Apa itu Inkontinensia Fekal?

Inkontinensia fekal, juga dikenal sebagai inkontinensia tinja, adalah suatu gejala yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan buang air besar. Dalam kondisi ini, tinja dikeluarkan dari dalam tubuh secara tak terduga.

Kemampuan menahan buang air besar ditentukan oleh beberapa faktor. Secara anatomi, otot puborektalis dan sfingter anus harus masih utuh. Otot puborektalis akan memastikan bahwa tubuh dapat mengendalikan feses atau tinja yang padat, sementara sfingter anus internal, bersama dengan jaringan hemoroid, berfungsi untuk mengendalikan tinja cair dan gas atau buang angin. Sementara itu, sfingter anus eksternal adalah otot yang dapat dikendalikan dan dikontraksikan apabila dibutuhkan. Bersama dengan otot lain yang ada di bagian dasar panggul, keduanya dapat berfungsi sebagai penghalang dan membantu dalam proses buang air besar. Secara psikologis, beberapa refleks dan gerakan peristaltik yang normal bertanggung jawab untuk mempertahankan kemampuan buang air besar seseorang. Sistem saraf, termasuk saraf pundendal, yang merangsang sfingter anus eksternal, juga harus berfungsi dengan normal. Suatu cacat atau kelainan pada salah satu bagian tersebut dapat mengakibatkan inkontinensia fekal.

Inkontinensia fekal diperkirakan diderita oleh 2% dari populasi orang dewasa. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang tua, diderita oleh 45% individu yang tinggal di panti jompo. Kondisi ini 8 kali lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria dan lebih sering diderita oleh wanita yang telah melahirkan.

Penyebab Inkontinensia Fekal

Ada banyak kemungkinan penyebab dari inkontinensia fekal. Secara umum, penyebab dari kondisi ini dapat dikategorikan sebagai faktor anatomi atau saraf.

Penyebab yang paling umum adalah cedera yang terjadi selama proses melahirkan melalui vagina. Kondisi ini dapat disebabkan oleh dua hal: apakah disebabkan oleh sobeknya otot sfingter anus, atau karena gesekan atau kerusakan pada saraf pudendal. Sobeknya otot akan terjadi ketika proses melahirkan, dengan tingkat risiko yang tinggi pada pasien dengan laserasi (luka robekan) tingkat empat. Dilakukannya episiotomi dan penggunaan forcep selama proses melahirkan juga dapat meningkatkan risiko sobeknya otot. Kerusakan saraf pudendal terjadi karena cedera akibat tarikan atau terjepitnya saraf, terutama dalam proses melahirkan yang lama. Inkontinesia fekal yang menimpa pasien seperti ini biasanya terjadi beberapa tahun setelah cedera.

Inkontinensia fekal juga dapat terjadi akibat beberapa kelainan bawaan. Pasien dengan kelainan pada anus dan rektum, seperti anus yang tidak terbuka, cenderung memiliki otot panggul yang tidak terbentuk dengan sempurna. Walaupun perbaikan dengan operasi dapat menciptakan celah anus yang normal secara anatomi, namun tetap sulit untuk memberikan kemampuan mengendalikan buang air yang normal, dengan inkontinensia fekal terjadi pada 25% pasien pasca operasi. Kelainan bawaan pada sumsum tulang belakang, seperti spina bifida, juga dapat mengakibatkan inkontinesia fekal.

Trauma di daerah panggul juga dapat menyebabkan inkontinesia fekal, tetapi hal ini jarang terjadi. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor yang mengakibatkan cedera panggul, cedera tulang belakang, dan masuknya benda asing ke dalam rektum. Cedera iatrogenik juga dapat menyebabkan inkontinensia fekal. Hal ini biasanya terjadi dalam operasi pada anus atau rektum, seperti hemoroidektomi atau fistulotomi. Penyebab lainnya meliputi prolaps rektum, tumor ganas di anus atau rektum, dan radioterapi di daerah panggul.

Gejala Utama Inkontinensia Fekal

Dampak dari inkontinesia fekal dapat beragam, mulai dari merembesnya tinja cair (inkontinensia sebagian) hingga keluarnya tinja padat secara tak terduga setiap harinya (inkontinensia total). Gejala awal biasanya berupa keluarnya gas atau buang angin secara tak terduga, dan gejala tersebut bisa terus memburuk. Pasien dapat mengalami mencret, atau keluarnya cairan dari daerah anus. Apabila berulang kali atau terus menerus terkena cairan tersebut, maka kulit di sekitar daerah perineum dapat mengalami peradangan atau iritasi. Pasien biasanya akan mengalami sakit atau ketidaknyamanan, kulit tergores atau gatal-gatal pada daerah perianal. Kira-kira ada sebagian pasien inkontinensia fekal yang juga mengalami inkontinensia urin.

Selain gejala-gejala tersebut, inkontinensia fekal juga dikaitkan dengan masalah sosial dan psikologis. Sebagian besar orang yang mengalami kondisi ini cenderung menyembunyikan masalah mereka dan memilih untuk tetap tinggal di rumah daripada melakukan konsultasi dengan ahli medis. Ada banyak pasien yang bahkan akhirnya mengalami depresi.

Siapa yang Harus Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami tidak dapat mengendalikan buang air besar harus melakukan konsultasi dengan dokter bedah, akan lebih baik apabila dengan dokter ahli kolorektal. Beberapa pemeriksaan, seperti ultrasound endoanal, manometri anus dan pemeriksaan saraf pudendal, dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari inkontinensia fekal.

Penanganan awal dari inkontinensia fekal adalah tindakan secara tradisional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan menahan buang air besar, fungsi sfingter dan kualitas hidup pasien. Perubahan pola makan dengan meningkatan asupan serat juga dapat membantu. Pasien dengan inkontinensia fekal ringan dapat mengonsumsi obat untuk memadatkan kotoran, seperti psyllium. Obat untuk konstipasi, seperti loperamide dan kodein, juga dapat bermanfaat. Menjaga agar rektum tetap kosong dapat mencegah pengeluaran tinja yang tak terkendali. Selain itu, teknik seperti penggunaan obat suppositoria atau enema dan pembersihan usus besar, juga dapat dicoba. Peradangan atau infeksi pada kulit di perianal juga dapat diobati dengan pemakaian obat topikal. Terapi dengan biofeedback telah terbukti efektif bagi pasien dengan penghambatan saraf sebagian yang menyebabkan inkotinensia. Latihan otot panggul juga disarankan, dan dapat sedikit bermanfaat dalam beberapa kasus.

Apabila inkontinensia fekal tidak dapat dikendalikan dengan cara tradisional, maka harus dilakukan intervensi dengan operasi. Perbaikan utama dapat dilakukan untuk cedera sfingter ringan. Jenis perbaikan sfingter yang paling sering dilakukan adalah overlapping sphincteroplasty. Dalam tindakan ini, otot-otot akan diisolasi dan dipindahkan, sehingga otot akan terpisah dari jaringan luka dan jaringan penghubung di sekitarnya. Kemudian, otot tersebut diletakkan saling bertindihan, dengan tujuan untuk membuat tiruan dari cincin otot anus. Ada beberapa pendekatan lain yang lebih rumit, tergantung dari penyebab inkontinensia. Ketika cedera sfingter berhubungan dengan cedera pada rektum, pasien dapat menjalani operasi pengalihan tinja dan pembersihan. Pasien dengan kelainan bawaan dapat mejalani serangkaian operasi untuk memperbaiki kelainan dan mengembalikan fungsi sfingter.

Dengan adanya kemajuan teknologi, pendekatan yang lebih baru untuk menangani inkontinensia fekal juga telah ditemukan. Pendekatan tersebut meliputi perawatan radiofrequency untuk memperbesar susunan serat kolagen di otot sfingter; merangsang saraf sacral untuk meningkatkan kekuatan otot sfingter; dan penempatan sfingter anus buatan yang dapat diatur secara manual.

Untuk jenis inkontinensia yang sangat parah dan tidak dapat diatasi dengan metode lain, penempatan stoma mungkin harus dilakukan. Pembuatan stoma dilakukan dengan memasukkan suatu bagian dari usus besar dan membiarkannya untuk melewati dinding perut dan masuk ke kantung eksternal. Tindakan ini biasanya dilakukan sebagai pilihan terakhir.

Rujukan:

  • Madoff RD. Diseases of the rectum and anus. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 147.

  • Rao SSC. Fecal incontinence. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger and Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 17.

Bagikan informasi ini: