Apa itu Prolaktinoma dan Masalah Kelenjar Pituitari?

Kelenjar pituitari (hipofisis) adalah kelenjar kecil yang terletak di dasar otak. Meskipun kecil, kelenjar ini bertanggung jawab untuk menghasilkan sejumlah hormon yang diperlukan untuk pertumbuhan, sistem regulasi, dan fungsi tubuh lainnya.

Salah satu penyakit yang paling sering menyerang kelenjar pituitari adalah tumor jinak yang disebut adenoma. Dari semua kasus tumor otak, sebanyak 15% kasus disebabkan oleh adenoma pada kelenjar pituitari. Pada laporan autopsi, disebutkan bahwa kasus adenoma pituitari telah terjadi sebanyak 25%.

Tumor pituitari dapat meningkatkan sekresi hormon normal yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari. Sebagai contoh, prolaktinoma adalah jenis adenoma pituitari yang dapat menghasilkan dan meningkatkan hormon prolaktin. Jenis adenoma pituitari yang paling umum ini, terjadi pada sekitar 30% pasien. Tumor campuran, yang menghasilkan banyak hormon, juga mungkin tumbuh.

Pasien dengan mikroprolaktinoma (prolaktinoma yang berdiameter kurang dari 1 cm) memiliki prognosis yang baik. Pada sebagian besar kasus, tidak ada bukti bahwa tumor akan berkembang. Sebaliknya, kasus makroprolaktinoma (prolaktinoma yang berdiameter lebih dari 1 cm) akan sangat cepat berkembang. Oleh sebab itu, makroprolaktinoma harus ditangani dengan lebih cepat. Akan tetapi, hanya sekitar 5% kemungkinan mikroprolaktinoma berkembang menjadi makroprolaktinoma.

Penyebab Prolaktinoma dan Masalah Kelenjar Pituitari

Adenoma pituitari terbentuk dari jenis sel pituitari tertentu. Misalnya, prolaktinoma yang berasal dari sel laktrotrof pada pituitari. Perkembangan adenoma pituitari berhubungan dengan mutasi gen dan penyakit keturunan; seperti neoplasia endokrin multipel. Mutasi (perubahan) gen ini pada umumnya sporadis, yang berarti terjadi secara mendadak dan tidak diwariskan. Sementara itu, penyebab lain dari prolaktinoma dan tumor pituitari masih belum diketahui.

Gejala Utama Prolaktinoma dan Masalah Kelenjar Pituitari

Gejala tumor pituitari disebabkan oleh ukuran tumor atau pengeluaran hormon yang meningkat. Meskipun tumor biasanya jinak, mereka dapat menyebabkan gejala yang menggangu dan melemahkan penderita, terutama karena lokasi mereka.

Besarnya tumor mengakibatkan stuktur di sekitarnya tertekan dan menimbulkan gejala yang beragam, tergantung pada arah perluasan tumor. Pada umumnya adenoma pituitari disertai dengan gejala pusing, sekalipun tumor berukuran kecil. Gejala lainnya yang tidak spesifik adalah vertigo dan mual.

Tekanan kelenjar pituitari dapat menyebabkan hipotiroid dan masalah pertumbuhan. Bila tumor berkembang, ukuran tumor biasanya membesar dan meluas ke kiasma optik. Sehingga, menyebabkan masalah visual seperti terganggunya daerah pandangan dan hemianopia bitemporal (hilangnya setengah lapang pandang). Pada kasus parah, hal ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan dan kebutaan yang tidak dapat disembuhkan. Tumor pituitari juga dapat meluas ke sinus kavernosus, yang dapat menyebabkan gejala seperti rasa kebas pada wajah, diplopia, dan oftalmoplegia.

Selain dari dampak ukuran tumor, adenoma pituitari dapat pula disertai dengan gejala yang berhubungan dengan hipersekresi (pengeluaran berlebihan) hormon tertentu. Tumor aktif dapat mengeluarkan hormon dengan sendirinya, disertai penurunan respon terhadap mekanisme inhibitor (molekul penghambat enzim) tubuh. Akan tetapi, penting untuk diketahui bahwa tidak semua adenoma bersifat aktif.

Kadar prolaktin yang meningkat akibat prolaktinoma, dapat menyebabkan berbagai gejala. Pada wanita, gejala yang dapat dirasakan antara lain; ketidakteraturan datang bulan seperti amenorea (tidak terjadinya datang bulan); rontoknya rambut kemaluan; galaktorea (produksi air susu bukan pada saat menyusui); dan organ reproduksi yang berukuran kecil. Sedangkan pada pria gejalanya berupa; ginekomastia (pembesaran payudara pada pria); gangguan ereksi dan impotensi; dan produksi air susu (kasusnya jarang terjadi). Selain gejala-gejala tersebut, kadar prolaktin yang tinggi pada tubuh juga dapat mengurangi produksi hormon reproduksi (estrogen dan testoteron) dalam jangka panjang.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien dengan hiperprolaktinemia (kadar prolaktin tinggi) perlu menjalani pemeriksaan kepala dengan pencitraan MRI, untuk memastikan apakah terdapat tumor pituitari atau tidak. Pada umumnya, penanganan tumor pituitari dilakukan dengan mengangkat tumor, menormalkan kadar hormon, dan memulihkan fungsi kelenjar pituitari. Sebagian adenoma kecil mungkin tidak memerlukan penanganan sama sekali, akan tetapi pemeriksaan rutin seumur hidup dan pemantauan dianjurkan untuk kasus ini.

Penanganan prolaktinoma ditujukan untuk menghambat produksi prolaktin. Terapi obat-obatan juga digunakan untuk mengurangi ukuran tumor. Agonis dopamin, seperti cabergoline dan bromokriptin, adalah obat yang biasa digunakan. Obat-obatan ini efektif dalam menurunkan kadar prolaktin hingga batas normal, dalam 80% kasus prolaktinoma. Kemungkinan efek samping dari dopamin agonis di antaranya mulut kering, konstipasi, dan insomnia. Selain itu, gejala psikiatrik seperti perubahan suasana hati yang cepat dan delusi juga telah dilaporkan. Resep penggunaan agonis dopamin, untuk mengurangi komplikasi dan mencegah meningkatnya kadar prolaktin, dapat dibuat oleh endokrinolog.

Pengobatan pasti untuk prolaktinoma adalah operasi, yang dilakukan oleh dokter bedah saraf. Operasi dianjurkan untuk pasien yang sudah tidak mempan terhadap terapi. Gejala seperti terganggunya penglihatan, dapat diatasi dengan operasi; selama gejala tersebut belum lama muncul dan kerusakan yang timbul tidak permanen. Kemungkinan tumor tumbuh kembali pada sekitar 20-50% pasien, tergantung pada ukuran tumor dan keberhasilan reseksi lengkap tumor.

Operasi transfenoidal adalah cara yang lebih dipilih untuk mengangkat tumor pituitari. Pada operasi ini, mikroskop biasanya digunakan untuk memastikan pemotongan tumor dengan tepat dan akurat. Aspek yang sangat penting dalam operasi kelenjar pituitari adalah pemotongan tumor yang maksimal sekaligus menjaga fungsi kelenjar. Hal ini penting terutama bagi anak-anak dan orang dewasa muda, di mana masa pertumbuhan dan fase reproduksi mereka masih berlangsung.

Terapi radiasi pada umumnya menggunakan pengobatan ajuvan untuk terapi medis atau operasi pada pasien prolaktinoma. Dalam beberapa tahun ini, operasi radiasi streotaktik dan pisau gamma terbukti efektif dalam menangani kasus prolaktinoma. Radiasi biasanya ditujukan pada tumor yang tersisa setelah operasi, terutama pada pasien yang memiliki tumor besar dan agresif. Sedangkan, terapi radiasi selektif dengan menggunakan akselerator linear, dilakukan dengan panduan lokalisasi MRI.

Rujukan:

  • Melmed S, Kleinberg D. Pituitary masses and tumors. In: Kronenberg HM, Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, eds. Williams Textbook of Endocrinology. 12th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2011:chap 9.
Bagikan informasi ini: