Apa itu Arthrodesis?

Arthrodesis juga dikenal sebagai operasi fusi tulang belakang. Ini merupakan prosedur pembedahan untuk mencangkok tulang untuk menyatukan dua ujung sendi untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri tulang dan sendi.

Arthrodesis dapat terjadi secara alami, namun jika tidak, prosedur pembedahan dapat dilakukan. Tulang yang dibutuhkan untuk pencangkokan diambil dari bagian tubuh yang lain atau donor, seperti jasad manusia. Bisa juga didapatkan dari bank jaringan tubuh, tapi biasanya bersifat sintetis.

Operasi ini biasanya dilakukan pada tulang belakang, tetapi juga dapat dilakukan di ibu jari dan jari lainnya, pergelangan tangan, tulang belakang, dan lutut. Arthrodesis juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah sendi yang perlu disatukan. Sehingga, pada satu kaki, bisa dilakukan dua sampai tiga arthrodesis.

Siapa yang Perlu Menjalani Arthrodesis dan Hasil yang Diharapkan

Arthrodesis dilakukan ketika sendi atau artikulasi yang menghubungkan tulang rusak. Sehingga, mulai menyebabkan rasa sakit kronis dan parah. Akibatnya mobilitas pasien terbatas, level morbiditas meningkat, dan kualitas hidup berkurang.

Salah satu alasan utama seseorang perlu menjalani arthrodesis adalah peradangan sendi yang disebabkan oleh degenerasi karena usia tua, trauma, cacat bawaan, dan kondisi lain yang mendasarinya. Peradangan sendi ditandai bengkak dan kemerahan pada sendi. Jika parah, peradangan sendi dapat menyebabkan cacat pada tangan, ibu jari, dan lutut.

Jika nyeri sendi terasa di tulang belakang, kemungkinan besar disebabkan oleh herniasi diskus. Hal ini terjadi ketika satu atau lebih dari cakram tulang belakang menonjol keluar, sehingga saraf yang berfungsi sebagai jalur komunikasi ke otak mengalami iritasi. Akibatnya, sinyal rasa sakit yang dikirim lebih sering dan dalam intensitas yang lebih tinggi. Alasan lain yang memungkinkan adalah skoliosis dan cedera tulang belakang, termasuk retakan pada tulang belakang.

Biasanya, kondisi ini dapat diobati dengan menggunakan metode non-bedah seperti melalui obat-obatan, rehabilitasi, dan suntikan penghilang rasa sakit. Namun, jika sangat menyakitkan dan pengobatan non-bedah tidak efektif, maka arthrodesis perlu dilakukan.

Karena arthrodesis mengangkat sendi yang terserang masalah, daerah yang dibedah menjadi kaku atau tidak fleksibel. Prosedur juga tidak mengobati penyebab degenerasi. Namun, cangkok tulang dapat mengurangi atau menyingkirkan rasa sakit serta menawarkan stabilitas yang memungkinkan tulang yang terserang untuk menopang berat tubuh dengan efektif.

Cara Kerja Arthrodesis

Sebelum prosedur, tes pra-bedah dilakukan dan persiapan yang diperlukan dibahas antara dokter dan pasien untuk memastikan keberhasilan operasi dan memastikan keselamatan pasien. Termasuk:

  • Tes fisik dan darah
  • Ujian Pencitraan
  • Pasien yang merokok akan disarankan untuk berhenti secepatnya
  • Pasien yang mengonsumsi seperti pengencer darah, akan disarankan untuk berhenti sekitar seminggu sebelum prosedur
  • Puasa 12 jam sebelum operasi


Operasi dimulai dengan memberikan bius total, yang berarti bahwa pasien akan tertidur sepanjang prosedur. Setelah bius bekerja, sebuah insisi dibuat pada bagian yang terserang untuk mengakses sendi bermasalah.

Dengan menggunakan alat-alat bedah, dokter spesialis bedah akan mengakses dan mengangkat sendi bermasalah sebelum melakukan pencangkokan tulang. Sekrup, batang pipa, dan piringan digunakan untuk menjaga tulang yang terhubung agar tetap pada posisinya dan sayatan ditutup. Pasien mungkin harus memakai back brace sampai ia benar-benar sembuh.

Operasi memakan waktu setidaknya satu jam tergantung pada keparahan kondisi dan jumlah sendi bermasalah. Pasien mungkin diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit setelah tiga hari. Namun diperkirakan perlu menjalani rehabilitasi selama berbulan-bulan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Arthrodesis

Pasien yang telah menjalani operasi fusi tulang belakang sebagian besar mengeluh rasa sakit pasca prosedur. Hal ini dapat diatasi dengan mengonsumsipereda nyeri yang diresepkan oleh dokter. Potensi komplikasi lain adalah infeksi serta pendarahan. Dalam kasus yang jarang terjadi, saraf bisa rusak atau sekrup dan piringan terpisah dari tulang cangkok.

Rujukan:

  • Wood GW III. Arthrodesis of the spine. In: Canale ST, Beaty JH, eds. Campbellā€™s Operative Orthopaedics. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:chap 39.
Bagikan informasi ini: