Apa itu Osteotomi Dentofasial?

Osteotomi dentofasial adalah prosedur bedah rahang untuk memperbaiki kelainan dentofasial (wajah dan gigi). Dalam prosedur yang memiliki nama lain bedah ortognatik ini, dokter bedah akan memotong, memindahkan, dan menyusun tulang rahang untuk memperbaiki wajah dengan hasil yang terlihat alami. Ini dapat dilakukan pada rahang atas ataupun bawah, dan sebagai cara untuk memperbaiki berbagai masalah maksilofasial.

Siapa yang Perlu Menjalani Osteotomi Dentofasial dan Hasil yang Diharapkan

Osteotomi dentofasial sangat dianjurkan pada pasien yang menderita kelainan dentofasial, seperti:

  • Prognatisme rahang
  • Prognatisme mandibula
  • Maloklusi
  • Retrusi mandibula


Kelainan dentofasial bisa mempersulit atau menghambat aktivitas tertentu dan cenderung menimbulkan gejala, seperti:

  • Gigitan terbuka (open bite)
  • Nyeri karena gangguan sendi temporomandibular
  • Erosi gigi
  • Sulit menelan
  • Sulit mengunyah
  • Dagu mundur
  • Nyeri rahang


Osteotomi dentofasial telah dipergunakan sejak tahun 1940-an. Seiring berkembangnya teknik yang digunakan, prosedur ini terus berinovasi dan terbukti sangat efektif dalam memperbaiki kelainan rahang yang parah. Terkadang, prosedur ini dipadukan dengan pencabutan gigi, dan diharapkan dapat mengurangi nyeri yang disebabkan oleh kelainan rahang, termasuk gangguan tempomandibular atau TMJ.

Di masa lalu, osteotomi dianggap sebagai prosedur bedah besar dengan bius dan sedasi total, sehingga pasien harus menginap di rumah sakit selama 2-3 hari. Namun sekarang, prosedur ini hanya memanfaatkan bius lokal dengan sedasi intravena, sehingga tidak memerlukan rawat inap.

Selain memperbaiki kelainan dan mengurangi gejala nyeri rahang, pasien yang menjalani osteotomi hanya akan merasakan sedikit nyeri selama operasi, tidak perlu dirawat inap, dan masa pemulihan pun hanya sebentar.

Siapa yang Perlu Menjalani Osteotomi Dentofasial dan Hasil yang Diharapkan

Osteotomi dentofasial dilakukan oleh dokter bedah spesialis maksilofasial, biasanya sebagai prosedur rawat jalan. Tata cara prosedur disesuaikan dengan masalah kesehatan yang hendak diobati.

Osteotomi maksila untuk memperbaiki kelainan rahang atas, seperti open bite. Dalam prosedur ini, dokter akan membuat sayatan tepat di bawah lubang mata untuk memindahkan dan menyusun struktur rahang atas ke posisi normal. Kemudian, rahang akan dikunci dengan sekrup titanium.

Osteotomi mandibula untuk memperbaiki kelainan bentuk rahang bawah. Prosedur ini mengharuskan pembuatan sayatan di belakang dan di antara molar pertama dan kedua. Rahang bawah dilepaskan agar dapat ditempatkan ke posisi yang diinginkan. Terakhir, rahang dikunci dengan sekrup stabilisasi, yang akan dilepas saat pasien telah sembuh total.

Osteotomi bilateral sagittal split adalah salah satu jenis osteotomi dentofasial dan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kelainan dentofasial. Prosedur berlangsung selama dua jam di bawah pengaruh bius total. Dalam prosedur ini, sayatan akan dibuat di bagian dalam rahang ramus hingga ke bagian anterior ramus yang tampak naik, kemudian dilanjutkan ke ramus bawah yang menurun hingga garis lateral rahang. Dokter bedah meneruskan dengan membuat sayatan vertikal di sepanjang badan mandibula hingga bagian garis inferior mandibula. Kemudian, mandibula dibagi dua dengan menggunakan pahatan secara perlahan, sehingga dapat digerakkan ke depan, belakang, atau samping. Sama seperti jenis osteotomi lain, rahang akan dikunci rapat dengan sekrup dan kawat selama 4-5 minggu.

Proses pemulihan pasca osteotomi dentofasial berlangsung selama 2-6 minggu, tapi tulang pasien pulih secara bertahap selama 2-4 bulan. Kemungkinan, rahang tidak dapat digerakkan selama satu bulan pasca operasi dan akan berangsur pulih dalam 2-3 bulan. Pasien akan diberi resep obat pereda nyeri dan antibiotik untuk menjaga kenyamanan dan mencegah resiko infeksi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Osteotomi Dentofasial

Resiko dan komplikasi yang berpotensi muncul, antara lain:

  • Kerusakan saraf
  • Infeksi bakteri - Penelitian menunjukkan bahwa ternyata resiko infeksi lebih tinggi pada pasien yang menjalani osteotomi yang dipadukan dengan pencabutan gigi bungsu.


Namun, secara umum, sejak teknik bedah modern telah dipergunakan, tingkat komplikasi telah berkurang drastis.



Rujukan:

  • Mills PB. “The orthodontist’s role in surgical correction of dentofasial deformities.” American Journal of Orthodontics. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0002941669902772

  • Nanda R., Sugawara J. “Mandibular adaptations following total maxillary osteotomy in adolescent monkeys.” American Journal of Orthodontics and Dentofasial Orthopedics. http://www.ajodo.org/article/S0002-9416(83)90247-6/abstract

Bagikan informasi ini: