Apa itu TMS?

Tension Myositis Syndrome (TMS) adalah gangguan psikologis yang menyebabkan gejala fisik, seperti nyeri kronis pada punggung, fibromialgia, dan gangguan saluran pencernaan. Gejala-gejala ini tidak disebabkan oleh gangguan kesehatan lainnya dan seringkali tidak dapat dijelaskan.

Dr. John E. Sarno, seorang profesor yang dulunya bekerja di Clinical Rehabilitation Medicine di New York University, merupakan orang pertama yang memperkenalkan konsep TMS. Namun, sampai saat ini konsep TMS belum sepenuhnya diakui oleh komunitas kesehatan. Walaupun begitu, Dr. Sarno telah berhasil mendapatkan banyak pengikut dan banyak di antaranya adalah dokter dengan keahlian di berbagai bidang.

Konsep dasar dari TMS adalah ketika ada gejala pada fisik tubuh, namun belum ada uji kesehatan yang dapat menjelaskan penyebabnya, maka kemungkinan besar pasien menderita gangguan psikologis. Hal ini bukan berarti pasien hanya “membayangkan” gejala yang mereka alami, karena gejala tersebut memang terjadi.

Penyebab TMS

Menurut Dr. Sarno, penyebab penyakit ini adalah tekanan psikologis yang dialami seseorang ketika ia memaksa dirinya untuk berusaha memenuhi standar yang diberikan oleh orang lain. Sebagai contoh, ketika seseorang tumbuh di keluarga yang menyediakan makan malam pada waktu tertentu di malam hari maka kemungkinan ketika dewasa ia akan berusaha keras untuk melakukan hal yang sama. Walaupun ia telah bekerja selama 10 jam setiap harinya dan sangat lelah seusai bekerja, ia tetap akan menyiapkan makan malam pada waktu yang sama. Jika ia tidak berhasil, ia akan merasa tertekan.

Tekanan psikologis yang terjadi lama-kelamaan akan menimbulkan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Pada awalnya, gejala yang terjadi bersifat ringan, namun ketika tekanan tidak berkurang, gejala fisik yang terjadi akan menjadi gangguan kronis.

Penyebab lain dari TMS adalah perasaan yang terpendam. Ada beberapa orang yang diajari ketika mereka masih sangat kecil untuk menahan perasaan mereka karena masyarakat berharap mereka melakukan hal tersebut. Bahkan ketika mereka marah, mereka biasanya akan menyembunyikan kemarahan mereka karena mereka takut akan ditolak oleh masyarakat. Situasi ini juga dapat menyebabkan tekanan psikologis, yang dapat menyebabkan TMS.

Dr. Sarno percaya bahwa tekanan psikologis yang disebabkan oleh keadaan emosional seseorang dapat memicu sistem saraf autonomous, yang merupakan bagian dari sistem saraf yang bertugas untuk mengatur beberapa fungsi tubuh, seperti proses pencernaan, pernapasan, dan detak jantung.

Ketika dipicu oleh tekanan emosional, sistem ini akan menghambat aliran darah ke jaringan, saraf, dan otot. Darah membawa oksigen yang dibutuhkan oleh semua organ tubuh. Tanpa adanya oksigen, jaringan, saraf, dan otot akan terasa nyeri.

Gejala Utama TMS

Gejala utama dari TMS adalah nyeri kronis, namun gejala lain juga dapat terjadi, seperti gangguan pencernaan, kelelahan, malfungsi rahang temporal mandibular, dan sakit kepala. Beberapa pasien dapat merasakan nyeri yang berpindah dari suatu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya atau dari suatu bagian punggung ke bagian punggung lainnya.

Sebagai contoh, beberapa pasien merasakan nyeri pada leher yang tiba-tiba menghilang. Setelah beberapa saat, mereka akan mulai merasakan nyeri di bagian bawah punggung atau di lutut.

Siapa yang Harus Ditemui & Pengobatan yang Tersedia

Apabila Anda menderita nyeri kronis, kemungkinan Anda telah menemui beberapa dokter. Bahkan Anda mungkin telah diberitahu oleh dokter bahwa Anda hanya membayangkan gejala yang Anda alami. Hal ini mungkin terjadi karena Anda telah menjalani beberapa uji pencitraan dan uji laboratorium namun penyebab dari gejala yang Anda rasakan masih belum diketahui.

Walaupun diberitahu bahwa Anda hanya “membayangkan” gejala yang Anda alami dapat menyinggung perasaan, perkataan dokter tersebut mungkin ada benarnya.

Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan dan hasil uji pemeriksaan dan uji laboratorium Anda. Apabila Anda dapat memberikan hasil diagnosis dari dokter lain yang pernah Anda temui, hasil ini dapat membantu dokter Anda untuk memberikan diagnosis yang lebih akurat.

Apabila dokter beranggapan bahwa gejala Anda disebabkan oleh TMS, rencana pengobatan akan dibuat, salah satunya adalah membahas secara rinci penyakit Anda. Anda harus memahami penjelasan dari dokter karena pengobatan akan sangat bergantung pada pemahaman Anda mengenai penyebab dari gejala yang Anda rasakan. Ada beberapa orang yang sulit memahami bahwa gejala mereka disebabkan oleh perasaan mereka. Hal ini akan menyebabkan mereka tidak dapat mengubah pola pikiran mereka.

Kemudian, dokter akan mencoba mengetahui penyebab dari kondisi emosional Anda. Anda akan diberi pertanyaan seperti, apakah Anda pernah mengalami siksaan fisik atau emosional ketika Anda kecil? Apa situasi kehidupan Anda saat ini yang terus membuat Anda tertekan?

Ketika dokter telah membuat daftar faktor yang menyebabkan kondisi Anda, Anda akan diminta untuk menulis esai yang menjelaskan faktor-faktor tersebut. Tujuan dari esai ini adalah agar Anda dapat lebih memahami faktor tersebut.

Anda juga dapat diminta untuk menulis jurnal, yang dapat membantu Anda menciptakan hubungan antara gejala Anda dan perasaan Anda. Dokter juga akan menyarankan meditasi, membuat tujuan hidup (untuk jangka pendek dan panjang), memiliki sikap yang positif, berolahraga, dan gaya hidup yang sehat.

Rujukan:

  • Aurora RN, Kristo DA, Bista SR, et al. The treatment of restless legs syndrome and periodic limb movement disorder in adults-an update for 2012: practice parameters with an evidence-based systematic review and meta-analyses: an American Academy of Sleep Medicine Clinical Practice Guideline. Sleep. 2012;35:1039-1062.
  • Borkan JM. Restless Legs Syndrome. In: Ferri: Ferri's Clinical Advisor. 1st ed. Philadephia, Pa: Mosby Elsevier; 2014:section 1.
  • Chokroverty S, Avidan AY. Sleep and its disorders. In: Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, Mazziotta JC, eds. In: Bradley's Neurology in Clinical Practice. 6th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2012:chap 68.
  • Mahowald MW. Disorders of sleep. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 412.
  • Schurks M, Bussfeld P. Multiple sclerosis and restless legs syndrome: a systematic review and meta-analysis. Eur J Neurol. 2013;20:605-615.
  • Wilt TJ, MacDonald R, Ouellette J, et al. Pharmacologic therapy for primary restless legs syndrome: a systematic review and meta-analysis. JAMA Internal Med. 2013;173:496-505.
Bagikan informasi ini: