Apa itu Torsi Testis?

Torsi testis adalah kondisi medis darurat yang terjadi pada saat tali spermatika (struktur seperti tali yang memasok darah ke testikel) berputar atau terpelintir. Tingkat memutarnya antara 180 sampai 720 derajat. Jika testis berputar beberapa kali, aliran darah dari tali spermatika dapat benar-benar tersumbat dan ini bisa memicu matinya jaringan di testis.

Apabila mengalami kondisi tersebut, pasien harus segera mendapatkan tindakan medis dengan melakukan prosedur pembedahan enam jam setelah timbuln gejala. Semakin dini pembedahan dilakukan, maka semakin rendah risiko kerusakan ireversibelnya. Namun, pada beberapa pria, nyeri testis dapat sembuh tanpa perlu mendapatkan pengobatan, yaitu ketika tali spermatika yang terpelintir lepas dengan sendirinya. Meskipun tidak membahayakan, kondisi ini tetap mengharuskan penderitanya untuk berobat karena kondisi tersebut menempatkan mereka pada risiko torsi total yang signifikan.

Pengangkatan salah satu testis pada pasien memiliki efek minimal dan tidak berpengaruh pada fungsi seksual pria, karena testis yang tersisa tetap mampu menghasilkan jumlah testosteron dan sperma yang dibutuhkan sepanjang hidup pasien. Namun, dalam kasus torsi bilateral, yang sangat jarang terjadi, pasien akan menjadi infertile dan akibatnya tidak dapat menghasilkan hormon pria yang dibutuhkan untuk bereproduksi

Pada umumnya torsi testis terjadi setelah kelahiran atau selama fase puber. Namun, penyakit ini juga dapat menyerang anak laki-laki atau pria dari berbagai usia.

Penyebab Torsi Testis

Penyebab paling umum torsi testis adalah cacat genta, yaitu suatu kondisi di mana testis tidak melekat kuat pada lapisan skrotum sehingga mereka bebas melayang dan berayun seperti bel. Cacat genta menyumbang hingga 90% dari semua kasus torsi testis.

Penyakit ini berkembang karena trauma pada skrotum atau setelah melakukan aktivitas yang kencang, namun hal tesebut jarang terjadi. Pada beberapa pasien, penyebab penyakit ini tidak diketahui.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko torsi testis meliputi:

  • Kasus torsi testis sebelumnya - Tali spermatika dapat berputar dan terlepas sendirinya tanpa perawatan. Pasien memiliki risiko tinggi menderita torsi total, kecuali jika pasien tersebut menjalani operasi untuk mengikat pelir dengan benar pada lapisan skrotum.

  • Suhu dingin - Cuaca dingin sering dikaitkan sebagai penyebab torsi testis, terutama di negara-negara tropis.

  • Pertumbuhan testis yang cepat dan tidak biasa selama pubertas

  • Tidur

Gejala Utama Torsi Testis

Gejala yang paling mencolok torsi testis adalah rasa nyeri parah yang terjadi tiba-tiba pada skrotum dan testis. Pada beberapa pria, rasa sakit dapat hilang tanpa pengobatan namun hal tersebut kerap kembali lagi secara berulang dalam hitungan hari atau minggu. Ini dikenal sebagai torsi testis intermiten berulang. Gejala lainnya meliputi mual dan muntah, sakit perut, dan pembengkakan yang membuat satu testis terlihat lebih besar atau berada pada posisi yang lebih tinggi daripada yang lain. Tanda lain dari kondisi tersebut meliputi:

  • Sakit kepala ringan

  • Tidak ada atau menurunnya reflek kremaster - Refleks kremaster adalah refleks superfisial yang diamati pada pria. Cara memicunya dengan cara membelai ringan paha bagian dalam.

  • Demam ringan (jarang)

  • Adanya darah di air mani

Pada bayi baru lahir yang menderita torsi testis saat masih di dalam rahim, gejalanya bisa berupa testis yang tidak turun, menyusut (atrofi), atau tidak teraba (testis tidak dapat dirasakan). Daerah skrotum atau selangkangannya juga sering berubah warna.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang menderita nyeri yang tiba-tiba dan intens pada testis atau skrotum harus segera mencari perawatan darurat. Mereka akan ditangani oleh seorang ahli urologi, seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam diagnosis dan pengobatan masalah dan gangguan saluran kemih yang memengaruhi alat kelamin laki-laki.

Jika kondisi penyakit ini didiagnosis dan segera diobati dalam waktu empat sampai enam jam setelah timbulnya gejala, maka ada kemungkinan sebesar 90% testis dapat diselamatkan melalui prosedur pembedahan. Namun, di luar dari waktu ini, risiko kehilangan testikel seseorang sangat akan meningkat. Apabila setelah 24 jam dari gejala, ada kemungkinan 90% jaringan testis akan mati, sehingga testis yang rusak perlu untuk menghilangkan.

Pengujian dan prosedur untuk mendiagnosa kondisi tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan fisik testis, skrotum, selangkangan, dan perut untuk mencari pembengkakan dan kelainan lainnya. Dokter juga akan memeriksa refleks kastastik pasien.

  • Evaluasi riwayat kesehatan pasien dimana pasien akan ditanya tentang gejalanya dan sejak kapan mereka mulai merasakannya

  • Tes urin, untuk mengetahui adakah kelainan atau penyakit lain, seperti infeksi

  • Ultrasound, yang memberikan dokter sebuah citra/gambaran dari testikel dengan menggunakan gelombang frekuensi tinggi. Tes ini bisa menunjukkan kelainan pada skrotum dan mengetahui jika ada aliran darah yang tersumbat.

  • Pembedahan - Operasi terbuka dapat dilakukan segera tanpa perlu tes lain apabila gejalanya telah berlangsung lebih lama dari empat sampai enam jam.

Perawatan definitif untuk kondisi ini adalah pembedahan, yang berfokus untuk mengikatkan kedua testis ke skrotum atau menggantung seperti bel untuk mencegahnya bergerak, yang membuat tali sperma lebih mudah diputar. Prosedur ini dilakukan dengan bius total baik di ruang operasi, rumah sakit atau di ruang dokter. Untuk prosedurnya, ahli bedah akan:

  • Membuat sayatan kecil di skrotum

  • Melepaskan tali sperma secara manual

  • Mengamankan testis ke bagian dalam skrotum menggunakan jahitan

  • Tutup sayatan dengan jahitan yang mudah diserap

Pasien kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan sampai efek bius hilang. Seringkali, pasien diizinkan pulang ke rumah pada hari yang sama jika tidak ada komplikasi yang muncul.

Dalam kasus di mana testis tidak mendapatkan suplai darah selama lebih dari enam jam dan telah mengalami kerusakan ireversibel, maka testis akan dikeluarkan melalui prosedur yang disebut orchiectomy.

Pada umumnya pasien yang akhirnya hanya memiliki satu testis tetp bisa menjalani kehidupan dengan normal, karena testis yang tersisa mampu mengimbangi dan memproduksi cukup testosteron dan sperma. Ini berarti mereka tidak akan kehilangan kemampuan mereka untuk menjadi ayah. Setelah sembuh total, mereka diberi pilihan untuk mendapatkan prostesis atau testis buatan, yang menurut para dokter dapat membantu pasien dalam meningkatkan kepercayaan diri.

Rujukan:

  • Roth, C. C., Mingin, G. C., & Ortenberg, J. (2011). Salvage of bilateral asynchronous perinatal testicular torsion. J Urol, 185(6 Suppl), 2464-2468. doi: 10.1016/j.juro.2011.01.013

  • Rampaul MS, Hosking SW. Testicular torsion: most delay occurs outside hospital. Ann R Coll Surg Engl. 1998; 80: 169-172 Ringdahl E, Teague L. Testicular torsion. Am Family Physician. 2006 Nov 15;74(10):1739-1743.

Bagikan informasi ini: