Apa itu Tendon Achilles yang Terputus?

Tendon Achilles adalah tendon yang paling tebal di dalam tubuh manusia. Ini berada di betis, sekitar dua inci di atas tulang tumit. Ia menghubungkan tumit dengan otot-otot besar betis, serta mengendalikan gerakan kaki.

Tendon akan mengencang saat otot-otot betis berkontraksi. Inilah yang membuat seseorang dapat berjinjit pada ujung kaki. Ini juga yang membantu seseorang berlari saat memulai balap lari.

Jika direntangkan terlalu lebar, tendon Achilles dapat terluka dan terputus. Kondisi ini menyebabkan nyeri yang terasa tajam dan berat yang menjadikan penderita tak mampu berjalan dengan baik. Cedera ini lebih umum terjadi pada pria paruh baya yang berolahraga dengan gerakan yang cepat dan sangat bertenaga. Olahraga itu termasuk tenis, basket, balap lari, dan bulu tangkis.

Cedera tendon dapat disembuhkan melalui pengobatantanpa operasi dan dengan operasi. Prognosis dari keduanya umumnya bagus. Banyak pasien yang mampu kembali menjalani aktivitas normalnya setelah menjalani pengobatan.

Penyebab Tendon Achilles yang Terputus

Tendon Achilles akan terputus jika direntangkan secara berlebihan hingga ke batas titik sobek. Tendon putus dapat terjadi ketika gerakan bertenaga penuh memberikan tekanan besar kepada otot betis. Contohnya adalah saat seorang atlet lari mulai berlari cepat. Dalam situasi tersebut, tendon tidak memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan dengan kekuatan yang hebat tersebut tanpa melukai tendon itu sendiri. Umumnya, cedera dialami oleh orang-orang yang melakukan olahraga yang mengharuskannya sering melompat dan berlari. Tendon juga dapat putus akibat intensitas olahraga yang meningkat secara mendadak. Kemungkinan lainnya adalah karena tidak melakukan peregangan otot dan pemanasan sebelum olahraga.

Cedera juga dapat dipicu oleh tendon yang melemah dan menipis.Hal itudipengaruhi oleh usia yang makin menua atau kaki yang jarangdigerakkan. Ini membuat tendon lebih mudah rusak. Orang yang menderita tendinitis atau radang tendon lebih rentan terhadap kondisi ini. Faktor risiko lainnya termasuk obesitas, diabetes, dan artritis. Memakai sepatu bertumit tinggi secara rutin dan memiliki telapak kaki yang datar pundapat meningkatkan risiko tendon Achilles terputus.

Gejala Utama Tendon Achilles yang Terputus

Tendon Achilles yang putus menyebabkan nyeri yang luar biasa. Ini membuat pasientidak mampu berjalan dengan benar. Nyeri itu dapat segera terasa saat tendon sobek. Beberapa pasien mengungkapkannya bagaikan terbentur oleh batu atau ditendang dengan sangat keras. Banyak pasien melaporkan tentang bunyi kertakan atau letupan sebelum mereka merasakan nyerinya. Lalu area tersebut akan membengkak dan menjadi kaku. Ini diikuti dengankekuatan dan rentang gerak pergelangan kaki yang berkurang. Sering kali, tendon yang patah dapat terasa pada sekitar dua inchi di atas tumit.

Pasien dianjurkan untuk mengistirahatkan bagian kaki tempat tendon Achilles cedera. Jika pasien mengalami radang dan spasme, kompres air dingin dapat membantu meredakanya. Lalu pasien harus segera menemui dokter. Pengobatan yang cepat dapat mencegahagar cedera tidak memburuk.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Cedera tendon Achilles didiagnosis melalui tes fisik. Uji pencitraan seperti rontgen sering kali tidak diperlukan. Namun, dokter akan meminta pasien untuk berjalan dan berjinjit. Lalu pasien berbaring tengkurap dan dokter akan memeriksa area di atas tumit pasien.

Pengobatan dapat melibatkan obat-obatan dan operasi. Orang yang lebih tua dan yang mereka yang kurang aktif sering kali memilih cara tanpa operasi. Cara ini akan melumpuhkan tendon. Obat-obatan akan digunakan untuk mengobati nyeri dan pembengkakan. Dengan memilih ini, pasien terhindari dari sejumlah risiko operasi. Namun, proses pemilihannya dapat berjalan cukup lama. Risiko kondisi berulang pun sangat tinggi.

Sedangkan operasi adalah pilihan yang lebih populer bagi pasien yang masih muda. Ini termasuk mereka yang ingin kembali melakukan aktivitas fisik secepat mungkin. Operasi dapat dilaksanakan melalui metode konvensional dengan membuat sayatan besar pada betis. Sedangkan metode invasif minimal memakai sayatan dan peralatan bedah yang kecil. Operasi punmelibatkan penjahitanulang ujung-ujung tendon. Operasi membuat pasien dapat kembali menjalani aktivitas rutinnya dengan lebih cepat. Namun, ada beberapa risiko operasi. Di antaranya termasuk pembekuan darah di dalam kaki. Darah beku menjadi berbahaya jika memasuki paru-paru dan mengganggu aliran darah. Risiko lainnya termasuk perdarahan dan cedera pada saraf yang ada di sekitarnya. Ada juga risiko infeksi dan kerusakan kulit. Selain itu, operasi jauh lebih mahal dibandingkan dengan pengobatan tanpa operasi.

Operasi diikuti dengan terapi fisik. Pasien diajari cara melakukan latihan penguatan dan rentang gerak. Ini membantu pasien untuk pulih dengan cepat.

Prognosis cedera tendon Achilles umumnya bagus. Banyak pasien yang dapat pulih sepenuhnya. Banyak juga yang tidak menderita gangguan kesehatan yang berkepanjangan. Kebanyakan pasien sudah dapat kembali melanjutkan gaya hidupnya yang aktif dalam tiga sampai enam bulan pasca operasi.

Rujukan:

  • Barfod KW, et al. Nonoperative dynamic treatment of acute Achilles tendon rupture: The influence of early weight-bearing on clinical outcome. Journal of Bone and Joint Surgery. 2014;96:1497.

  • Functional rehabilitation. American Academy of Physical Medicine and Rehabilitation. http://www.aapmr.org/about-physiatry/conditions-treatments/musculoskeletal-medicine/functional-rehabilitation.

  • Zhang H, et al. Surgical versus conservative intervention for acute Achilles tendon rupture: A PRISMA-compliant systematic review of overlapping meta-analyses. Medicine. 2015;94:1.

Bagikan informasi ini: