Apa itu Timoma?

Timoma adalah tumor yang berkembang di kelenjar timus, yaitu organ kecil yang terletak di belakang tulang dada dan di antara paru-paru. Organ ini mengeluarkan hormon yang bernama timosin. Hormon tersebut penting dalam mengembangkan T-limfosit atau T-sel yang merupakan bagian krusial dari sistem kekebalan tubuh. Sel tersebut membantu tubuh melawan patogen mematikan.

Timoma adalah jenis kanker langka. Biasanya berkembang dengan lambat dan jarang menyebar ke bagian tubuh lain. Sehingga, timoma bisa dianggap tidak agresif. Prognosis dari kondisi ini juga baik. Jika terdeteksi dini, kanker ini dapat disembuhkan dengan pengobatan kanker standar. Penyebab Timoma

Timoma sering ditemukan pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi. Dalam keadaan normal, sistem kekebalan tubuh melindungi tubuh terhadap penyakit dan infeksi. Namun dalam keadaan abnormal, sistem kekebalan tubuh malah menyerang sel sehat dan jaringan di tubuh. Serangan yang diberikan sama seperti serangan untuk melawan patogen.

Gejala Utama Timoma

Pada tahap awal, timoma tidak menimbulkan gejala. Karenanya, banyak kasus tahap awal ditemukan secara tidak sengaja saat pasien menjalani pemeriksaan dada (rontgen dada) untuk kondisi medis yang tidak terkait.

Seiring pertumbuhan tumor, gejala akan mulai terlihat. Yang paling umum adalah batuk yang tidak kunjung hilang. Selain itu, gejala lainnya mencakup masalah pernapasan dan nyeri dada. Penting untuk dicatat bahwa gejala ini tidak spesifik untuk timoma. Ini berarti bahwa gejala yang sama juga bisa disebabkan oleh masalah pernapasan lainnya. Seperti, infeksi asma dan paru-paru. Pasien dengan gejala seperti itu disarankan untuk menemui dokter mereka untuk diagnosis dan perawatan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien dengan gejala yang disebutkan di atas harus menjalani sejumlah tes untuk mendapatkan diagnosis. Tes yang pertama biasanya adalah pemeriksaan fisik dimana dokter mencari tanda-tanda, seperti benjolan di daerah dada. Riwayat medis pasien juga ditinjau. Dokter ingin mengetahui apakah pasien memiliki riwayat penyakit autoimun tertentu.

Jika dokter menemukan adanya kelainan, ia akan meminta pasien menjalani rontgen dada. Tes ini menghasilkan gambar paru. Ini adalah tes standar yang digunakan pada pasien dengan nyeri dada, batuk terus-menerus, dan sesak napas.

Jika gambar rontgen menunjukkan benjolan atau tumor, dokter akan memerintahkan tes pencitraan yang lebih sensitif, seperti MRI, PET, dan CT. Tes tersebut memberikan rincian lebih lanjut yang tidak dapat diberikan rontgen dada.

Kemudian, dokter akan memastikan apakah tumor itu jinak atau ganas melalui biopsi. Pada tes ini, sepotong kecil tumor akan diambil untuk penelitian lebih lanjut. Biopsi dapat dilakukan selama operasi terbuka atau juga bisa dilakukan dengan menggunakan jarum halus.

Biopsi dapat menentukan apakah tumor itu bersifat kanker atau tidak. Ini juga bisa mengonfirmasi jenis sel yang menyerang dan stadium kanker.

  • Stadium I - Semua sel kanker berada di dalam timus.

  • Stadium II - Sel kanker telah menyebar ke struktur sekitar kelenjar timus. Sel tersebut juga mungkin telah menyebar ke lapisan rongga dada.

  • Stadium III - Sel kanker telah menyebar ke organ-organ di dekat paru-paru.

  • Stadium IVA - Kanker telah menyebar di sekitar jantung dan paru-paru.

  • Stadium IVB - Kanker telah menyebar ke sistem getah bening atau darah.

Pengobatan standar untuk timoma tahap awal adalah operasi yang dilakukan dengan teknik konvensional. Pada teknik ini, dokter bedah perlu membuat sayatan yang membuka tulang dada. Hal ini dilakukan untuk memungkinkan dokter bedah untuk mengakses rongga dada anterior. Kemudian, ia akan mengangkat tumor dan jaringan yang mengelilinginya.

Pasien dengan tumor kecil stadium awal mungkin juga memenuhi syarat untuk jenis pengobatan yang kurang invasif yang menggunakan sayatan kecil dan laparoskop. Prosedur ini meminimalkan banyak risiko dan komplikasi pembedahan. Pasien juga dapat pulih dengan lebih cepat.

Timoma stadium lanjut juga diobati dengan operasi. Tujuannya adalah untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin. Hal ini bisa meredakan gejala, tapi tidak menyembuhkan penyakit. Operasi dilanjutkan dengan radioterapi. Perawatan ini menggunakan sinar-x berenergi tinggi atau partikel lainnya untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa di dalam tubuh.

Radioterapi juga bisa dikombinasikan dengan kemoterapi. Perawatan ini menggunakan obat yang dirancang untuk menghancurkan sel kanker. Kedua terapi tersebut bekerja dengan mencegah sel kanker berkembang dan membelah. Obat ini bisa disuntikkan langsung ke pembuluh darah atau juga diminum seperti biasa.

Pengobatan lain disebut terapi target. Terapi ini bekerja dengan menargetkan protein spesifik, gen, atau jaringan jaringan kanker. Ini bisa mencegah pertumbuhan dan penyebaran sel kanker sekaligus mencegah kerusakan sel sehat.

Setiap metode pengobatan membawa risiko dan komplikasi. Misalnya, operasi yang menghilangkan tumor membuat pasien berisiko mengalami perdarahan dan infeksi parah. Sementara, kemoterapi bisa menyebabkan mual, muntah, dan rambut rontok. Sedangkan, efek samping terapi radiasi adalah kelelahan, buang air besar encer, dan kesulitan menelan.

Risiko ini dijelaskan secara hati-hati oleh dokter kepada pasien sebelum pengobatan dimulai. Namun, dokter hanya menyarangkan perawatan jika manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya.

Pasien yang menjalani kemoterapi atau radioterapi dipantau secara hati-hati. Selain itu, pasien juga menjalani tes pencitraan untuk melihat bagaimana tubuh mereka merespons pengobatan. Dokter mungkin perlu melakukan penyesuaian dari waktu ke waktu untuk mencapai hasil pengobatan yang lebih baik.

Tidak ada pengobatan kanker yang bisa memberikan jaminan bahwa kanker tidak akan muncul lagi. Kanker bisa berkembang agi di tempat asalnya atau di bagian tubuh yang lain. Dengan demikian, pasien dijadwalkan untuk konsultasi rutin untuk memastikan bahwa tidak ada tumor baru yang tumbuh di dalam tubuh mereka. Jika ada, melalui konsultasi yang dijalani diharapkan tumor dapat terdeteksi dini dan dapat diobati dengan mudah.

Rujukan:

  • Van Geffen WH, Sietsma J, Roelofs PM, Hiltermann TJ. A malignant retroperitoneal mass–a rare presentation of recurrent thymoma. BMJ Case Rep. 2011 Dec 1;2011. pii: bcr0920114737

  • Mitchell, Richard Sheppard; Kumar, Vinay; Robbins, Stanley L.; Abbas, Abul K.; Fausto, Nelson (2007). Robbins basic pathology. Saunders/Elsevier.

Bagikan informasi ini: