Apa itu Rheumatoid Arthritis pada Remaja?

Juvenile Rheumatoid Arthritis (JRA) atau rheumatoid arthritis pada remaja adalah bentuk autoimun arthritis yang memengaruhi anak-anak. Juga dikenal sebagai juvenile idiopathic arthritis, JRA adalah kondisi peradangan sendi, paling sering memengaruhi lutut dan sendi terpencil pada tangan dan kaki. Hal ini ditemukan pada anak-anak yang berusia lebih muda dari 16 tahun, dengan gejala yang berlangsung selama minimal 6 minggu. Rheumatoid arthritis dapat terjadi setiap saat selama masa kanak-kanak, namun pada umumnya menimpa anak-anak berusia 1 sampai 3 tahun. Hal ini lebih sering terlihat pada wanita dan ras Kaukasia. Lebih dari 200.000 anak-anak yang tinggal di Amerika Serikat terpengaruh dengan kondisi ini. Hal ini terjadi pada sekitar 1 per 1.000 anak.

Ada tiga jenis juvenile rheumatoid arthritis; Pauciarticular atau oligoartikular JRA adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi kurang dari lima sendi. Selain itu, ada Polyarticular JRA yang terjadi pada sekitar 30% pasien dan memengaruhi setidaknya lima sendi. Pasien dengan polyarticular JRA dapat didiagnosis positif untuk faktor rheumatoid, sebuah antibodi spesifik yang ditemukan dalam darah. Jenis terakhirnya adalah sistemik JRA. Jenis ini biasanya berhubungan dengan terjadinya demam, dan dapat memengaruhi organ-organ lain, seperti hati dan limpa.

Penyebab Rheumatoid Arthritis pada Remaja

Masih belum ada penyebab spesifik rheumatoid arthritis remaja. JRA adalah gangguan autoimun, yang berarti bahwa tubuh menyerang jaringan sehatnya sendiri, khususnya sendi. Proliferasi sel imun dan infiltrasi ke sinovium atau ruang sendi terjadi, mengakibatkan peradangan sendi.

Faktor genetik bisa berpengaruh. Individu yang memiliki anggota keluarga yang didiagnosa berpenyakit autoimun lebih mungkin untuk mengembangkan kondisi ini. Berbagai gen telah dikaitkan dengan perkembangannya, dan saat ini masih sedang dipelajari. Teori saat ini adalah bahwa rheumatoid arthritis berkembang pada pasien dengan predisposisi genetik dan yang terpapar faktor lingkungan tertentu, seperti virus.

Gejala Utama Rheumatoid Arthritis pada Remaja

Juvenile Rheumatoid arthritis awalnya muncul dengan gejala non-spesifik. Pasien melemah dan memiliki nafsu makan yang buruk, juga mengalami penurunan aktivitas fisik, Selain itu, pasien mungkin mengalami demam dan ruam. Beberapa anak terlihat pincang, yang mungkin terjadi karena sakit. Nyeri sendi biasanya lebih parah di pagi hari yang lebih dikenal sebagai kaku pagi. Nyeri akhirnya bisa terasa semakin menyakitkan di sepanjang hari.

Gejala utama dari juvenile rheumatoid arthritis adalah peradangan pada sendi, terutama lutut, pergelangan kaki atau pergelangan tangan. Lalu peradangan ini melibatkan sendi lain, seperti bahu, pinggul, tulang belakang dan bahkan rahang. Peradangan mengakibatkan pembengkakan, eritema atau kemerahan, dan nyeri di daerah yang bemasalah. Hal ini juga dapat mengakibatkan sendi bergerak secara terbatas atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Masalah dalam perkembangan tulang dan pertumbuhan dapat terjadi, mengakibatkan perbedaan panjang kaki. Lempeng pertumbuhan pada tulang pada anak-anak dapat rusak, sehingga mengakibatkan tulang-tulang menyatu lebih awal dan menghambat pertumbuhan. Kontraktur sendi dapat berkembang tanpa perawatan yang memadai. Kontraktur ini cacat permanen yang disebabkan sendi berada dalam posisi tertentu untuk jangka waktu yang lama.

Selain gejala muskuloskeletal dan sendi, juvenile rheumatoid arthritis juga dapat memiliki manifestasi lain, seperti radang mata, juga dikenal sebagai uveitis. Jika tidak terkendali, dapat mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kerusakan permanen pada mata.

Spektrum juvenile rheumatoid arthritis berkisar dari gangguan fungsi tubuh yang terbatas sampai penyakit kronis. “Flare”, dimana gejala memburuk, dan remisi, dimana gejala membaik, cukup umum di JRA. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa minggu dan hilang dengan sendirinya, meskipun demikian gejala dapat kambuh lagi. Penyakit ini hilang saat dewasa pada lebih dari 50% anak-anak yang mengidap JRA. Namun, dalam bentuk yang lebih parah, kondisi dapat bertahan dan menjadi kondisi seumur hidup.

Siapa yang Perlu Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan juvenile rheumatoid arthritis berfokus pada pengentasan gejala dan dimulainya kembali kegiatan fisik normal. Sebuah tim multidisiplin, yang terdiri dari pediatrik rheumatologist, terapis fisik, dan terkadang ahli bedah ortopedi, dapat menangani kondisi ini. Tindak lanjut oftalmologi reguler juga dianjurkan, bahkan pada pasien tanpa gejala mata, untuk memantau keterlibatan mata.

Untuk menghilangkan gejala, penanganan diarahkan untuk mengendalikan peradangan dan rasa sakit. Pengobatan pertama adalah obat anti-inflamasi non-steroid, atau NSAID, seperti ibuprofen. Inhibitor COX-2, seperti celecoxib, juga telah terbukti efektif. Steroid juga dapat diberikan untuk mengurangi pembengkakan. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk, dan dapat diberikan melalui mulut, intramuskular (dalam otot) atau intraartikular (ke dalam sendi) rute. Untuk pasien dengan kondisi yang lebih parah dan polyarticular JRA, obat yang lebih keras mungkin diperlukan untuk meringankan peradangan. Mereka dapat diberikan obat antirematik yang bersifat dapat memodifikasi penyakit, atau DMARDs, seperti methotrexate atau azathioprine. Ini adalah obat keras yang memiliki potensi untuk melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat rentan terhadap infeksi dan menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan lainnya. Karena alasan-alasan tersebut, obat ini harus digunakan dengan pengawasan yang tepat dari dokter Anda. Obat yang lebih baru, yang dikenal sebagai pengubah respons biologis, saat ini sedang dipelajari untuk menentukan kesesuaian mereka untuk digunakan pada pasien pengidap JRA.

Selain obat-obatan, pasien jevenile rheumatoid arthritis juga disarankan untuk menjalani terapi fisik, di mana mereka berlatih untuk meningkatkan kekuatan otot dan sendi, dan meningkatkan jangkauan gerak sendi. Pasien juga dianjurkan untuk menjalani terapi okupasi, di mana mereka diajarkan mengenai strategi untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan mereka dan melakukan aktivitas sehari-hari. Bentuk-bentuk terapi ini memungkinkan pasien untuk berfungsi dengan independen dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Alat bantu dan rawat jalan mungkin diperlukan dalam beberapa kasus JRA. Pembedahan jarang diperlukan, kecuali jika penyakit sudah parah atau terjadi komplikasi. Operasi penggantian sendi biasanya diperuntukkan setelah pertumbuhan pasien selesai. Perbaikan yang signifikan dalam pengelolaan juvenile rheumatoid arthritis dalam beberapa dekade terakhir telah memungkinkan pasien dengan kondisi ini untuk hidup produktif.

Rujukan:

  • Prince FH, Otten MH, van Suijlekom-Smit LW. Diagnosis and management of juvenile idiopathic arthritis. BMJ. 2010 Dec 3;341:c6434.

  • Ruperto N, Lovell DJ, Quartier P, et al; Paediatric Rheumatology International Trials Organization and the Pediatric Rheumatology Collaborative Study Group. Long-term safety and efficacy of abatacept in children with juvenile idiopathic arthritis. Arthritis Rheum. 2010 Jun;62(6):1792-802.

Bagikan informasi ini: