Apa itu Operasi Ganti Kelamin?

Operasi ganti kelamin, yang juga dikenal sebagai operasi pergantian jenis kelamin atau rekonstruksi alat kelamin, adalah pembedahan yang merubah struktur seksual (jenis kelamin) seseorang, baik dari segi penampilan dan fungsi, dari seorang pria menjadi seorang wanita, atau sebaliknya. Operasi ini, secara medis juga dikenal sebagai feminisasi atau maskulinisasi, genitoplasti, penektomi atau vaginoplasti, orkiektomi, atau faloplasti, tergantung dari jenis kelamin asli dan jenis kelamin yang diinginkan. Hal ini dimanfaatkan oleh pribadi transgender untuk beralih dari gender (karakteristik sesuai jenis kelamin) biologis mereka, menjadi sesuai dengan jenis kelamin yang diinginkan, sebagai perawatan untuk kelainan yang disebut disforia gender.

Siapa yang Harus Menjalani Operasi Ganti Kelamin & Hasil yang Diharapkan

Operasi ganti kelamin dilakukan untuk orang yang diketahui sebagai transgender (berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelamin), dan setelah operasi dianggap sebagai transeksual (merasa identitas gendernya tidak sesuai dengan biologis jenis kelaminnya). Operasi ini seharusnya hanya dilakukan pada orang yang sehat secara mental, yang ditentukan melalui evaluasi kesehatan mental sebelum operasi. Operasi ini juga diperuntukkan bagi pasien yang terbukti memiliki disforia gender, suatu kondisi yang sebelumnya disebut gangguan identitas gender. Orang dengan kondisi tersebut merasa bahwa mereka seharusnya memiliki gender yang sebaliknya, dan perasaan tersebut menimbulkan stres dalam kehidupan mereka.

Operasi ganti kelamin diharapkan dapat mengurangi perasaan tertekan seseorang akibat memiliki gender yang tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka. Bagi sebagian orang, terapi hormon saja sudah cukup. Namun bagi sebagian lainnya, akan merasa lebih cukup dengan operasi kecil terkait-gender. Apabila perawatan biasa tidak cukup meredakan perasaan tertekan, maka operasi ganti kelamin pun dipertimbangkan.

Cara Kerja Operasi Ganti Kelamin

Operasi ganti kelamin akan dimulai dengan evaluasi kesehatan mental pasien. Evaluasi dilakukan oleh psikolog atau ahli jiwa yang memiliki pengalaman dalam masalah gender. Psikolog ini akan memutuskan apakah pasien perlu diberi perawatan untuk disforia gender atau tidak.

Selain itu, pasien harus menjalani terapi hormon dahulu sebelum menjalani operasi. Hal ini penting karena gender seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari struktur fisik jenis kelaminnya. Pada kenyataannya, beberapa faktor yang mengkarakterisasi seseorang berdasarkan gendernya, diatur oleh hormon; ini termasuk ukuran payudara, pertumbuhan rambut di berbagai bagian tubuh, dan massa otot total. Dengan demikian, sebelum seseorang dapat mengganti gender mereka, seluruh tubuh juga harus mengikuti proses perubahan total yang memengaruhi seluruh karakteristik seksual seseorang.

Wanita yang ingin berubah menjadi pria, membutuhkan suplemen hormon pria yang disebut androgen. Hormon ini dengan bertahap akan membuat tubuh mereka menjadi terlihat lebih maskulin dengan meningkatkan massa otot (dan kekuatan), mendorong pertumbuhan rambut lebih pada tubuh dan juga wajah, dan memperberat suara. Androgen juga dapat memperbesar klitoris. Sebaliknya, suplemen hormon wanita akan membuat pria lebih feminin dengan mengurangi kekuatan dan massa otot, memperbesar ukuran payudara, memperlambat pertumbuhan rambut tubuh dan wajah, dan mengubah pembagian lemak tubuh. Perubahan yang dihasillkan oleh terapi hormon biasanya mulai terlihat setelah satu bulan, tetapi efek sepenuhnya hanya dapat dirasakan setelah 5 tahun.

Alasan mengapa terapi hormon harus dilakukan sebelum operasi pergantian kelamin yaitu, dalam beberapa kasus, karena biasanya terapi ini cukup meredakan perasaan kebingungan gender seseorang. Sehingga, dapat menghilangkan perasaan tertekan yang disebabkan oleh disforia gender. Karena hal ini, penelitian menunjukkan bahwa hingga 75% orang yang menderita disforia gender memilih untuk tidak mengejar operasi, karena terapi hormon sudah membuat mereka merasa lebih stabil dan tidak terlalu tertekan mengenai gender mereka.

Bagaimanapun juga, operasi hanyalah satu-satunya pilihan yang tersisa jika terapi hormon dianggap tidak efektif. Setelah tindakan persiapan seperti evaluasi kesehatan mental dan terapi hormon diselesaikan, operasi dilakukan dengan menggunakan penis dan skrotum untuk merekonstruksi vagina dan vulva, atau membentuk penis baru.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operasi Ganti Kelamin

Operasi pergantian kelamin adalah operasi besar dengan resiko yang signifikan. Semua pasien akan diberi informasi tentang resiko tersebut sebelum operasi. Terlepas dari resiko medis, operasi ini juga memiliki keterbatasan yang harus dijelaskan kepada pasien dengan rinci, sebelum pasien memberikan persetujuan untuk operasi dan semua perawatan sebelumnya yang terlibat.

Beberapa resiko dari operasi ganti kelamin disebabkan oleh terapi hormon itu sendiri, yang meliputi:

  • Darah tinggi
  • Apnea tidur
  • Penyakit Jantung
  • Tumor yang memengaruhi kelenjar pituitari
  • Infertilitas
  • Berat badan yang tidak terkendali
  • Tingginya kadar enzim hati
  • Darah menggumpal
  • Kecemasan
  • Perasan tidak pasti dan kebingungan

Oleh karena itu, orang yang menjalani terapi hormon harus terus diawasi oleh ahli medis, terutama selama proses pada bulan-bulan awal, sehingga efek dari hormon dapat dipantau dengan benar.

Selain itu, pasien yang menjalani terapi hormon ataupun operasi ganti kelamin akan mendapat keuntungan dari bimbingan atau kunjungan rutin pada endokrinolog mereka, yaitu dokter dengan spesialisasi hormon tubuh.

Sangat penting bagi pasien untuk memahami bahwa untuk menjalani operasi ini merupakan suatu keputusan besar dan, dalam banyak kasus, tidak dapat diubah lagi, sehingga keputusan harus dibuat dengan matang. Keputusan pasien harus didukung oleh ahli bedah atau psikolog yang menangani kasusnya. Inilah alasan mengapa pasien harus melewati sedikitnya 12 bulan terapi hormon, sebelum mereka diperbolehkan menjalani operasi pergantian kelamin.

Operasi itu sendiri memiliki resiko berdasarkan pada perubahannya; pasien pria yang menjadi wanita atau sebaliknya. Untuk pria yang menjadi wanita, resikonya seperti berikut:

  • Kematian pada jaringan yang digunakan untuk menciptakan vagina dan vulva, jaringan ini biasanya diambil dari skrotum dan penis;
  • Fistula, yang adalah koneksi tidak normal antara vagina dan kandung kemih atau usus;
  • Penyempitan saluran kemih, yang pada kasus parah dapat menghalangi aliran urin dan memperbesar resiko kerusakan ginjal.

Sebaliknya, untuk wanita yang menjadi pria, resikonya adalah:

  • Penyempitan saluran kemih dengan resiko tinggi terhadap kerusakan ginjal;
  • Kematian jaringan pada penis yang baru dibentuk.

Resiko akan lebih tinggi apabila wanita yang berubah menjadi pria melakukan rekonstruksi penis baru. Resiko meningkat karena operasi memiliki banyak tahap yang berbeda, serta tingginya tingkat kesulitan yang ditemui dalam operasi seperti ini. Karena itu, sebagian wanita hanya memilih untuk mengangkat rahim dan indung telur mereka dan tidak menjalankan faloplasti (pembentukan penis).

Komplikasi dan resiko juga dapat dihindari dengan memilih menjalani operasi kecil –seperti mastektomi untuk wanita yang ingin menyingkirkan payudara mereka, atau pembesaran dada untuk pria yang ingin memperbesar payudara. Sebagian besar pasien merasa cukup dengan operasi kecil tersebut dan tidak perlu mengubah alat kelamin mereka. Ini karena pembesaran payudara dan mastektomi dapat diubah kembali, apabila mereka berubah pikiran setelah menjalani operasi tersebut.

Rujukan:

  • Jamison Green, Ph.D., president, World Professional Association for Transgender Health.
  • Sherman Leis, DO, surgeon, Philadelphia Center for Transgender Surgery.
  • WPATH Standards of Care (SOC) for the Health of Transsexual, Transgender, and Gender- Nonconforming People, Volume 7.
Bagikan informasi ini: