Apa itu Hipertensi Sekunder?

Fungsi utama jantung adalah memastikan bahwa darah mengalir dengan baik ke seluruh tubuh. Melalui aliran darah ini organ lainnya, seperti otak dan paru-paru, mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkannya. Darah melewati banyak pembuluh darah di tubuh. Struktur tubular ini fleksibel dan mampu berkembang sehingga memungkinkan darah mengalir dengan lancar. Ekspansi dan kontraksi dari sistem ini akan menghasilkan tekanan darah. Pada individu yang sehat, tekanan darah normal adalah sekitar 120/80.

Jika tekanan darah naik, maka disebut hipertensi. Ada dua jenis hipertensi, primer atau sekunder. Hipertensi dapat dikatakan sekunder jika disebabkan oleh masalah medis. Seperti gangguan yang mempengaruhi otak, ginjal, dan jantung. Yang paling umum adalah penyakit ginjal dan diabetes. Hal ini juga dapat terjadi karena masalah jantung bawaan dan apnea tidur.

Bila tidak diobati, hipertensi sekunder bisa menyebabkan beberapa komplikasi serius. Seperti gagal jantung, kerusakan arteri, dan masalah penglihatan.

Penyebab Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi dari:

  • Apnea tidur - Gangguan yang membuat napas penderitanya terhenti hingga beberapa menit saat tidur. Gangguan ini harus menjadi perhatian karena akan mengurangi jumlah oksigen dalam tubuh.

  • Penyempitan arteri utama jantung - Bila aorta menyempit, jumlah darah yang dapat melewatinya akan berkurang. Kondisi ini memaksa jantung untuk memompa lebih keras untuk mendorong lebih banyak darah ke bagian tubuh yang lain. Akibatnya, tekanan darah bisa naik.

  • Diabetes - Istilah ini mengacu pada kondisi di mana kadar gula darah tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah maupun ginjal. Kerusakan pada pembuluh darah bisa memengaruhi tekanan darah normal.

  • Gangguan kelenjar adrenal, yang meliputi pertumbuhan abnormal dan sindrom Cushing

  • Gangguan ginjal, yang termasuk gagal ginjal dan penyakit ginjal polikistik

  • Kelenjar paratiroid yang terlalu aktif - Kelainan yang menyebabkan kelenjar paratiroid melepaskan lebih banyak hormon daripada yang dibutuhkan oleh tubuh.

  • Masalah tiroid - Ini dapat menyebabkan hipertensi sekunder apabila kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang dibutuhkan oleh tubuh.

  • Preeklamsia

Jika tidak diobati, hipertensi sekunder dapat berkembang dan meningkatkan risiko penggumpalan darah. Hal ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, dan embolisme paru. Kondisi ini bisa mengakibatkan kematian jika tidak diobati sejak dini.

Gejala Utama Hipertensi Sekunder

Hipertensi tergolong dalam kategori sekunder jika:

  • Pasien memiliki kondisi medis seperti yang tercantum di atas

  • Tidak merespon obat yang diresepkan untuk mengobati hipertensi primer

  • Pasien tidak memiliki riwayat kelainan dalam keluarga

  • Terjadi sebelum pasien berusia 30 atau lebih 55 tahun

Pasien juga akan menunjukkan gejala lain dari masalah medis yang menjadi penyebab hipertensi. Misalnya, pasien mengalami pembengkakkan kaki dan pergelangan kaki jika mereka menderita gagal ginjal. Gejala tersebut muncul karena ginjal mereka tidak bisa lagi menyaring kelebihan air dari darah.

Gejala-gejala ini yang membantu dokter menentukan prosedur diagnostik. Misalnya, jika pasien menunjukkan tanda-tanda masalah pada jantung, dokter akan fokus pada pemeriksaan fungsi jantung. Sehingga, memungkinkan dokter untuk segera mendiagnosa hipertensi sekunder dan penyebab utamanya dengan akurat.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan hipertensi sekunder berfokus pada penanganan dari penyebab utamanya. Pasien akan menjalani sejumlah prosedur diagnostik untuk menentukan penyebab naiknya tekanan darah naik. Ini termasuk:

  • Pemeriksaan fisik - Ujian ini melibatkan pengukuran tekanan darah pasien. Dokter juga akan mendengarkan detak jantung pasien dengan menggunakan stetoskop.

  • Kaji ulang riwayat dan gejala medis pasien - Dokter ingin mengetahui apakah pasien memiliki riwayat keluarga yang memiliki penyakit tertentu. Mereka juga akan menanyakan tentang tingkat keparahan gejala mereka dan kapan gejala muncul pertama kali.

  • Tes darah dan urin - Ini digunakan untuk mengukur kadar hormon dan zat kimia lainnya dalam darah. Kedua tes ini dapat digunakan jika dokter mencurigai pasien mengidap diabetes serta gangguan kelenjar paratiroid dan tiroid.

  • Ekokardiogram - Tes ini membantu menentukan apakah gejalanya disebabkan oleh masalah pada arteri jantung. Prosedur ini akan menghasilkan gambar jantung untuk mempermudah dokter menemukan kelainan apapun.

  • Studi tidur - Ini digunakan untuk melihat apakah kondisinya disebabkan oleh apnea tidur.

Pasien yang didiagnosis dengan hipertensi sekunder akan diresepkan obat untuk membantu ginjalnya bekerja lebih baik. Selain itu, pasien juga diberi obat untuk memperbaiki aliran darah ke arteri.

Namun, obat yang pasti untuk penyakit ini adalah dengan mengobati penyebab utamanya. Pengobatan mungkin akan melibatkan dialisis untuk pasien dengan masalah pada ginjal atau masalah mengendalikan kadar gula darah bagi penderita diabetes.

Gejala hipertensi sekunder bisa diperbaiki dengan perubahan gaya hidup sederhana. Dengan demikian, pasien disarankan untuk:

  • Makan makanan yang sehat. Diet yang kaya akan buah dan sayuran adalah yang terbaik

  • Berolahraga secara teratur. Pasien bisa mendapatkan keuntungan dari berolahraga minimal satu jam per hari. Dokter merekomendasikan berbagai latihan termasuk yoga dan latihan beban

  • Minimalkan asupan garam. Ini membantu mengurangi retensi air dalam tubuh

  • Berhenti merokok. Merokok dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah

  • Hindari minum alkohol sebanyak mungkin, karena hal ini juga menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh

Rujukan:

  • The seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Bethesda, Md.: National Heart, Lung, and Blood Institute. http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/jnc7full.htm.

  • Gilbert SJ, et al. Secondary hypertension. In: National Kidney Foundation Primer on Kidney Diseases. 6th ed. Philadelphia, Pa.: Elsevier/Saunders; 2014. http://www.clinicalkey.com.

  • Overview of hypertension. Merck Manual Professional Version. http://www.merckmanuals.com/professional/cardiovascular-disorders/hypertension/overview-of-hypertension.

Bagikan informasi ini: