Apa itu Cedera Sumsum Tulang Belakang?

Sumsum tulang belakang adalah struktur berbentuk tabung panjang yang berawal di dasar tengkorak hingga di atas pinggang. Sumsum tulang belakang terdiri dari serabut saraf dan sel yang membawa informasi masuk dan keluar otak. Sehingga, otak dapat memberi perintah dan mengendalikan fungsi tubuh dan organ dalam.

Cedera sumsum tulang belakang (spinal cord injury/SCI) adalah segala kerusakan pada sumsum tulang belakang. Seringkali, kerusakan disebabkan oleh trauma. Penyebab lain adalah pertumbuhan abnormal dan infeksi. Cedera juga dapat terjadi jika pasokan darah ke sumsum tulang belakang terhenti.

SCI dapat menyebabkan efek jangka panjang pada kehidupan pasien. Seseorang dapat kehilangan beberapa (SCI tidak total) atau semua (SCI total) fungsi otot dan sensasi. Jika cedera terjadi di area leher, kedua lengan dan kaki dapat lumpuh total. Sementara itu, kelumpuhan kedua kaki dapat disebabkan oleh cedera pada bagian bawah sumsum tulang belakang.

Sumsum tulang belakang tidak dapat memulihkan kerusakan dengan sendirinya. Maka, prognosis seringkali buruk. SCI adalah penyebab umum kelumpuhan total dan kematian pada anak-anak dan orang dewasa.

Penyebab Cedera Sumsum Tulang Belakang

Penyebab utama cedera sumsum tulang belakang adalah trauma. Hal ini dapat disebabkan oleh:

  • Tindakan kekerasan seperti luka tembak atau luka tusuk pada tulang belakang

  • Olahraga impaksi, seperti sepak bola, menyelam, dan hoki

  • Terjatuh kerap menyebabkan cedera sumsum tulang belakang pada lansia

  • Kecelakaan bermotor - Hal ini menjadi penyebab dari 35% semua kasus cedera sumsum tulang belakang

Penyebab cedera sumsum tulang belakang lainnya adalah:

  • Peradangan atau degenerasi diskus tulang belakang

  • Pertumbuhan abnormal yang menekan sumsum tulang belakang

  • Pasokan darah yang tidak mencukupi akibat tekanan darah rendah atau aneurisma.

  • Arthritis, penyakit sendi yang dapat menyebabkan kekakuan atau nyeri pada punggung atau leher. Kondisi ini juga dapat memengaruhi saraf dan sumsum tulang belakang.

Gejala Utama Cedera Sumsum Tulang Belakang

Gejala SCI bergantung pada bagian sumsum tulang belakang yang rusak, serta jenis cedera (total atau tidak total).

SCI dapat menyebabkan:

  • Kehilangan sensasi parsial atau total

  • Kehilangan fungsi otot parsial atau total

  • Kehilangan kendali kandung kemih dan usus

  • Kehilangan fungsi seksual normal

  • Kesulitan bernapas - Apabila cedera terjadi di bagian leher atas.

  • Leher atau punggung terpelintir, sehingga menyebabkan gangguan berjalan dan keseimbangan.

Apabila otak kehilangan kendali fungsi tubuh, banyak masalah kesehatan dapat terjadi. Komplikasi SCI yang umum adalah:

  • Disrefleksia otonom - Ini adalah sindrom klinis serius yang dapat menyebabkan hipertensi akut. Jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan kematian.

  • Infeksi saluran kemih dan ginjal - Infeksi ini menyebabkan pasien tidak dapat mengendalikan kandung kemih.

  • Trombosis vena dalam - Ini adalah gumpalan darah yang terbentuk di kaki bawah. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan emboli paru

  • Gangguan pernapasan - SCI pada area dada dapat membuat seseorang kesulitan bernapas. Pasien juga tidak dapat batuk dengan keras. Ini meningkatkan risiko infeksi pernapasan dan edema paru.

  • Sepsis - Pasien SCI lebih rentan terkena infeksi, sehingga risiko sepsis meningkat. Sepsis terjadi ketika respons tubuh terhadap infeksi melukai organ dan jaringan tubuh, sehingga dapat membahayakan nyawa.

  • Hipertonia spastik - Ini dapat menyebabkan otot berkontraksi dengan sangat cepat dan refleks tendon dalam yang berlebihan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Cedera sumsum tulang belakang didiagnosis dengan uji pencitraan. Di antaranya, CT scan, MRI, dan rontgen. Pemeriksaan ini mengambil gambar sumsum tulang belakang dan struktur sekitarnya. Gambar tersebut digunakan untuk mencari adanya pertumbuhan abnormal, gumpalan darah, fraktur, hernia diskus, masalah tulang punggung, dan perubahan degeneratif pada tulang belakang. Dokter juga melakukan pemeriksaan saraf untuk menilai keparahan kondisi dan menentukan pengobatan yang sesuai.

Kerusakan akibat cedera sumsum tulang belakang tidak dapat dipulihkan. Pengobatan dapat mencegah cedera memburuk serta membantu pasien agar tetap produktif.

Penderita SCI sering mendapatkan perawatan darurat pada tempat kecelakaan atau waktu dipindahkan. Tujuan perawatan darurat adalah menstabilkan tulang belakang dan leher agar kerusakan tidak bertambah parah, serta pasien bernapas dengan baik. Ini dilakukan dengan ventilator dan alat halo yang dipasang di sekitar kepala pasien.

Di ruang UGD, pasien mendapatkan pengobatan untuk pembengkakan dan peradangan. Operasi sering dilakukan untuk mengembalikan posisi tulang belakang dengan penopang punggung atau axial traction, sebelum sepenuhnya diimobilisasi. Ini membantu mengurangi tekanan pada sumsum tulang belakang dan mencegah kerusakan tambahan.

Pengobatan SCI dilanjutkan dengan rehabilitasi intensif. Tujuannya adalah membantu mengembalikan fungsi normal tubuh agar pasien dapat hidup mandiri. Fokus terapi adalah membantu menjaga fungsi otot dan mempelajari kemampuan motorik yang hilang. Pasien juga diajari teknik untuk melakukan aktivitas harian dengan alat dan metode yang tersedia.

Banyak pasien yang kesulitan untuk pulih total. Hal ini bergantung pada keahlian tim medis dalam menangani komplikasi, serta mencegah timbulnya komplikasi baru.

Rujukan:

  • Spinal cord injury: Hope through research. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. http://www.ninds.nih.gov/disorders/sci/detail_sci.htm.

  • Weiss, J.M. (15 March 2010). “Spinal cord injury”. In Weiss, L.D.; Weiss, J.M.; Pobre, T. Oxford American Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation. Oxford University Press, USA.

  • Teufack, S.; Harrop, J.S.; Ashwini, D.S. (29 October 2012). “Spinal Cord Injury Classification”. In Fehlings, M.G.; Vaccaro, A.R.; Maxwell B. Essentials of Spinal Cord Injury: Basic Research to Clinical Practice. Thieme.

Bagikan informasi ini: