Apa itu Amputasi Atas Lutut?

Amputasi di atas lutut merupakan prosedur bedah yang diperlukan jika pasien mengalami kerusakan permanen atau penyakit pada area di atas sendi lutut atau jika terjadi komplikasi setelah amputasi di bawah lutut. Prosedur ini juga dikenal sebagai amputasi trans-femoral. Tujuan amputasi di atas lutut adalah untuk mengangkat jaringan yang sakit atau rusak dan tulang yang hancur, menghaluskan tulang yang tidak rata, menutup saraf dan pembuluh darah, serta mempersiapkan kaki yang tersisa untuk pemasangan prostetik (bagian tubuh buatan).

Siapa yang Perlu Menjalani Amputasi Atas Lutut dan Hasil yang Diharapkan

Amputasi di atas lutut disarankan bagi pasien yang kakinya mengalami kerusakan atau penyakit parah, hingga garis di atas lutut, dan jika tidak ada pilihan lain untuk mengobati kondisi pasien. Pada kasus seperti ini, amputasi dilakukan untuk mencegah infeksi serta komplikasi serius lainnya yang dapat semakin membahayakan kesehatan dan nyawa pasien.

Penyebab paling umum dari kerusakan serta penyakit parah pada kaki yang membutuhkan amputasi di atas lutut adalah:

  • Diabetes
  • Masalah pembuluh darah yang menghambat peredaran darah di tungkai bawah dan tidak dapat ditangani dengan metode pengobatan lain
  • Infeksi parah
  • Gangren
  • Cedera traumatis
  • Tumor atau kanker
  • Cacat atau penyakit bawaan pada anggota tubuh
  • Radang dingin (frostbite)
  • Neuroma atau penebalan jaringan saraf


Amputasi merupakan pilihan terakhir yang hanya dilakukan jika pengobatan lain tidak dapat mengatasi masalah yang dialami pasien.

Apabila amputasi atas lutut berhasil dilakukan, pasien perlu menjalani terapi fisik untuk mempelajari cara melakukan aktivitas sehari-hari setelah kehilangan anggota tubuhnya. Terapi fisik dirancang untuk memperkuat pinggul serta meningkatkan jangkauan gerak dan keseimbangan. Kebanyakan pasien amputasi perlu menjalani terapi fisik secara rutin selama satu tahun. Mereka juga dapat menjalani pelatihan mengenai cara bergerak dengan bantuan prostetik, jika digunakan. Alat prostetik dirancang dan dibuat berdasarkan kebutuhan, keinginan gerak, dan kondisi setiap pasien.

Pasien juga sebaiknya mengikuti konseling agar dapat beradaptasi dengan efek psikologis dan emosional setelah kehilangan anggota tubuhnya, serta terapi penanganan nyeri untuk mengatasi rasa sakit yang biasanya timbul setelah amputasi. Teknik penanganan nyeri modern yang dapat digunakan adalah stimulasi saraf listrik transkutan, manipulasi sendi, pijat, dan desensitisasi.

Cara Kerja Amputasi Atas Lutut

Amputasi atas lutut merupakan prosedur rawat inap yang dilakukan oleh dokter bedah vaskular atau ortopedi dengan pemberian bius total, tulang belakang, atau lokal.

Setelah efek obat bius terasa, dokter bedah membuat sayatan di atas lutut, membagi otot, dan menutup pembuluh darah untuk menjangkau tulang. Lalu, tulang digergaji untuk membuat potongan yang rata. Setelah seluruh bagian tungkai dipotong, dokter bedah akan menjahit otot, yang dibentuk menjadi puntung sisa amputasi (stump) di sekitar tulang yang tersisa. Kemudian, kulit dijahit untuk menutupi otot. Amputasi ini membutuhkan waktu sekitar beberapa jam, tergantung pada kondisi setiap pasien. Apabila pasien mengidap diabetes, dokter perlu lebih berhati-hati untuk mencegah komplikasi.

Setelah amputasi, stump ditutup dengan perban agar tetap terlindungi selama penyembuhan. Tabung drainase juga dipasang untuk mencegah penumpukan cairan di area amputasi. Pasien diberi obat pereda nyeri, antibiotik, dan antikoagulan untuk mencegah komplikasi yang umum terjadi setelah pembedahan.

Setelah prosedur, pasien perlu mendapatkan pengawasan di rumah sakit selama 5-14 hari, tergantung pada kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Apabila terjadi komplikasi, waktu menginap di rumah sakit akan diperpanjang.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Amputasi Atas Lutut

Hingga saat ini, metode dan teknik yang digunakan untuk amputasi telah banyak berkembang. Akan tetapi, walaupun langka, komplikasi masih dapat terjadi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Infeksi
  • Kurang baiknya proses penyembuhan stump
  • Pembengkakan yang tidak hilang atau berkurang setelah empat minggu
  • Sensasi seakan bagian tubuh yang diamputasi masih ada (phantom limb)
  • Pendarahan
  • Penggumpalan darah
  • Ulkus dekubitus atau luka terbuka pada kulit akibat tekanan
  • Kontraktur, yang terjadi saat jaringan lunak di bagian sisa amputasi mengencang dan menghalangi pergerakan sendi karena jarang digerakkan


Selain itu, pasien juga beresiko mengalami efek samping akibat penggunaan bius total atau tulang belakang.

Resiko komplikasi pasca-amputasi dapat dipengaruhi oleh kebiasaan tertentu, seperti merokok dan minum alkohol, serta penyakit lain. Jika terjadi komplikasi, ada kemungkinan pasien akan membutuhkan amputasi ulang. Studi menemukan bahwa perokok memiliki lebih beresiko 25 kali lipat akan membutuhkan amputasi ulang akibat komplikasi dibandingkan orang bukan perokok.

Rujukan:

  • Sullivan J., Uden M., Robinson KP., Sooriakumaran S. “Rehabilitation of the trans-femoral amputee with an osseointegrated prosthesis.” Prosthetics and Orthotics International. http://poi.sagepub.com/content/27/2/114.abstract

  • Gagnon C., Grise M., Potvin D. “Predisposing factors related to prosthetic use by people with a transtibial and transfemoral amputation.” American Academy of Orthotists and Prosthetists. http://www.oandp.org/jpo/library/1998_04_099.asp

Bagikan informasi ini: