Apa itu Buang Air Kecil Terus Menerus?

Buang air kecil adalah fungsi tubuh penting yang melibatkan pembuangan produk limbah dari tubuh dalam bentuk air seni. Namun, jika seseorang merasa perlu buang air kecil terlalu sering daripada yang biasanya ia lakukan, ini dapat merupakan indikasi adanya masalah dalam sistem kemihnya.

Kebanyakan orang mengeluarkan air seni 1 sampai 1.8 liter sehari, yang setara dengan 5 sampai 8 cangkir. Ginjal menghasilkan urin karena menyaring darah untuk menghilangkan limbah dan zat lainnya. Dari ginjal, air seni melewati ureter dan terkumpul di kandung kemih. Setelah kandung kemih penuh, otak akan mengirimkan sinyak ke otot sfingter untuk berkontraksi dan melepaskan urin yang terkumpul melalui uretra dan keluar dari tubuh. Masalah apapun yang memengaruhi sistem kemih dan bagian-bagiannya dapat menyebabkan buang air kecil terus menerus.

Penyebab Buang Air Kecil Terus Menerus

Kebutuhan untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya merupakan akibat dari bebera kondisi. Yang paling umum adalah:

  • Meningkatnya asupan cairan – asupan cairan sangat bergantung dengan gaya hidup. Mereka yang aktif berolahraga dan menggerakan badan, tinggal di daerah dengan iklim panas, atau memiliki pekerjaan fisik yang sangat menuntut membutuhkan lebih banyak cairan dibandingkan mereka yang memiliki gaya hidup menetap. Namun, jumlah cairan yang dikonsumsi seseorang dan dilepaskan akan sama setiap harinya. Jika, untuk beberapa alasan, seseorang minum lebih banyak dari biasanya, tubuh akan mengimbanginya dan melepaskan lebih banyak cairan yang menyebabkan buang air kecil terus menerus.

  • Obat-obatan – Obat-obatan seperti diuretik, dirancang untuk memaksa ginjal menghasilkan lebih banyak urin. Obat ini membantu tubuh mengeluarkan air berlebih.

  • Penyakit dan gangguan – Diabetes, masalah prostat, infeksi saluran kemih, kistitis interstisial, stroke, kecemasan, dan penyakit neurologi lainnya adalah beberapa dari penyebab paling umum buang air kecil terus menerus.

  • Prosedur medis – Prosedur medis tertentu seperti terapi radiasi yang dilakukan pada bagian bawa perut dan/atau panggul dapat menyebabkan buang air kecil terus menerus.

  • Kehamilan – Karena uterusnya membesar, sehingga memberikan tekanan lebih terhadap kandung kemih, menciptakan kebutuhan untuk buang air kecil lebih sering.

Gejala Utama Buang Air Kecil Terus Menerus

Buang air kecil terus menerus disebabkan oleh penyakit yang menampilkan gejala-gejala berikut:

  • Darah pada air seni
  • Nyeri saat buang air
  • Nyeri pada perut bagian bawah
  • Demam
  • Air seni yang keluar tersendat-sendat bukannya mengalir secara stabil
  • Berkurangnya kontrol terhadap fungsi kandung kemih

Siapa yang Perlu Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang buang air kecil lebih sering daripada biasanya disarankan untuk berkonsultasi ke dokter layanan utama. Prosedur standar seperti wawancara awal tentang gejala, pemeriksaan fisik, dan ulasan riwayat kesehatan pasien akan dilakukan. Ini diikuti dengan serangkaian tes, antara lain:

  • Urinanalisis – untuk menentukannya adanya infeksi.

  • Kistometri – pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan jika kondisi disebabkan oleh masalah dengan otot atau saraf kandung kemih.

  • Kistoskopi - sebuah prosedur yang dilakukan dengan memasukkan tabung dengan sumber cahaya dan kamera video ke kandung kemih lewat uretra untuk menentukan apakah kondisi ini disebabkan oleh masalah di uretra.

  • Ultrasonografi – prosedur pencitraan untuk menentukan kondisi keseluruhan sistem kemih.

  • Tes neurologis – ini diminta oleh dokter yang mendiagnosa, jika ia mencurigai buang air kecil terus menerus disebabkan oleh gangguan saraf.

Pengobatan untuk buang air kecil terus menerus beragam mulai dari perubahan sederhana pada pola makan hingga mengonsumsi obat-obatan tertentu. Jika diperlukan, dokter akan menyarankan operasi sebagai pilihan terakhir. Beberapa obat-obatan yang umum digunakan adalah:

  • Tolterodine
  • Oxybutynin
  • Darifenacin
  • Mirabegron
  • Trospium
  • Imipramine
  • Solifenacin

Jika obat-obatan yang disebutkan di atas gagal untuk memperbaiki kondisi pasien, dokter mungkin memilih untuk menyuntikan Botox ke kandung kemih untuk memaksa otot untuk rileks, mengurangi keinginan untuk buang air kecil pada prosesnya.

Prosedur bedah biasanya dilakukan sebagai pilihan terakhir. Salah satunya untuk meletakkan stimulator saraf di bawah kulit untuk mengendalikan organ dan otot yang digunakan untuk buang air kecil.

Rujukan:

  • Drake M, Abrams P. Overactive bladder. In: Wein AJ, ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 66.

  • Zeidel ML. Obstructive uropathy. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 125.

  • Lentz GM. Urogynecology. Physiology of micturition, voiding dysfunction, urinary incontinence, urinary tract infections, and painful bladder syndrome. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2012:chap 21.

Bagikan informasi ini: