Apa itu Penyakit Paru Interstisial?

Penyakit paru interstisial adalah penyakit yang berkaitan dengan kelainan kondisi paru-paru yang memilki satu ciri kesamaan: penyakit ini mempengaruhi interstitium, yaitu penghubung jaringan yang menciptakan pola seperti tali yang membentang di seluruh paru-paru kiri dan kanan. Interstitium terdiri dari pembuluh darah kecil yang memungkinkan pertukaran gas antara darah dan udara yang bergerak melalui paru-paru. Hal ini adalah mekanisme pendukung penting bagi alveoli atau kantung udara mikroskopis pada paru-paru.

Penyebab Penyakit Paru Interstisial

Penyakit paru interstisial muncul dalam berbagai bentuk, dan setiap bentuknya berbeda berdasarkan penyebab kondisi tersebut. Beberapa bentuk ini berlangsung sebentar dan mungkin hilang sepenuhnya, sementara beberapa yang lainnya bersifat kronis dan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan. Jenis penyakit ini antara lain:

  • Pneuomonia Interstisial – Bentuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur yang menyerang interstisium. Namun, penyebab yang paling umumnya adalah bakteri yang disebut mycoplasma pneumonia.

  • Idiopatik fibrosis paru – Bentuk kronis dari penyakit yang menyebabkan jaringan parut atau fibrosis pada interstisium. Kondisi ini juga merupakan kondisi progresif, dan penyebabnya masih belum diketahui.

  • Pneumonitis hipersensitif – Bentuk penyakit yang muncul dari penghisapan atau paparan iritan tertentu secara terus menerus, seperti jamur dan debu. Penyebab yang paling umum adalah debu silica, bedak, abu sisa pembakaran, beberapa logam dari pabrik pertambangan, debu gandum (yang biasanya digunakan dalam pertanian), dan protein burung, terutama dari spesies burung eksotis, ayam, atau merpati. Sub jenis tertentu dari penyakit ini disebut asbestosis, yang disebabkan oleh paparan asbes.

  • Pneumonitis interstisial non-spesifik – Bentuk ini sering terjadi dalam gabungan dengan kondisi autoimun seperti scleroderma atau artritis reumatoid.

  • Cryptogenic organizing pneumonia – Juga dikenal sebagai obliteran bronkiolitis, kondisi ini adalah penyakit yang mirip dengan pneumonia namun tidak disebabkan oleh bakteri.

  • Pneumonitis interstisial akut – Penyakit tiba-tiba, sering muncul dalam keadaan yang parah, yang dapat menyebabkan penderitanya memerlukan dukungan hidup.

  • Pneumonitis interstisial deskuamatif – Bentuk penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok.

  • Sarkoidosis – Meskipun ini bukanlah bentuk suatu penyakit, ini merupakan kondisi yang sering mempengaruhi interstitium. Gejala lain dari kondisi ini termasuk pembengkakan kelenjar getah bening dan kemungkinan efeknya pada jantung, kulit, saraf, dan mata.

Selain bakteri, virus, jamur, dan iritasi, penyakit paru interstisial dapat juga disebabkan oleh obat-obatan tertentu, diantaranya yaitu nitrofurantoin, amiodaron, dan bleomycin. Namun, meskipun seluruh informasi yang ada mengenai kemungkinan penyebab penyakit ini, kebanyakan kasus terjadi tanpa penyebab yang jelas dan spesifik.

Penyakit ini menyerang baik pria maupun wanita dari segala usia dengan risiko yang sama. Namun, lebih sering terjadi bagi orang yang memiliki penyakit autoimun.

Gejala Utama Penyakit Paru Interstisial

Walaupun memiliki penyebab yang berbeda, seluruh bentuk penyakit paru interstisial ditandai oleh penebalan interstisium. Ketika hal ini terjadi, kondisi ini menyebabkan gejala lain, seperti [radang]{https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/pneumonia), bekas luka, dan edema.

Tanda awalnya adalah sesak napas, yang cukup ringan pada awalnya, tetapi dapat memburuk secara bertahap selama berbulan-bulan. Namun, jika penyakit ini berhubungan dengan pneumonia atau merupakan bentuk akut, gejalanya dapat datang lebih awal dan dapat berlangsung beberapa jam atau hari untuk berkembang atau memburuk.

Gejala ini juga disertai dengan batuk kering dan tidak produktif. Pada beberapa orang, terutama penderita crytogenic organzinig pneumonia, penurunan berat badan juga dapat terlihat.

Ketika seseorang mengalami sesak napas yang muncul tiba-tiba dan memburuk dengan cepat, atau berkembang dan memburuk dari waktu ke waktu, sebaiknya segera mencari bantuan medis. Nasihat yang sama berlaku untuk siapapun yang telah menderita batuk kering untuk waktu yang lama tanpa penyebab yang jelas. Penyakit paru intrestisial dapat didiagnosis setelah pemeriksaan pencitraan dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab sesak napas dan batuk kering.

Pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini antara lain:

  • Sinar-X dada – pemeriksaan pertama yang digunakan untuk mendiagnosa sesak napas atau batuk kering adalah sinar-X dada. Jika garis halus pada paru-paru terlihat pada hasil sinar-X, terdapat kemungkinan pasien menderita penyakit paru-paru interstisial.

  • CT scan – Pemindaian tomografi terkomputerisasi merupakan pemeriksaan pencitraan yang lebih canggih yang mengambil serangkaian gambar paru-paru dan struktur sekitarnya yang lebih rinci. Pemeriksaan ini lebih efektif dalam mendeteksi penyakit paru interstisial dibandingkan dengan pemeriksan sinar-X standar. Jika CT scan standar membuat dokter menduga penyakit paru interstisial namun perlu dilakukan konfirmasi lebih lanjut, CT scan beresolusi tinggi akan dilakukan untuk mendapatkan gambar paru-paru yang lebih terperinci.

  • Pemeriksaan fungsi paru – Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan khusus yang digunakan untuk memeriksa kondisi dan kapasitas paru-paru. Pemeriksaan ini dapat menentukan apakah kemampuan paru-paru untuk mentransfer oksigen dari paru-paru ke darah terganggu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meminta pasien duduk pada ruangan plastik yang tertutup sepenuhnya dan bernapas melalui pipa.

  • Biopsi paru – Sampel dari jaringan paru-paru juga dapat diambil untuk pemeriksaan lebih jauh. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenis penyakit paru interstisial tertentu yang diderita. Biopsi jaringan paru-paru dapat dilakukan melalui bronkoskopi, yaitu VATS atau operasi torakoskopi dengan bantuan video, atau torakotomi, yang juga dikenal sebagai biopsi paru terbuka.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan yang paling umum untuk penyakit paru interstisial meliputi:

  • Antibiotik – infeksi bakteri dan pneumonia interstisial dapat diobati dengan azitromisin (Zithromax) atau levofloxacin (Levaquin), yang keduanya ditemukan efektif dalam menghilangkan bakteri yang terkait dengan penyakit paru interstisial.

  • Terapi oksigen – Penderita dengan kadar oksigen dalam darah rendah karena penyakit paru interstisial dapat diberikan oksigen yang dihirup untuk memulihkan gejala dan mencegah kerusakan jantung yang disebabkan oleh kadar oksigen rendah.

  • Kortikosteroid – Kortikosteroid digunakan ketika terdapat peradangan pada paru-paru dan ketika ada risiko kerusakan jangka panjang dan bekas luka. Kortikosteroid, seperti prednisone dan methylprednisone, mengurangi aktivitas sistem kekebalan tubuh sehingga peradangan, yang dirangsang oleh sistem imun sebagai respon terhadap infeksi, dapat dikendalikan.

  • Transplantasi paru – Jika penyakit ini dalam stadium lanjut ketika terdeteksi atau ketika telah berkembang ke tahap yang lebih lanjut meskipun pengobatan diberikan, pasien mungkin memerlukan transplantasi paru-paru. Penelitian menunjukan pasien yang telah menjalani transplantasi paru-paru karena pengalaman penyakit paru interstisial paru memiliki peningkatan yang jelas terlihat dalam kualitas hidupnya dan juga mendapatkan kemampuan baru dalam berolahraga.
    Rujukan:

  • Behr J. Approach to the diagnosis of interstitial lung disease. Clin Chest Med. 2012;33:1-10.

  • Raghu G. Interstitial lung disease. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2011:chap 92.

  • Selman M, Morrison LD, Noble PW, King TE. Idiopathic interstitial pneumonias. In: Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, et al., eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2010:chap 57.

Bagikan informasi ini: