Apa itu Arteritis Sel Raksasa?

Arteritis sel raksasa adalah gabungan kondisi medis yang ditandai dengan pembuluh darah meradang yang menyebabkan penyempitan kapiler darah sehingga meningkatkan risiko terhambatnya aliran darah. Kondisi ini merupakan bagian dari kelompok penyakit yang dikenal sebagai vaskulitis atau arteritis, dengan perbedaan utama adalah jenis pembuluh darah yang terpengaruh. Akibat arteritis sel raksasa, pembuluh darah yang terpengaruh adalah yang terletak pada daerah sekitar kulit kepala, kepala, dan pelipis, terutama lapisan arteri. Karena lokasinya, arteritis sel raksasa juga disebut arteritis temporal atau kranial.

Arteritis sel raksasa dapat menyebabkan nyeri rahang, sakit kepala, dan kaburnya penglihatan. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya penglihatan dan stroke. Namun, jika perhatian medis segera diperoleh dan jika kondisi ini ditangani dengan benar, risiko kambuhnya sangatlah tipis.

Penyebab Arteritis Sel Raksasa

Penyebab utama arteritis sel raksasa belum diketahui. Kondisi ini terjadi ketika lapisan beberapa bagian arteri meradang, yang dapat menyebabkan terhalangnya aliran darah. Namun, meskipun apa yang terjadi di dalam arteri ketika kondisi muncul diketahui, tidak ada kesimpulan apa yang memicu peradangannya.

Namun, gejala kondisi ini dikaitkan dengan peradangan pada arteri. Pembengkakan umumnya terjadi pada arteri temporal kepala, yang terletak di dekat telinga dan terus ke atas hingga kulit kepala. Terdapat kasus di mana hanya sebagian dari arteri yang membengkak, sehingga bagian di antara bagian yang terpengaruh tetap dalam ukuran normal.

Meskipun kurangnya informasi tentang penyebabnya, arteritis sel raksasa sering dikaitkan dengan polimialgia reumatik (PMR). Bahkan, dalam banyak kasus, terjadinya arteritis sel raksasa bersamaan dengan terjadinya PMR. Sekitar 5-15% pasien dengan PMR juga mungkin mengalami arteritis sel raksasa, dan sekitar 50% pasien yang awalnya memiliki arteritis sel raksasa juga mengalami gejala PMR. Penderita polimialgia reumatik mengalami kaku dan nyeri pada leher, pinggul, dan bahu.

Beberapa orang juga telah diamati berisiko lebih tinggi terserang penyakit ini dan ini termasuk orang yang beusia di atas 50 tahun. Dan juga, penyakit ini lebih umum terjadi pada wanita dan orang Eropa Utara, terutama orang Skandinavia.

Gejala Utama Arteritis Sel Raksasa

Untuk memahami asal-usul gejala yang termanifestasi oleh penderita arteritis sel raksasa, penting untuk memahami peran yang dilakukan oleh pembuluh darah pada tubuh. Fungsi utama dari arteri tubuh (disebut aorta) adalah untuk memungkinkan darah beroksigen mengalir dari jantung. Aorta dibagi menjadi arteri yang lebih kecil yang tugas utamanya adalah untuk mengalirkan darah ke semua bagian tubuh lainnya, termasuk otak dan organ internal. Bagian ini adalah arteri yang meradang ketika arteritis sel raksasa terjadi. Karena fungsi arteri, bagian darah menjadi terpengaruh kondisi ini, yang kemudian menyebabkan komplikasi dan gejala, seperti:

  • Sakit kepala terlokalisir di sekitar pelipis atau di depan kepala
  • Nyeri rahang atau klaudikasio rahang
  • Hilangnya penglihatan
  • Penglihatan ganda
  • Demam
  • Otot kaku
  • Nyeri pada kulit kepala
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

Gejala-gejala arteritis sel raksasa cenderung beragam dalam setiap kasusnya. Pada beberapa kasus, gejalanya dapat terlihat seperti serangan flu dengan semua gejala biasa, sedangkan pada beberapa kasus, gejalanya juga dapat menyebabkan perasaan tidak sehat. Sakit kepala yang disebabkan oleh arteritis sel raksasa ditandai dengan rasa sakit dan nyeri pada kepala. Rasa sakit ini biasanya terjadi pada satu atau kedua pelipis. Ketika seseorang mengalami nyeri yang menekan, orang tersebut mungkin merasa tidak nyaman bahkan ketika menyisir rambut atau meletakan kepala di atas bantal karena kulit kepala terasa meradang.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Mendapatkan perhatian medis dengan segera untuk mengobati arteritis sel raksasa dapat mencegah komplikasi seperti stroke dan kebutaan. Namun, kondisi ini sangat sulit untuk didiagnosa karena sebagian besar gejalanya mirip dengan yang disebabkan oleh banyak penyakit lainnya. Untuk menentukan apakah pasien menderita arteritis sel raksasa, dokter biasanya melakukan berbagai macam pemeriksaan termasuk:

  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan darah
  • Biopsi
  • Resonansi Magnetik Angiografi
  • USG Doppler
  • Tomografi emisi positron

Pengobatan arteritis sel raksasa melibatkan obat kortikosteroid seperti prednisone. Obat ini diperlukan dalam dosis tinggi. Kebanyakan dokter cenderung meresepkan beberapa jenis obat bahkan sebelum membuat diagnosis resmi untuk meringankan gejala dan mencegah munculnya gejala lain yang lebih serius, seperti kehilangan penglihatan. Dokter sering meresepkan kortikosteroid, yang dikenal sebagai obat anti radang yang kuat dengan efek yang mirip dengan hormon yang diproduksi kelenjar adrenal. Obat ini dikenal karena keampuhannya dalam mengurangi rasa sakit. Namun, jika digunakan dalam jangka lama, kortikosteroid dapat menyebabkan efek samping yang serius, terutama jika dikonsumsi dengan dosis tinggi.

Setelah mengonsumsi obat yang diresepkan, pasien mungkin mulai merasa lebih baik dalam beberapa hari. Namun, obat masih harus terus dikonsumsi secara terus menerus setidaknya selama satu tahun, tergantung pada situasi pasien. Dokter mungkin mulai menurunkan dosis yang diresepkan setelah bulan pertama, dan terus melakukannya secara bertahap sampai dosis terendah didapat. Kortikosteroid dapat mengendalikan peradangan dalam arteri dan meringankan gejala yang ditimbulkannya. Untuk menentukan apakah obat bekerja, dokter jaga secara teratur akan mengukur peradangan pada arteri melalui beberapa pemeriksaan termasuk pemeriksaan CPR.

Rujukan:

  • Hellmann DB. Giant cell arteritis, polymyalgia rheumatica, and Takayasu's arteritis. In: Firestein GS, Budd RC, Gabriel SE, et al, eds. Welley's Textbook of Rheumatology. 9th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2012:chap 88.
Bagikan informasi ini: