Apa itu Adenoidektomi?

Adrenoidektomi adalah prosedur bedah untuk mengeluarkan jaringan adenoid yang membengkak akibat infeksi, yang terletak di belakang saluran pernapasan.

Adenoid adalah sekumpulang jaringan limfoid atau getah bening yang terletak di dinding mulut dan berdekatan dengan amandel. Kelenjar adenoid atau yang lebih dikenal dengan kelenjar getah bening, memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Kelenjar ini memproduksi antibodi untuk melawan penularan penyakit yang masuk melalui mulut dan hidung. Adenoid yang membengkak dapat menyebabkan infeksi telinga, saluran Eustachius tersumbat, dan menghambat pernapasan.

Pengangkatan kelenjar getah bening biasanya dilaksanakan pada pasien anak dan remaja, karena ketika memasuki usia dewasa kelenjar ini seringkali hilang dengan sendirinya. Pada kebanyakan kasus, adenoidektomi dilakukan bersamaan dengan tonsillektomi, yang bertujuan mengangkat amandel, karena kedua adenoid dan amandel terletak berdampingan, sehingga apabila salah satunya terinfeksi, maka yang lainnya kemungkinan tertular.

Siapa yang Perlu Menjalani Adenoidektomi dan Hasil yang Diharapkan

Adenoidektomi dianjurkan untuk anak-anak yang mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala yang ditimbulkan oleh kondisi ini termasuk kesulitan bernapas, mendengkur dengan sangat kencang, dan mengalami apnea tidur atau tidak bisa bernapas saat sedang tidur. Gejala-gejala ini berdampak buruk terhadap perkembangan dan aktivitas anak sehari-hari, khususnya ketika mereka di sekolah.

Pengangkatan kelenjar getah bening juga dapat dilaksanakan pada anak yang mengalami penyakit otitis media yang kambuh. Otitis media disebabkan oleh infeksi bakteri pada telinga tengah. Salah satu penyebab penyakit ini adalah peradangan kelenjar getah bening kronis atau disfungsi saluran Eustachius. Namun, adenoidektomi hanya direkomendasi apabila antibiotik tidak mampu menangani penyakit atau gejala yang terus menerus muncul bahkan berdampak pada kerusakan pendengaran.

Infeksi adenoidektomi pada anak-anak selalu dikatikan dengan sinusitis kronis. Saat tubuh pasien tidak memperlihatkan reaksi positif terhadap obat-obatan dan pasien tetap kesulitan bernapas karena saluran pernapasan tersumbat, maka dokter akan menganjurkan adenoidektomi.

Sebagian besar pasien yang telah menjalani adenoidektomi merasa puas dengan hasil yang didapat. Waktu pemulihan pasca adenoidektomi pun termasuk singkat jika dibandingkan dengan prosedur bedah lainnya. Kualitas hidup pasien akan meningkat, karena prosedur ini melancarkan proses pernapasan hidung, mengurangi infeksi telinga, serta terhindar dari penumpukan cairan di dalam telinga dan saluran Eustachius.

Cara Kerja Adenoidektomi

Adenoidektomi merupakan prosedur rawat jalan dan hanya membutuhkan satu jam pembedahan. Setelah pasien dibius, dokter menggunakan alat kecil untuk membuka mulut pasien. Kemudian langit-langit mulut pasien akan dibuka agar dokter dapat menemukan kelenjar getah bening dengan bantuan cermin. Dokter menggunakan forsep magil dan alat bernama kuret yang berbentuk seperti sendok, untuk mengeluarkan jaringan adenoid. Kelenjar juga dapat diangkat menggunakan tenaga radiofrekuensi atau melalui elektrokauteri, dengan menggunakan listrik untuk memanaskan dan melarutkan jaringan, serta menutup sisa jaringan agar pendarahan berhenti.

Metode lain dalam adenoidektomi adalah dengan menggunakan mikrodebrider. Dokter tidak akan mengeluarkan jaringan adenoid melalui sayatan di dalam mulut, melainkan melalui hidung.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Adenoidektomi

Salah satu komplikasi dari prosedur adenoidektom adalah pendarahan, yang dapat terjadi pada saat pembedahan atau setelahnya. Pendarahan termasuk antisipasi besar dan terkadang memerlukan transfusi darah.

Pasien kemungkinan akan merasa sakit pada area leher dan tenggorokan selama beberapa hari, dengan suara yang menjadi serak. Bahkan, ada pasien yang merasa kaku di bagian leher dan mengalami kejang urat atau spasme otot, serta suara yang berubah secara permanen.

Kemungkinan komplikasi lainnya meliputi penyakit insufisiensi nasofaring, ketika pembedahan melalui langit-langit mulut menyebabkan otot lunak menutup secara tidak tetap. Kondisi ini memicu udara keluar melalui hidung membuat pasien tidak dapat mengucap huruf konsonan dengan jelas.

Di sisi lain, komplikasi yang jarang terjadi, meliputi pembengkakan nasofaring, stenosis nasofaring, dan jaringan adenoid yang tumbuh kembali, sehingga memerlukan prosedur adenoidektomi lagi. Bagian di sekitar kelenjar adenoid, seperti saluran Eustachius dan kondile mandibula dapat mengalami kerusakan saat prosedur berlangsung.
.
Rujukan:

  • Wetmore RF. Tonsils and adenoids. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: bab 375.

  • Wooley AL, Wiatrak BJ. Pharyngitis and adenotonsilar disease. In: Flint PW, Haughey BH, Lund LJ, et al, eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2010: bab 196.

Bagikan informasi ini: