Apa itu Stenosis Subglotik?

Stenosis subglotik (SGS) adalah penyebab paling umum ketiga dari masalah saluran napas pada anak-anak. Ini berupa penyempitan saluran subglotik atau bagian trakea yang berada tepat di bawah pita suara. Seseorang dapat terlahir dengan kondisi ini atau mendapat kondisi ini di kemudian hari. Ini juga dapat terjadi secara mendadak tanpa sebab yang jelas.

SGS dapat menyebabkan penyumbatan saluran napas berat atau ringan. Kondisi ini juga sering kali menyebabkan krup berulang. Krup adalah peradangan laring dan trakea yang terjadi pada anak-anak. Pada kasus yang paling parah, SGS merupakan kondisi gawat darurat. Ia dapat menyebabkan kematian jika tidak segera diobati. Namun, kondisi ini cukup langka.

Keparahan SGS derajat penyumbatan yang terjadi. Derajat satu berarti penyumbatan berkisar kurang dari 50%. Sedangkan derajat dua artinya penyumbatan tersebut lebih dari 51%, namun kurang dari 70%. Kondisi dikategorikan ke dalam derajat tiga jika penyumbatan sudah lebih dari 71% dan kurang dari 99%. Derajat empat, yang merupakan kondisi terparah, artinya saluran subglotik sudah tertutup sepenuhnya.

SGS diobati dengan obat-obatan atau operasi.

Penyebab Stenosis Subglotik

Para bayi dapat terlahir dengan kondisi stenosis subglotik jika saluran napas mereka tidak terbentuk dengan sempurna selama mereka di dalam kandungan. Akibatnya, diameter saluran subglotik kurang dari 4 mm. SGS juga dikaitkan dengan beberapa gangguan kesehatan yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel dan jaringan yang sehat.

Sementara itu, SGS yang didapat sering kali terjadi saat bayi prematur menjalani intubasi. Intubasi adalah penyisipan selang pernapasan ke dalam tenggorokan. Fungsinya untuk membantu pasien agar dapat bernapas dengan baik. SGS juga dapat timbul jika saluran napas terinfeksi atau rusak karena cedera traumatis. Penyebab yang memungkinkan lain adalah refluks gastrointestinal. Ini menyebabkan asam lambung naik kembali ke esofagus. Kondisi ini dapat menyakiti saluran napas dan membuatnya meradang.

Pada beberapa kasus, SGS terjadi begitu saja tanpa sebab yang jelas.

Gejala Utama Stenosis Subglotik

Salah satu pertanda awal dari SGS adalah stridor. Ini berupa suara mengi yang dihasilkan bayi saat sebagian trakea mereka tersumbat. Namun mengi bukan hanya gejala SGS. Ini dapat disebabkan oleh lesi pulmonal, bronchial, dan trakea. SGS juga dapat menyebabkan krup berulanng. Pertanda SGS lainnya adalah napas pendek, sulit menyusu, dan sulit berkembang.

Pada kasus yang lebih parah, pasien dapat memperlihatkan gejala berupa suara yang lemah atau serak. SGS juga dapat menyebabkan paralisis pita suara.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

SGS didiagnosis dengan mikrolaringoskopi dan bronkoskopi (MLB). Caranya dengan menyisipkan selang tipis dan lentur, yang dilengkapi dengan kamera, melalui melalui mulut ke dalam saluran napas. Prosedur ini memerlukan bius total. Artinya, pasien takkan merasa sakit selama prosedur berlangsung. Mereka pun kemungkinan takkan mengingat tes ini. Namun, ada beberapa risiko dari prosedur ini. Saluran napas anak dapat terluka. Mereka juga bisa mengalami sakit tenggorokan. Maka, pasien harus dirawat di rumah sakit. Hasil tes sudah akan tersedia bagi orang tua dalam 24 jam.

Pengobatan tidak diperlukan jika SGS bersifat ringan dan tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, dokter cenderung ingin memantau kondisi anak dengan endoskopi secara berkala. Tujuannya untuk memastikan penyakit ini tidak berkembang.

Jika gejalanya sudah parah, operasi dapat dipertimbangankan. Operasi dilaksanakan untuk memperlebar saluran napas. Tandur tulang rawan diambil dari bagian tubuh lain dari tubuh pasien dan sebuah bidai plastik akan digunakan untuk memastikan saluran subglotik tetap terbuka. Bidai ini akan dikeluarkan setelah enam minggu.

Saluran subglotik juga dapat diperlebar melalui endoskopi. Untuk prosedur ini, sebuah endoskop akan disisipkan melalui mulut, ke dalam saluran napas. Saat endoskop mencapai bagian saluran subglotik yang menyempit, sebuah balon akan dipompa untuk memperbesar saluran tersebut. Jaringan parut dan yang berlebih, yang kemungkinan menyebabkan penyumbatan, dapat diangkat atau dipotong. Ini akan dilakukan dengan menggunakan laser atau pisau bedah kecil.

Pasien akan menjalani endoskopi lagi dalam beberapa minggu pasca operasi. Tujuannya untuk memeriksa saluran napas dan memastikan jika itu telah sembuh dengan baik. Tes ini juga untuk mencari potensi komplikasi. Pasien kemungkinan akan memerlukan terapi wicara. Ini dapat membantu mereka untuk menangani perubahan akibat pita suara mereka yang melebar.

Kasus SGS yang sangat parah memerlukan trakeostomi. Prosedur ini berupa pembuatan saluran napas tiruan pada leher bagian bawah. Ini membantu pasien untuk menghirup oksigen melalui hidung dan mulut. Untuk melaksanakannya diperlukan operasi terbuka konvensional.

Rujukan:

  • Fearon B, Cotton R. Surgical correction of stenosis subglotik of the larynx in infants and children. Progress report. Ann OtolRhinolLaryngol. 1974 Jul-Aug. 83(4):428-31.

  • Monnier P, Savary M, Chapuis G. Partial cricoid resection with primary tracheal anastomosis for stenosis subglotik in infants and children. Laryngoscope. 1993 Nov. 103(11 Pt 1):1273-83.

  • Rizzi MD, Thorne MC, Zur KB, Jacobs IN. Laryngotracheal reconstruction with posterior costal cartilage grafts: outcomes at a single institution. Otolaryngol Head Neck Surg. 2009 Mar;140(3):348-53. Cited in PubMed; PMID 19248941.

  • Rao A, Starritt N, Park J, Kubba H, Clement A. Stenosis subglotik and socio-economic deprivation: a 6-year review of the Scottish National Service for Paediatric Complex Airway Reconstruction. Int J PediatrOtorhinolaryngol. 2013 Jul. 77(7):1132-4.

Bagikan informasi ini: