Apa itu Operasi Dasar Tengkorak?

Operasi dasar tengkorak adalah sepasang tindakan operasi sangat khusus yang dilakukan untuk mengobati berbagai kondisi yang memengaruhi dasar tengkorak. Operasi ini sangat menantang, sebab menangani kasus kompleks dan lesi yang berada di dekat struktur saraf penting.

Dasar tengkorak dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu anterior, tengah, dan posterior. Penyakit fossa anterior biasanya menyerang sinus paranasal, orbit, dan rongga hidung. Karsinoma nasofaring (NPCA) adalah tumor yang paling sering ditemukan pada bagian anterior dasar tengkorak. Massa fossa anterior tumbuh dengan lambat. Dengan demikian, massa ini biasanya muncul ketika telah tumbuh besar, sehingga mengakibatkan efek massa dan gejala yang cukup besar. Penyakit fossa tengah biasanya bersifat jinak, dan termasuk penyakit kelenjar hipofisis dan sinus kavernosa. Penyakit pada daerah ini dapat muncul dengan gejala yang melibatkan saraf kranial, sehingga membuat operasinya sulit. Penyakit fossa posterior melibatkan sudut serebelopontin dan dan foramen magnum. Gejala penyakit fossa posterior termasuk defisit saraf kranial, kelemahan ekstremitas dan masalah gaya berjalan.

Biasanya diperlukan pendekatan multidisiplin ketika berhadapan dengan penyakit dasar tengkorak. Ahli bedah saraf, bersama dengan spesialis bidang otorinolaringologi, oftalmologi, dan bedah kepala serta otot, biasanya adalah dokter yang dapat menangani penyakit dasar tengkorak. Ahli radiologi intervensional dan ahli kanker juga terlibat ketika berhadapan dengan kondisi dasar tengkorak yang ganas. Gabungan dari terapi, termasuk operasi, kemoterapi, radioterapi dan pengobatan pisau gamma, mungkin diperlukan dalam penanganan berbagai penyakit dasar tengkorak.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Dasar Tengkorak & Hasil yang Diharapkan

Pasien dengan penyakit dasar tengkorak adalah kandidat untuk operasi dasar tengkorak. Penyakit ini dapat bersifat jinak atau ganas. Kondisi jinak termasuk kelainan kongenital, malformasi vaskular, penyakit tulang, kista aneurisma tulang dan tumor jinak seperti fibroma serta tumor sel raksasa. Kondisi ganas termasuk tumor seperti schwannomas (tumor selubung saraf), chondrosarcomas dan meningioma.

Pemeriksaan pencitraan sangatlah penting dalam penanganan penyakit dasar tengkorak. Pilihannya termasuk pemindaian CT scan, MRI, dan angiografi serebral tengkorak. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan luasnya lesi dan membantu dalam pengambilan keputusan mengenai operasi dan terapi ajuvan. Biopsi lesi massa mungkin harus dilakukan untuk memastikan hasil diagnose.

Jika memungkinkan, tujuan dari operasi dasar tengkorak adalah reseksi total pada lesi, sehingga menghasilkan resolusi gejala dan hasil akhir yang fungsional. Namun, tidak semua penyakit dapat disembuhkan seluruhnya, terutama tumor yang berada pada stadium akhir. Terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pasien untuk melakukan operasi dasar tengkorak. Faktor tersebut termasuk kondisi dan kemampuan pasien untuk mentoleransi operai besar, riwayat alami penyakit, gejala pasien, dan struktur yang terlibat. Prognosis pasien tergantnug pada jenis dan luasnya lesi. Lesi jinak umumnya dapat dihilangkan dengan mortalitas dan morbiditas minimal.

Cara Kerja Operasi Dasar Tengkorak

Tujuan dari operasi dasar tengkorak adalah untuk mengangkat lesi atau massa sebanyak mungkin, dengan tingkat morbiditas minimal. Pendekatan pada dasar tengkorak sangat bergantung pada lokasi tumor, dan biasanya melibatkan baik kraniotomi maupun pendekatan endoskopi. Sebagai contohnya, lesi dasar tengkorak anterior mungkin melibatkan pendekatan intrakranial, pendekatan ekstrakranial, atau gabungan keduanya. Lesi fossa tengah dapat diakses dengan memeriksa tulang temporal, dan penyakit dari dasar tengkorak lateral dapat didekati melalui sayatan preaurikular atau postaurikular. Sementara itu, pendekatan posterior termasuk kraniotomi suboksipital dan retromastoid. Pendekatan terbuka melibatkan sayatan pada wajah dan kulit kepala, dan mungkin memerlukan perpindahan tulang. Teknik endoskopi, termasu operasi yang dibantu endoskopi, memungkinkan akses minimal invasif lesi pada otak, dan sangat berguna ketika melakukan tindakan pada daerah yang sulit dijangkau. Endoskop dimasukkan melalui hidung, dan penyakit ini didekati dari bawah. Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan untuk menggunakan pendekatan endoskopi semakin meningkat.

Setelah dapat diakses, massa atau lesi kemudian diangkat sebanyak mungkin. Tindakan ini dilakukan dengan hati-hati menggunakan mikroskop, untuk melindungi struktur vital. Kebutuhan untuk melakukan rekonstruksi, seperti tindakan flap bebas, bergantung pada seluas apa reseksi yang dilakukan.

Setelah operasi, pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU). Pasien akan dipantau selama beberapa hari.

Operasi dasar tengkorak terus berkembang. Perbaikan yang nyata dalam bidang ini jelas terlihat, dengan perkembanagn teknologi pencitraan resolusi tinggi, munculnya operasi endoskopi dan meningkatnya pengalaman dalam teknik rekonstruksi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operasi Dasar Tengkorak

Operasi dasar tengkorak adalah tindakan yang kompleks, dan berbagai komplikasi dapat terjadi selama operasi ini. Komplikasi neurologis jarang terjadi dalam operasi semacam ini. Luka pada saraf kranial umum terjadi, dan dapat disebabkan oleh eletkrokauter atau luka traksi. Keterlibatan langsung dari saraf kranial mungkin memerlukan transeksi total dari saraf kranial. Kerusakan beberapa saraf kranial dapat mengakibatkan kondisi yang menyusahkan, seperti kesulitan menelan, gangguan pendengaran, atau ketidakmampuan untuk menutup mata.

Selain luka saraf kranial, kebocoran cairan serebrospinal (CSF) juga dapat terjadi. Hal ini terjadi ketika dura diserang oleh massa atau dibuka dengan sengaja. Kebocoran CSF dapat mengakibatkan komplikasi lain, seperti meningitis. Lubang pada dura mungkin sulit untuk diperbaiki, dan mungkin memerlukan flap/penutupan untuk cakupan yang memadai.

Komplikasi neurologis lainnya termasuk hidrosefalus, memar, edema otak, stroke dan kejang. Pendarahan yang serius juga merupakan risiko dari operasi semacam ini karena tengkorak dan meninges adalah struktur vaskular. Operasi dasar tengkorak juga dapat menyebabkan cacat, seperti kontur wajah rusak, depresi pada kulit kepala, atau mata yang tidak sejajar. Rekonstruksi dengan menggunakan flap, cangkok tulang dan pelat mungkin diperlukan untuk menghindari masalah-masalah ini. Komplikasi yang berhubungan dengan luka, seperti infeksi, selulitis atau penutup nekrosis, juga dapat terjadi.

Rujukan:

  • Kassam A B, Gardner P, Snyderman C H, Mintz A, Carrau R. Expanded endonasal approach: fully endoscopic, completely transnasal approach to the middle third of the clivus, petrous bone, middle cranial fossa, and infratemporal fossa

  • Snyderman C, Kassam A, Carrau R, Mintz A, Gardner P, Prevedello D M. Acquisition of surgical skills for endonasal skull base surgery: a training program. Laryngoscope. 2007;117:699–705. [PubMed]

Bagikan informasi ini: