Apa itu Anorgasmia?

Anorgasmia, juga dikenal sebagai sindrom Coughlan, adalah salah satu bentuk disfungsi seksual yang ditandai dengan ketidakmampuan pasien untuk mencapai orgasme bahkan dengan stimulasi yang cukup. Anorgasmia juga dapat dikaitkan dengan jeda lama yang dibutuhkan untuk mencapai orgasme, yang memberikan rasa stres yang signifikan bagi pasien. Kondisi ini biasanya ditemukan pada wanita, terutama bagi mereka yang sudah mencapai kelompok usia pasca-menuopause. Menurut penelitian, kondisi ini terjadi pada 10% - 33% wanita.

Beberapa orang mencapai orgasme dalam situasi yang spesifik, seperti stimulasi tertentu atau foreplay dengan jumlah tertentu. Variasi semacam ini sebenarnya dianggap normal. Namun, jika seseorang merasa ini menjadi masalah, akan lebih baik untuk berkonsultasi pada dokter atau ahli terapi seksual.

Penyebab Anorgasmia

Anorgasmia dapat terjadi karena beberapa penyebab, seperti:

  • Luka trauma pada organ kelamin atau organ panggul; luka trauma ini dapat diakibatkan oleh cedera pada bagian yang mengangkang, seperti akibat terjatuh dari palang keseimbangan atau dari sepeda.
  • Komplikasi akibat pembedahan pada daerah panggul
  • Pembedahan ginekologi, kesulitan dalam melahirkan, dan tindakan prostatik
  • Penyakit, seperti sklerosis ganda, cedera pada sumsum tulang belakang, dan diabetes mellitus
  • Kondisi psikologis seperti kecemasan, depresi, atau alkoholisme
  • Beberapa jenis obat seperti obat-obatan anti depresan
  • Kecanduan pada heroin dan narkoba lainnya

Bagi para wanita yang tidak memiliki riwayat penyakit atau riwayat penggunaan obat yang dapat mempengaruhi gejala atau kondisi yang muncul, anorgasmia dianggap sebagai kelainan orgasme bagi wanita, atau FOD. FOD didiagnosis bila gejala yang muncul sudah terjadi paling tidak selama enam bulan.

Terkadang, anorgasmia sendiri merupakan kombinasi dari beberapa penyebab.

Gejala utama dari anorgasmia adalah kegagalan untuk mencapai klimaks dalam hubungan seksual. Beberapa pasien dapat merasakan kurangnya intensitas yang dicapai saat orgasme, memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya untuk mencapai orgasme, dan merasakan rasa sakit di perut bagian bawah atau daerah panggul saat melakukan hubungan seksual. Gejala-gejala ini dapat membuat stres wanita tersebut.

Beberapa ahli mengklasifikasikan anorgasmia menjadi beberapa jenis. Anorgasmia Primer, atau anorgasmia seumur hidup, adalah jenis di mana seseorang tidak pernah merasakan orgasme. Sedangkan anorgasmia sekunder, atau anorgasmia dapatan, adalah saat seseorang mengalami kesulitan dalam mencapai orgasme dari biasanya, di mana orang tersebut memiliki fungsi seksual yang normal. Anorgasmia situasional adalah jenis yang paling sering ditemui, di mana seseorang hanya dapat mencapai orgasme dalam situasi tertentu atau dengan pasangan tertentu. Kemudian, anorgasmia general adalah jenis di mana seseorang tidak dapat mencapai orgasme, terlepas dari situasi atau pasangannya.

Banyak kasus anorgasmia situasional dan sekunder dapat pulih dengan sendirinya. Namun, kasus anorgasmia primer dan general biasanya baru bisa dipulihkan dengan jenis perwatan tertentu.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Anorgasmia paling baik ditangani oleh ahli terapi seksual. Para ahli ini memiliki spesialisasi dalam mengatasi disfungsi seksual, dan pada awalnya akan mengkonfirmasi diagnosisnya dengan serangkaian tes darah. Pemeriksaan neurologis yang menyeluruh kemudian akan dilakukan, dan kandungan hormon, gula darah, dan aliran darah pada organ kelamin akan dinilai kondisinya. Jika kondisi anorgasmia ini diakibatkan oleh penyakit medis, maka menentukan dan mengatasi penyakit tersebut menjadi langkah penting dalam menangani anorgasmia. Jika kondisi anorgasmia diakibatkan oleh cedera trauma pada daerah kemaluan, kemungkinan anorgasmia tidak dapat ditangani secara penuh.

Anorgasmia dapat ditangani dengan cara:

  • Mengubah gaya hidup dan cara berhubungan seksual
  • Mengurang stress dan kecemasan
  • Mencoba beberapa teknik stimulasi seksual yang berbeda
  • Latihan kegel
  • Menggunakan beberapa alat bantu seks, seperti pompa vakum dan vibrator
  • Terapi kognitif, sebuah terapi sikap yang membantu dalam merubah pandangan dan sikap seseorang terhadap hubungan seksual
  • Konseling bagi pasangan (untuk membantu mereka dalam mengatasi masalah dalam hubungan, baik di rumah maupun di kamar tidur)

Para wanita dapat diberikan terapi hormon, untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon. Terapi estrogen menunjukkan dapat meningkatkan aliran darah ke daerah kemaluan, membuatnya menjadi lebih sensitif. Ini dapat dilakukan dengan meminum pil atau dengan menggunakan sebuah plester. Terapi testosteron juga dapat dipertimbangkan.

Beberapa obat-obatan, seperti penghambat phosphodiesterase, juga dapat digunakan untuk mengatasi kondisi ini. Pil yang paling populer adalah sildenafil, atau lebih dikenal sebagai Viagra, yang terbukti berguna bagi wanita dan pria. Beberapa penelitan menunjukkan adannya perkembangan dalam disfungsi seksual saat obat tersebut dimakan satu jam sebelum melakukan hubungan seksual. Obat lain yang berada dalam kelas yang sama adalah vardenafil. Saat ini, obat tersebut hanya dibolehkan untuk dikonsumsi pria. Obat-obatan lain yang dapat membantu dalam mengangani kondisi ini adalah amanatadine, amphetamine, bupropion, cabergoline and yohimbine. Namun, efek positif dari obat-obatan tersebut dalam jangka panjang masih perlu dipertanyakan.

Pada pasien yang mengalami anorgasmia dalam pengaruh obat-obatan, mengurangi dosis penggunaan obat atau mengganti obatnya dapat mengatasi kondisi tersebut. Namun, ini perlu dilakukan dengan hati-hati bagi para pasien yang sedang meminum SSRI untuk mengatasi depresi. Dalam situasi semacam ini, lebih baik berkonsultasi terlebih dahulu dengan psikiater pasien psikiater sebelum melakukan perubahan tertentu.

Rujukan:

  • Biggs WS. Medical human sexuality. In: Rakel RE, ed. Textbook of Family Medicine 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 43.

  • Cowley D, Lentz GM. Emotional aspects of gynecology: depression, anxiety PTSD, eating disorders, substance abuse, "difficult" patients, sexual function, rape intimate partner violence, and grief. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:chap 9.

Bagikan informasi ini: