Apa itu Artritis Septik?

Artritis septik adalah kondisi medis yang muncul ketika sendi (seperti sendi lutut atau pinggul mengalami infeksi yang disebabkan oleh pathogen baik bakteri, virus, atau fungus. Ketiga pathogen tersebut dapat menyerang sendi, jika mereka dapat memasuki tubuh melalui luka terbuka. Infeksi bisa dimulai dari bagian tubuh lain dan berpindah ke sendi melalui aliran darah.

Sendi dilindungi oleh cairan synovial yang menjauhkan patogen. Namun, penyakit tertentu, seperti lupus dan radang sendi, dapat memecahkan atau melemahkan perlindungan tersebut. Sehingga, patogen dapat menyerang dan menimbulkan infeksi.

Kondisi medis ini bisa menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi, kebanyakan kasus ditemukan pada:

  • Individu lanjut usia

  • Individu dengan sistem imun lemah seperti pasien penerima transplantasi organ dan pasien dengan HIV/AIDS

  • Individu dengan riwayat sendi rusak dan individu yang menggunakan sendi prostetik

Kondisi medis ini sebenarnya cukup jarang terjadi. Di Amerika dan Eropa setiap tahunnya, hanya ada 7 atau 8 kasus dari 100,000 orang. Biasanya artristis septik menyerang sendi lutut (50% dari seluruh kasus), pinggul (20%), dan bahu (8%). Sendi yang paling jarang diserang adalah pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan siku.

Penyebab Artritis Septik

Artritis septik dapat terjadi ketika patogen menemukan jalan untuk mencapai sendi. Patogen yang paling sering ditemui adalah infeksi bakteri staph. Namun, bisa juga disebabkan oleh fungus dan virus. Organisme-organisme tersebut dapat memasuki tubuh melalui luka terbuka, injeksi, atau sayatan operasi. Beberapa tipe infeksi (seperti infeksi kulit dan saluran kemih) dapat menyebar ke sendi juga, melalui aliran darah. Ada pula penyebab artritis septik lain, seperti virus hepatitis, herpes dan HIV, serta penyakit gondok.

Patogen menyebabkan artritis septik dengan merusak tulang rawan articular pada sendi. Itu merupakan jaringan putih yang menutupi bagian ujung tulang ketika keduanya bertemu dan membentuk sendi. Kerusakan ini dapat membuat tulang rawan terkikis dan mengganggu suplai darah ke sendi. Kedua hal ini bisa terjadi tiga hari setelah infeksi dimulai.

Gejala Utama Artritis Septik

Artritis septik bisa menyebabkan rasa sakit yang ekstrem. Akibatnya, penderita tidak dapat menggunakan sendi yang sakit. Sehingga, penderitanya terbaring lemas atau harus menggunakan kruk atau kursi roda untuk bergerak.

Sendi yang terkena biasanya menunjukkan gejala, seperti bengkak, hangat saat disentuh, dan tampak berwarna merah. Adapun gejala lainnya termasuk demam, lemas, dan menggigil.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Artritis septik dapat didiagnosis dengan prosedur berikut:

  • Tes pencitraan - Tes ini sangat penting untuk mendiagnosis kondisi yang memengaruhi tulang dan persendian. Dokter biasanya mulai dengan rontgen. Jika kelainan ditemukan, tes pencitraan yang lebih sensitif digunakan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi. Seperti, CT scan dan MRI.

  • Analisis cairan sendi - Infeksi sendi dapat dikonfirmasi dengan prosedur ini, di mana jenis jarum khusus digunakan untuk mengumpulkan sejumlah kecil cairan yang mengelilingi sendi. Cairan tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk pengujian. Jika ada infeksi, tes tersebut akan menunjukkan kadar abnormal sel darah putih.

  • Tes darah - Darah pasien juga diuji untuk infeksi. Tes ini juga menggunakan jarum untuk mengumpulkan sejumlah kecil darah dari vena.

Sementara, pengobatan artritis septik melibatkan pengeringan cairan yang terinfeksi di sekitar sendi. Hal ini harus segera dilakukan untuk menghentikan kerusakan sendi. Ini juga membantu mencegah penyebaran infeksi ke jaringan terdekat.

Prosedurnya bisa dilakukan dengan menggunakan jarum atau tabung fleksibel. Namun, beberapa kasus memerlukan pembedahan terbuka. Secara umum, dokter berusaha menguras cairan tanpa membuat sayatan. Hal ini penting karena mengurangi risiko infeksi lain. Cairan yang terinfeksi dikeringkan dua sampai tiga kali per hari. Ini bisa bertahan antara tujuh sampai sepuluh hari. Dalam kasus di mana infeksi tidak jelas, operasi terbuka dilakukan. Jika jaringan di dekatnya juga terinfeksi, maka harus dibuang.

Antibiotik juga diresepkan. Obat ini bisa dikonsumsi secara oral. Namun, dalam banyak kasus, obat ini dimasukkan secara intravena. Terapi bisa berlangsung sampai dua minggu.

Rujukan:

  • Yokoe DS, Avery TR, Platt R, Huang SS. Reporting surgical site infections following total hip and knee arthroplasty: impact of limiting surveillance to the operative hospital. Clin Infect Dis. 2013 Nov. 57(9):1282-8.

  • Broy SB, Schmid FR. A comparison of medical drainage (needle aspiration) and surgical drainage (arthrotomy or arthroscopy) in the initial treatment of infected joints. Clin Rheum Dis. 1986 Aug. 12(2):501-22.

  • Corvec S, Illiaquer M, Touchais S, et al. Clinical features of group B Streptococcus prosthetic joint infections and molecular characterization of isolates. J Clin Microbiol. 2011 Jan. 49(1):380-2.

Bagikan informasi ini: