan, sesak napas, atau bahkan pingsan.

Jika tidak ditangani dengan baik, stenosis pulmonal dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang mengancam jiwa, termasuk pembesaran jantung (yang dapat melemahkan jantung secara permanen), infeksi, gagal jantung, dan bahkan kematian.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan Tersedia

Stenosis pulmonal sering dicurigai apabila murmur jantung terdeteksi pada saat bayi melakukan pemeriksaan rutin. Murmur jantung, merupakan gejala umum penyakit jantung kongenital, mengacu pada suara desah atau suara janggal lainnya yang dapat didengar melalui stetoskop selama pemeriksaan fisik. Untuk mengetahui penyebab murmur tersebut, dokter biasanya merujuk pasien untuk menjalani tes berikut:

  • Rontgen dada

  • Ekokardiogram

  • Elektrokardiogram (EKG)

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

  • Kateterisasi jantung

Hasil dari tes di atas dapat membantu dokter menentukan apakah gejalanya disebabkan oleh penyempitan katup atau arteri pulmonal atau tidak. Tes yang sama juga digunakan untuk menilai tingkat keparahan dari kondisi tersebut.

Untuk kasus ringan sampai sedang, dokter biasanya menyarankan untuk menunggu, namun tetap melakukan pengawasan aktif terhadap pasien, di mana pasien dipantau dan diminta untuk menjalani tes dan ujian berkala guna memastikan bahwa kondisinya tidak memburuk dan dapat menyebabkan komplikasi. Hal ini sering dianjurkan bila pengobatan yang ada lebih besar risiko dibandingkan manfaatnya.

Sementara, pada kasus parah, pasien langsung dianjurkan untuk menjalani pembedahan, seperti:

  • Valvuloplasti balon - Prosedur invasif minimal yang bertujuan untuk membuka atau memperlebar katup atau arteri paru yang menyempit. Seringkali prosedur ini menjadi pengobatan pilihan untuk bayi dan anak kecil karena minim risiko. Untuk prosedur ini, ahli bedah akan memasukkan kateter tipis ke dalam pembuluh darah di kaki dan kemudian mengarahkannya ke jantung dengan menggunakan panduan pencitraan. Saat kateter mencapai katup yang menyempit, balon kecil di ujung kateter akan dikembangkempiskan sampai pembukaan katup melebar dan aliran darah menjadi normal kembali. Meskipun prosedurnya invasif minimal, pasien mungkin diminta untuk menginap setidaknya satu malam di rumah sakit agar dapat terus dipantau secar ketat. Valvuloplasti balon sangat efektif terutama bila dilakukan pada pasien yang lebih muda. Namun, prosedur ini tidak memberikan jaminan bahwa katup tidak Akan menyempit lagi di kemudian hari. Jika memang stenosis pulmonal kambuh, pasien perlu menjalani pembedahan untuk mengganti katup atau arteri.

  • Bedah jantung terbuka - Jika pasien memiliki masalah jantung lain yang memerlukan bedah perbaikan atau dianggap bukan kandidat yang cocok untuk menjalani valvuloplasti balon, bedah jantung terbuka dilakukan. Prosedur ini memerlukan sayatan dada terbuka, yang memberi dokter bedah akses ke otot jantung, arteri, dan katup. Prosedur ini dilakukan dengan bius total dengan jangka waktu yang beragam, tergantung pada jumlah kecacatan yang perlu dikoreksi. Namun umumnya memakan waktu beberapa jam.

Jika kerusakan katup atau arteri tidak bisa diperbaiki, maka akan diganti dengan katup mekanis yang terbuat dari bahan sintetis atau katup biologis yang terbuat dari katup babi atau sapi. Kedua pilihan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dokter bedah akan berdiskusi dengan pasien atau orang tua pasien atau wali sebelum prosedur dilakukan. Katup yang dibuat terbuat dari bahan sintesis cenderung kuat dan bisa bertahan selama beberapa tahun. Namun, pasien harus berkomitmen untuk mengonsumsi obat pengencer darah selama sisa hidupnya untuk mencegah pembekuan darah. Di sisi lain, katup jaringan atau bioprostetik tidak memerlukan konsumsi obat pengencer darah jangka panjang tapi katup tersebut perlu diganti di kemudian hari karena bisa mengalami kerusakan juga.

Bila dibandingkan dengan valvuloplasti balon, bedah jantung terbuka jauh lebih berisiko karena dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi serius, termasuk:

  • Bekuan darah

  • Perdarahan

  • Aritmia

  • Serangan jantung

  • Stroke

  • Infeksi

Rujukan:

  • Options for heart valve replacement. American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/HeartValveProblemsandDisease/Options-for-Heart-Valve-Replacement_UCM_450816_Article.jsp#.WBjmPmXT8lZ.

  • Pulmonary valve stenosis http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/CongenitalHeartDefects/AboutCongenitalHeartDefects/Pulmonary-Valve-Stenosis_UCM_307034_Article.jsp

Bagikan informasi ini: