Apa itu Kanker Tenggorokan?

Kanker tenggorokan adalah kanker yang berkembang di dalam tenggorokan. Istilah ini juga merujuk pada kanker kotak suara dan amandel. Tenggorokan adalah organ berbentuk tabung yang terdiri dari otot. Organ tersebut menghubungkan mulut dan hidung dengan batang tenggorokan dan kerongkongan (esofagus). Tenggorokan adalah tempat makanan dan cairan melintas untuk mencapai lambung.

Di sisi lain, kotak suara adalah organ berbentuk tabung yang berada di dalam leher. Kotak suara juga dikenal sebagai laring. Di dalamnya terdapat pita suara yang digunakan untuk membuat suara. Sedangkan amandel berupa dua buah kelenjar getah bening yang berada di kedua sisi tenggorokan. Keduanya membantu mencegah penyakit dengan cara menghentikan patogen agar tidak memasuki mulut.

Kanker tenggorokan terjadi saat sel-sel di dalam tenggorokan, kotak suara, atau amandel mengalami mutasi. Abnormalitas ini dapat mencegah pergantian sel-sel lama dengan sel-sel baru. Makin lama, sel-sel tersebut akan membentuk tumor kanker.

Kanker tenggorokan relatif jarang terjadi. Berdasarkan statistik, penyakit ini menyerang kurang dari 2% orang dewasa di seluruh dunia.

Penyebab Kanker Tenggorokan

Secara umum, kanker disebabkan oleh perubahan sel-sel DNA yang terjadi secara abnormal. Di dalam sebuah sel terdapat DNA yang mengandung sejumlah gen. Kemudian, gen-gen ini memberi perintah mengenai saat yang tepat untuk membentuk sel-sel baru, kapan sel-sel lama akan mati, dan bagaimana sel-sel akan tumbuh dan terbelah. Perubahan DNA dapat menyebabkan sel-sel tersebut menjadi tidak beraturan. Alih-alih mati dan diganti dengan sel-sel baru di ujung masa hidupnya, sel-sel lama justru menggandakan dan membelah diri secara tak terkendali. Inilah yang memicu pertumbuhan tumor kanker.

Penyebab perubahan DNA secara abnormal masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor risiko terbukti meningkatkan risiko kanker pada seseorang. Faktor risiko kanker tenggorokan adalah penggunaan tembakau atau merokok, penyalahgunaan alkohol, dan penyakit asam lambung (GERD). Faktor risiko lainnya adalah virus HPV dan pola makan kurang serat dari buah-buahan dan sayur-mayur.

Kanker tenggorokan dapat berupa karsinoma sel skuamosa atau adenokarsinoma. Karsinoma sel skuamosa terjadi jika kanker memulai pertumbuhannya pada sel-sel pipih yang melapisi tenggorokan. Jenis ini merupakan yang paling umum dari kanker tenggorokan. Sedangkan adenokarsinoma terbentuk di dalam sel-sel berkelenjar. Ini termasuk kanker yang langka.

Gejala Utama Kanker Tenggorokan

Tanda-tanda dan gejala kanker tenggorokan tidak terlalu spesifik. Artinya, gejala dan tanda tersebut dapat disebabkan oleh gangguan tenggorokan lain. Ini termasuk tonsillitis dan laringitis. Gejalanya adalah batuk yang tak kunjung sembuh meski sudah diobati, sulit menelan, benjolan yang tampak jelas di bagian leher, dan sakit tenggorokan kronis. Tanda-tanda lainnya, yaitu tidak mampu berbicara dengan jelas, suara menjadi serak, dan nyeri telinga.

Pasien dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter jika gejala-gejala tersebut terus menetap atau tidak merespons pengobatan standar.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien kanker tenggorokan ditangani oleh ahli kanker (dokter spesialis onkologi). Penyakit ini dapat didiagnosis dengan alat berupa selang tipis yang lentur, yaitu endoskop. Alat ini dimasukkan melalui mulut, lalu menurun hingga ke tenggorokan. Kamera yang terdapat pada selang ini akan mengirimkan gambar ke layar video. Gambar ini membantu dokter mengenali tanda-tanda yang tidak normal. Laringoskopi juga digunakan untuk mendiagnosis kanker tenggorokan. Tes ini dilakukan dengan cara yang sama dengan endoskopi. Namun, alih-alih memakai endoskop, tes ini menggunakan alat bernama laringoskop. Ini sangat berguna, terutama dalam mendiagnosis kanker laring.

Jika tumor ditemukan di dalam tenggorokan, sejumlah kecil jaringan tenggorokan akan diambil untuk prosedur biopsi. Jaringan tersebut dapat diambil melalui operasi terbuka yang memerlukan pembuatan sayatan di area leher. Jaringan juga dapat diambil dengan menyisipkan jarum secara langsung pada tumor. Kemudian, sampel jaringan dikirim ke laboratorium untuk menentukan jika tumor tersebut mengandung kanker atau tidak.

Jika terbukti mengandung sel kanker, dokter akan melanjutkan dengan menentukan perluasan kanker untuk mengetahui stadiumnya. Untuk hal ini, dokter akan melaksanakan tes pencitraan, seperti MRI dan rontgen, serta CT-scan dan PET-scab.

Stadium kanker tenggorokan mengindikasikan keparahannya. Makin tinggi stadium kanker, makin sulit pula untuk disembuhkan.

  • Stadium 0 - Terdapat tumor kecil yang tidak menyebar ke dalam area tenggorokan dan leher.

  • Stadium 1 - Tumor telah bertumbuh cukup besar (ukurannya tidak lebih dari 7 cm), namun tetap berada di area tenggorokan.

  • Stadium 2 - Ukuran tumor lebih dari 7 cm, namun tetap berada di tenggorokan.

  • Stadium 3 - Sel-sel kanker telah menyebar ke jaringan di sekitarnya.

  • Stadium 4 - Sel-sel kanker telah menyebar ke organ tubuh terdekat.

Untuk kanker tenggorokan stadium awal, radioterapi sudah cukup dapat menyembuhkannya. Pengobatan ini membunuh sel-sel kanker dengan sinar radiasi bertenaga tinggi. Radiasi tersebut sangat terarah, sehingga terapi ini dapat meminimalisir kerusakan pada jaringan di sekitar tumor. Di sisi lain, kanker stadium lanjut diobati dengan perpaduan operasi dan radioterapi.

Tujuan operasi adalah untuk mengangkat seluruh tumor dan menjaga tenggorokan dan struktur di sekitarnya agar tetap utuh. Namun, pada pasien kanker tenggorokan stadium lanjut (stadium 3 atau 4), hal ini sangatlah tidak mungkin. Pada beberapa kasus, sebagian tenggorokan, laring, dan kelenjar getah bening di sekitarnya harus diangkat. Tujuannya untuk memastikan tidak ada sel-sel kanker yang tertinggal. Hal ini membuat pasien lebih berisiko kehilangan kemampuan berbicara dan bernapas secara normal. Namun, beberapa pengobatan sudah tersedia untuk mengembalikan kemampuan berbicara dan memperbaiki struktur tenggorokan yang rusak.

Selain itu, kemoterapi juga dapat dilaksanakan untuk membunuh sel-sel kanker. Pengobatan ini memanfaatkan obat antikanker yang disuntikkan langsung kepada vena. Obat ini pun dapat diminum. Kemoterapi biasanya dipadukan dengan radioterapi untuk membunuh sisa-sisa sel kanker.

Rujukan:

  • Niederhuber JE, et al., eds. Cancer of the head and neck. In: Abeloff’s Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, Pa.: Churchill Livingstone Elsevier; 2014. http://www.clinicalkey.com.

  • Deng GE, et al. Evidence-based clinical practice guidelines for integrative oncology: Complementary therapies and botanicals. Journal of the Society for Integrative Oncology. 2009;7:85.

  • Oropharyngeal cancer treatment. National Cancer Institute. http://www.cancer.gov/types/head-and-neck/patient/oropharyngeal-treatment-pdq.

Bagikan informasi ini: