Apa itu Amniosentesis?

Amniosentesis adalah prosedur untuk menguji cairan ketuban (amnio) yang ada di rahim wanita hamil. Prosedur ini juga dikenal dengan istilah tes cairan ketuban. Digunakan untuk diagnosis dan pemeriksaan, amniosentesis hanya dilakukan saat ditemukan gangguan janin yang serius. Prosedur ini dapat mendeteksi adanya kelainan kromosom dan cacat bawaan serta mendiagnosis penyakit. Akan tetapi prosedur ini juga beresiko, sehingga dokter akan sangat mempertimbangkan manfaat dan bahaya amniosentesis sebelum menyarankannya pada pasien.

Siapa yang Perlu Menjalani Amniosentesis dan Hasil yang Diharapkan

Amniosentesis adalah tes diagnostik khusus yang hanya dilakukan apabila:

  • Diduga ada resiko tinggi dari kelainan janin atau cacat bawaan
  • Membran plasenta berlubang terlalu dini


Salah satu indikasi dari kedua hal tersebut adalah hasil abnormal dari tes triple, yaitu tes darah rutin untuk mengukur kadar AFP, hCG, dan Estriol. Ketiganya adalah zat yang dihasilkan tubuh saat kehamilan.

  • AFP, atau alpha-fetoprotein, adalah protein yang dihasilkan janin
  • hCG, atau human chorionic gonadotropin, adalah hormon yang dihasilkan plasenta
  • Estriol, hormon estrogen yang dihasilkan oleh janin dan plasenta


Apabila tes triple memberikan hasil abnormal, dokter dapat menyarankan agar pasien menjalani amniosentesis, supaya cairan ketuban di sekitar janin dapat diperiksa. Tujuan dari prosedur ini adalah:

  • Mendeteksi kelainan kromosom, misalnya Down syndrome. Dan sindrom lain seperti Edwards dan Turner.
  • Mendeteksi cacat tabung saraf, misalnya spina bifida atau anencephaly
  • Mendiagnosis kelainan genetik, misalnya fibrosis kistik
  • Mendiagnosis gangguan metabolisme bawaan
  • Mengetahui jenis kelamin janin
  • Mendeteksi infeksi janin atau rahim
  • Mendiagnosis penyakit Rh
  • Menilai tingkat keparahan anemia janin
  • Mengetahui ayah bayi melalui tes DNA (DNA janin dapat ditemukan pada cairan ketuban)
  • Menilai tumbuh kembangnya paru-paru janin – Ini adalah salah satu alasan mengapa amniosentesis akan diperlukan pada trimester ketiga atau sesaat sebelum hari perkiraan kelahiran


Tes ini 99% akurat untuk mendeteksi kelainan kromosom, cacat tabung saraf, dan kelainan genetik. Tes ini juga sama akuratnya dalam menguji DNA. Satu-satunya hal yang tidak dapat diketahui dengan tes ini adalah tingkat keparahan cacat bawaan. Karena itu, pasien akan membutuhkan tes tambahan, termasuk ultrasound.

Seringkali, amniosentesis dapat membantu menentukan apakah janin akan membutuhkan pengobatan. Misalnya, jika ada cacat tabung saraf, orangtua dapat mempertimbangkan pembedahan janin. Apabila ada kelainan genetik, orangtua juga dapat mengetahui kebutuhan khusus bayi dan mempersiapkannya sejak dini.

Cara Kerja Amniosentesis

Amniosentesis dilakukan di klinik dokter spesialis kebidanan atau rumah sakit. Prosedur ini biasanya dilakukan pada trimester kedua kehamilan, atau saat janin berusia 15-20 minggu. Walaupun jarang, amniosentesis juga dapat dilakukan lebih awal. Batas maksimalnya adalah pada usia 11-13 minggu, karena jika terlalu dini dapat meningkatkan resiko cedera janin. Biasanya prosedur ini tidak perlu dilakukan lagi pada trimester ketiga.

Saat tes, dokter akan mengambil cairan dari kantung ketuban dengan menyuntikkan jarum ke rahim melalui perut pasien. Jumlah cairan ketuban yang dibutuhkan adalah sekitar 20 ml. Sebelum tes pasien akan menjalani ultrasound, supaya dokter dapat mengetahui titik teraman untuk penyuntikan.

Proses pengambilan cairan hanya membutuhkan 5 menit. Namun, seluruh proses tes dapat membutuhkan waktu hingga 45 menit, termasuk ultrasound dan persiapan lain.

Sampel cairan akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Hasilnya bisa didapatkan dalam beberapa hari atau minggu dan dijelaskan pada pasien saat konsultasi lanjutan dengan spesialis kebidanan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Amniosentesis

Amniosentesis merupakan prosedur invasif yang dapat membahayakan ibu dan bayi. Maka dari itu, prosedur ini hanya akan dilakukan bila sangat dibutuhkan.

Beberapa resiko amniosentesis adalah:

  • Infeksi rahim
  • Air ketuban pecah
  • Kelahiran prematur
  • Kesulitan bernapas
  • Kelainan rangka tubuh pada bayi
  • Trauma pada janin
  • Penyakit Rhesus, atau aloimunisasi pada ibu
  • Keguguran


Amniosentesis juga dapat menyebabkan rasa sakit saat jarum disuntikkan ke kulit dan menembus rahim. Apabila dibutuhkan atau diminta oleh pasien, dokter dapat memberikan bius lokal sebelum prosedur. Sonogram juga akan digunakan untuk memastikan jarum tidak mengenai janin.

Setelah amniosentesis, ibu dapat mengeluarkan cairan ketuban, kram perut, dan sedikit tidak nyaman di area penyuntikan.

Janin tidak akan terpengaruhi oleh prosedur, karena kantung ketuban akan menutup bekas suntikan dan mengembalikan jumlah cairan ketuban dalam 24-48 jam.

Walaupun beresiko, amniosentesis dianggap lebih aman dibandingkan pengambilan sampel virus chorionic, yaitu tes lain yang mendeteksi kelainan kromosom dan genetik.

Sebelum menjalani amniosentesis, seorang wanita hamil harus membahas dan mempertimbangkan manfaat dan resikonya dengan spesialis kebidanan. Di beberapa negara, batasan dari tes ini diatur oleh hukum.

Rujukan:

  • Simpson JL, Holzgreve W, Driscoll DA. Genetic counseling and genetic screening. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2012:chap 10.

  • Simpson JL, Richards DA, Otao L, Driscoll DA. Prenatal genetic diagnosis. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2012:chap 11.

Bagikan informasi ini: