Apa itu Sinusitis?

Penyakit sinus atau sinusitis adalah salah satu penyakit yang paling umum di Amerika Serikat. Lebih dari 15 juta kunjungan ke dokter umum disebabkan oleh sinusitis dan menghabiskan biaya sekitar 140 juta dolar hanya untuk pengobatan.

Sinusitis adalah peradangan sinus, rongga berisi udara yang dapat ditemukan di berbagai bagian tengkorak: frontal (bagian bawah dahi), maxillary (tulang pipi), sphenoid (bagian belakang rongga hidung), dan ethmoid (di antara jembatan hidung dan mata). Keempat bagian tengkorak tersebut dikenal sebagai sinus paranasal.

Walaupun sinus berperan penting dalam meningkatkan kualitas suara kita, fungsi utama sinus adalah untuk menghasilkan mukus (cairan lengket dan tebal) di hidung untuk menghentikan alergen, kuman, dan zat lain yang dapat menyebabkan infeksi dan membahayakan kesehatan seseorang. Dengan bantuan dari silia, yang bentuknya sangat kecil seperti rambut, mukus dan zat yang tertangkap oleh mukus akan didorong ke tenggorokan, melewati perut, sampai akhirnya hilang dengan sendirinya. Proses ini sangatlah tidak kentara sampai seseorang bisa saja tidak merasakannya.

Sinusitis disebabkan oleh faktor tertentu, mulai dari kelainan bawaan sampai virus atau bakteri, yang menyebabkan peradangan sinus. Kemudian, sinus akan menghasilkan mukus yang sangat tebal, sehingga silia tidak dapat mendorong mukus ke tenggorokan.

Sinusitis memiliki banyak jenis yang biasanya dibedakan berdasarkan durasinya:

  • Akut – Sinusitis akut terjadi secara tiba-tiba, namun juga tidak bertahan lama. Bahkan, peradangan sinus biasanya hilang dengan sendirinya, atau dapat disembuhkan dengan obat biasa seperti antibiotik.

  • Sub-akut – Sinusitis dianggap sub-akut apabila terjadi selama lebih dari 3 minggu namun kurang dari 12 minggu.

  • Kronis – Ketika seseorang mengalami sinusitis sampai 3 bulan, berarti sinusitis bersifat kronis. Walaupun sinusitis bertahan selama waktu yang cukup lama namun biasanya tidak bersifat parah.

  • Menular – Sinusitis biasanya tidak menular, walaupun disebabkan oleh bakteri. Namun, apabila sinusitis terjadi akibat virus, seperti virus pilek atau flu, sinusitis menjadi gampang menular dan biasanya ditularkan melalui sentuhan tangan.

Penyebab Sinusitis

Peradangan sinus dapat disebabkan oleh faktor berikut:

  • Kelainan bawaan – Penyumbatan sinus dapat disebabkan oleh kelainan bentuk tulang di rongga hidung dan septum (pembatas di antara kedua rongga hidung) yang bengkok.

  • Virus – Virus pilek akan memengaruhi saluran hidung, namun karena sinus berada di dekat hidung, ada kemungkinan virus akan berpindah dan masuk ke sinus. Sinusitis yang disebabkan oleh virus biasanya bertahan lebih lama daripada pilek. Virus yang menyebabkan flu juga dapat menyebabkan sinusitis.

  • Infeksi gigi – Bakteri dapat bersarang di banyak bagian mulut, termasuk gigi dan gusi. Apabila tidak segera ditangani, bakteri dapat menyebabkan peradangan, yang dapat menyebar ke sinus maksila.

  • Rhinitis alergi – Banyak orang yang keliru antara sinusitis dan rhinitis karena keduanya adalah penyakit yang ditandai dengan mukus yang sangat tebal. Rhinitis adalah reaksi alergi terhadap serbuk sari, bulu hewan, debu, dan lain-lain, yang menyebabkan iritasi hidung. Ketika hidung mengalami iritasi, hidung akan dipaksa untuk menghasilkan lebih banyak mukus. Saat mukus terdorong ke tenggorokan, tenggorokan juga akan mengalami iritasi, dan pasien akan terbatuk.

Walaupun begitu, rhinitis sering terjadi bersamaan dengan sinusitis, sehingga sinusitis juga terkadang dikenal sebagai rhinosinusitis.

  • Polip Hidung – Polip adalah daging kecil yang tumbuh di dalam hidung. Polip disebabkan oleh banyak faktor, termasuk mukus. Ketika mukus menjadi sangat tebal, mukus terkadang akan membentuk bola dan menjadi polip.

  • Fibrosis sistik (cystic fibrosis) – Penyakit yang ditandai dengan menebalnya mukus di berbagai bagian tubuh, seperti paru-paru dan rongga hidung. Penebalan mukus tidak hanya menghalangi proses pernapasan namun juga menyebabkan mukus tidak dapat menghentikan organisme yang dapat menyebabkan infeksi.

  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh – Pasien yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah, misalnya pasien yang terkena HIV atau sedang menjalani kemoterapi, mudah terkena sinus karena mereka lebih rawan terkena infeksi.

  • Cedera wajah – Trauma pada wajah, termasuk pada pipi dan hidung, dapat mengubah struktur fisik organ dalam, yang dapat menyebabkan penyumbatan sinus.

Gejala Utama Sinusitis

  • Wajah yang terasa lunak
  • Wajah berubah warna menjadi merah
  • Mukus yang tebal atau berwarna hijau
  • Lendir berlebih (yang dapat dirasakan saat mukus yang tebal melewati tenggorokan)
  • Demam
  • Batuk
  • Nyeri pada bagian wajah di mana sinus dapat ditemukan
  • Sakit kepala yang disertai dengan nyeri pada wajah

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang menderita sinusitis dapat ditangani oleh dokter umum. Pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk mengukur suhu tubuh, merasakan struktur wajah, atau mencari tanda-tanda sinusitis pada tubuh, seperti bercak merah atau cairan hidung yang berwarna hijau. Ia juga dapat memeriksa riwayat kesehatan pasien, terutama apabila pasien telah didiagnosis menderita flu atau pilek sebelum gejala sinusitis terjadi.

Dokter juga dapat menggunakan senter kecil untuk memeriksa sinus. Apabila sinus sulit dilihat, ia dapat memasukkan endoskop, tabung kecil yang fleksibel dan memiliki cahaya dan kamera di ujungnya, sehingga ia dapat melihat kondisi di dalam rongga hidung melalui layar.

Tergantung pada diagnosis yang dihasilkan, pasien dapat diberi obat-obatan. Apabila setelah pengobatan selesai dan sinusitis belum sembuh atau bertambah parah, dokter umum dapat menyarankan pasien untuk menemui dokter THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Pengobatan untuk sinusitis antara lain adalah:

  • Obat semprot dekongestan, yang sebaiknya digunakan untuk sinusitis akut; tidak boleh digunakan sampai lebih dari seminggu
  • Antibiotik, apabila sinusitis disebabkan oleh bakteri
  • Larutan saline, untuk menghilangkan mukus yang tebal
  • Antihistamin, terutama apabila mukus disertai dengan rhinitis
  • Operasi, apabila sinusitis disebabkan oleh kelainan bawaan

Sinusitis dapat dicegah dengan:

  • Sering mencuci tangan
  • Memakai disinfektan pada tangan
  • Vaksinasi flu
    Rujukan:

  • O'Handley, Tobin EJ, Shah AR. Otorhinolaryngology. In: Rakel RE, ed. Textbook of Family Medicine. 8th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 19.

  • Cincinnati Children's Hospital Medical Center. Evidence-based care guideline for management of acute bacterial sinusitis in children 1 to 18 years of age. Cincinnati (OH): Cincinnati Children's Hospital Medical Center; 2006.

  • Chow AW, Benninger MS, Brook I, Brozek JL, Goldstein EJ, Hicks LA, et al. IDSA clinical practice guideline for acute bacterial rhinosinusitis in children and adults. Clin Infect Dis. 2012; 54:e72-e112.

  • Rosenfeld RM, Andes D, Bhattacharyya N, Cheung D, Eisenberg S, Ganiats TG, et al. Clinical practice guideline: adult sinusitis. Otolaryngol Head Neck Surg. 2007;137:S1-S31.

Bagikan informasi ini: