Apa itu Divertikulosis?

Divertikulosis adalah timbulnya kantung bernama divertikula dalam usus besar (kolon). Divertikulum (singular) biasanya tidak menyebabkan gejala apapun, namun dapat terkena infeksi dan menyebabkan komplikasi seperti divertikular atau pendarahan rektum dan divertikulitis. Namun, hanya sekitar 20% pasien divertikulosis yang akan mengalami komplikasi tersebut.

Usus besar terdiri dari tiga lapisan; lapisan paling dalam yang bernama mukosa, lapisan tengah yang bernama muskularis, dan lapisan yang paling luar yang bernama serosa. Divertikulum pada usus besar seringkali disebut sebagai divertikulum palsu karena divertikulum ini tidak timbul pada ketiga lapisan usus besar, melainkan hanya pada lapisan yang paling luar.

Divertikulosis adalah kondisi yang umum, terutama di negara Barat. Di Amerika Serikat, diperkirakan ada 5-10% orang dewasa yang terkena kondisi ini sebelum mencapai usia 50 tahun. 30% orang dewasa akan mengalami kondisi ini setelah usia 50. 50% akan mengalami kondisi ini pada usia 70, dan 66% akan terkena divertikulosis pada usia 85.

Sebagian besar pasien tidak akan menyadari bahwa mereka memiliki divertikula karena tidak adanya gejala. Bahkan, sebagian besar pasien baru bisa mengetahui adanya divertikula setelah menjalani pemeriksaan kesehatan untuk kondisi yang lain.

Penyebab Divertikulosis

Divertikulosis sendiri tidak perlu dikhawatirkan. Namun saat kondisi ini berkembang menjadi divertikulitis atau komplikasi lainnya, maka kondisi ini harus diobati.

Penyebab yang paling umum dari timbulnya divertikula pada usus besar adalah menegangnya usus besar akibat konstipasi. Tekanan yang tinggi pada usus akan memaksa mukosa untuk menembus muskularis dan akhirnya menyebabkan benjolan di serosa (lapisan luar usus).

Alasan pasti mengapa hal ini bisa terjadi masih menjadi misteri, namun peneliti percaya bahwa kekurangan serat makanan dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini. Serat dapat membantu mencegah konstipasi, yang seringkali menyebabkan tekanan berlebih pada usus. Oleh karena itu, serat berperan besar dalam mencegah timbulnya divertikulum.

Namun, apabila divertikula telah timbul, maka akan sulit mencegah terjadinya peradangan yang dapat menyebabkan infeksi dan penyakit. Peradangan dapat terjadi secara mendadak dan tanpa peringatan. Saat inilah, gejala divertikulosis akan mulai terjadi.

Gejala Utama Divertikulosis

Harus dipahami bahwa divertikulosis tanpa komplikasi biasanya tidak menunjukkan gejala apapun. Dalam kasus yang langka, pasien akan mengalami nyeri perut, kebiasaan usus yang berubah, atau perut kembung. Namun, gejala ini hanya bersifat sementara dan dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti sindrom iritasi usus

Setelah divertikulosis berkembang menjadi divertikulitis akut, pasien akan menyadari timbulnya gejala seperti nyeri pada bagian tubuh kiri bawah, mual dan muntah, konstipasi, diare, kesulitan buang air kecil, keringat dingin dan demam, serta suatu kondisi bernama leukositosis.

Divertikulitis dianggap sebagai penyakit yang serius, terutama karena ketika kantung divertikula pecah, bakteri dan feses akan menyebar ke rongga perut. Dalam beberapa kasus, infeksi biasanya hanya terjadi pada dinding usus besar dan dapat diobati dengan menggunakan antibiotik, cairan, dan istirahat di rumah. Namun, apabila infeksi sudah menyebar dan menimbulkan abses, pasien harus menjalani tindakan operasi untuk menghilangkan abses dan memperbaiki kondisi ini.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Gejala divertikulitis memiliki kemiripan dengan penyakit lainnya, oleh karena itu kemungkinan besar orang pertama yang akan Anda temui adalah dokter Anda, yang sudah familiar dengan riwayat kesehatan Anda, yang merupakan suatu hal yang menguntungkan.

Setelah memeriksa riwayat kesehatan Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, yang dapat meliputi pemeriksaan rektum. Apabila dokter mulai mencurigai adanya divertikulitis, ia akan meminta pasien menjalani tes lain seperti sinar-X, CT-scan, ultrasound, kolonoskopi, dan tes darah untuk memastikan keberadaan infeksi.

Apabila pendarahan rektum sudah parah, dokter dapat memilih untuk melakukan angiografi untuk mengetahui letak sumber pendarahan dan menghentikan pendarahan. Namun, tidak semua kasus divertikulitis bersifat parah. Bahkan, dalam kasus yang lebih tidak serius, pasien tidak harus dirawat di rumah sakit. Divertikulitis yang tidak serius hanya akan diobati dengan antiobiotik dan obat penghilang rasa sakit, apabila dibutuhkan. Istirahat di rumah, meminum banyak cairan, dan meningkatkan konsumsi makanan kaya serat seharusnya sudah dapat mengobati kondisi ini.

Apabila dokter telah memastikan keberadaan infeksi dan abses, maka operasi akan dilakukan. Tindakan yang harus dilakukan saat operasi akan bergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. Apabila abses tetap tidak dapat diangkat, dokter bedah akan mengeluarkan cairannya dengan menggunakan jarum.

Dalam kasus yang parah, seperti abses yang masuk ke rongga perut (peritonitis), usus akan dibersihkan, dan apabila ada penyumbatan, maka penyumbatan tersebut akan dihilangkan. Peritonitis adalah kondisi yang serius karena abses pada rongga perut akan menyebabkan menyebarnya infeksi. Apabila hal ini terjadi, kondisi ini dapat menjadi fatal.

Divertikulitis juga dapat menyebabkan terjadinya fistula, yang merupakan hubungan yang tidak normal antar organ tubuh. Operasi juga akan dibutuhkan untuk menghilangkan fistula.

Sebagian besar kasus divertikulosis tidak akan terdeteksi sebelum akhirnya ditemukan saat pemeriksaan kesehatan yang tidak berhubungan dengan kondisi ini. Namun, hal ini tidak berarti kondisi ini tidak dapat dicegah. Langkah pencegahan yang pertama adalah menjaga kebiasaan usus yang normal, yang berarti Anda harus menghindari menegangnya usus dan konstipasi. Untuk mencegah hal tersebut, Anda harus meningkatkan konsumsi serat, meminum banyak cairan, dan berolahraga secara teratur.

Rujukan:

  • Fox JM, Stollman NH. Diverticular disease of the colon. In: Feldman M, Friedman LS, Sleisenger MH, eds. Sleisenger & Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 117.

  • Prather C. Inflammatory and anatomic diseases of the intestine, peritoneum, mesentery, and omentum. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 144.

Bagikan informasi ini: