Apa itu Bedah Panggul

Bedah panggul adalah istilah luas yang merujuk pada prosedur bedah yang dilakukan di area panggul yang kebanyakan merupakan operasi ginekologi. Walau bedah apapun di dasar panggul, tulang panggul, dan organ panggul dapat diklasifikan sebagai bedah panggul, namun pada artikel ini bedah panggul merujuk pada prosedur uroginekologi yang dilakukan untuk memperbaiki gangguan-gangguan pada dasar panggul wanita. Gangguan ini termasuk turunnya organ panggul dan inkontinensia urin.

Turunnya organ panggul atau prolaps organ panggul adalah kondisi di mana organ panggul seperti uterus, kandung kemih atau rektum berada di posisi lebih rendah daripada lokasi normalnya. Sementara, inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan air seninya, akibatnya ia mengeluarkan air seni di luar keinginannya. Kedua kondisi ini muncul karena lemahnya otot-otot panggul, yang biasanya diakibatkan oleh peregangan saat melahirkan anak, atau bedah ginekologi seperti histerektomi. Dapat juga disebabkan oleh kondisi atau gangguan lain yang memengaruhi perkembangan gangguan dasar panggul. Termasuk kondisi yang menyebabkan peningkatan tekanan di dalam abdomen, seperti gangguan pulmonary kronis dan obesitas.

Lebih dari 10% perempuan menjalani operasi bedah panggul. Diperkirakan di Amerika Serikat saja, 200.000 menjalani bedah panggul tiap tahunnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Bedah Panggul & Hasil yang Diharapkan

Pasien dengan gangguan dasar panggul menunjukkan beragam gejala, sementara kasus prolapse organ panggul ringan asimtomatik atau tidak menunjukan gejala sama sekali. Pada bentuk yang lebih parah, organ panggul dapat terlihat menonjol melalui area kelamin. Pasien yang mengalami prolapse organ panggul umumnya mengalami rasa tidak nyaman dan nyeri di sekitar area panggul, biasanya digambarkan sebagai perasaan penuh pada vagina. Rasa tidak nyaman dapat meningkat saat pasien berbaring. Bercak darah dan nyeri juga dapat muncul saat berhubungan seks.

Inkontenesia urin dapat dialami sebagai kondisi yang terpisah, atau sebagai gejala dari prolaps organ panggul. Ada beberapa jenis inkontinensia urin, seperti stress incontinence, urge incontinence dan overflow incontinence. Di antara jenis ini, stress incontinence dapat menguntungkan dalam tindakan bedah panggul. Dengan stress incontinence, bersin, batuk, dan mengangkay beban, atau aktivitas sejenis dapat menyebabkan seseorang mengeluarkan urin di luar keinginannya. Ini juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, atau iritasi dan peradangan pada kulit kelamin.

Pasien dengan gangguan dasar panggul dapat ditangani dengan cara konservatif, yaitu modifikasi gaya hidup seperti mengurangi berat badan. Melatih otot panggul dan pelatihan kandung kemih dapat memberikan manfaat. Perlengkapan seperti popok dewasa dan persarium, juga dapat digunakan. Namun, jika penangan medis ini gagal untuk meringankan gejala, maka bedah perlu dilakukan. Bedah pada gangguan dasar panggul memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi, berkisar antara 76% hingg 100%.

Cara Kerja Bedah Panggul

Beragam pendekatan dan teknik yang digunakan dalam bedah panggul, tergantung pada kondisi secara spesifik dan penyebabnya. Penting untuk menentukan adakah cacat tertentu untuk untuk menentukan pendekatan terbaik untuk memperbaikinya.

Pengobatan prolapse organ panggul dapat dilakukan melalui vagina atau abdomen. Bedah yang dilakukan melalui vagina melibatkan perbaikan dinding vagina (colporrhaphy) dan fiksasi vagina ke ligament sacral. Colporrhaphy melibatkan pelipatan lapisan otot, membuat lorong vagina lebih kecil. Sementara, bedah melalui abdomen memungkinkan rekonstruksi panggul, seperti sacrocolpopexy, di mana cangkok digunakan untuk menyediakan sokongan bagi vagina.

Saat itu, bedah melalui abdomen dapat dilakukan dengan teknik lubang kunci, sehingga tindakannya lebih minim resiko. Pada beberapa pasien, terutama kandidat pasien bedah yang buruk, colpocleisis, atau pengangkatan epithelium dan penutupan vagina, mungkin diindikasikan. Inkontinensia urin juga dapat diatasi dengan pembedahan dengan tujuan menciptakan hambatan parsial pada uretra untuk memfasilitasi penutupan guna mencegah kebocoran urin. Beberapa tindakan dapat dilakukan untuk mencapai hasil tersebut, termasuk suspensi retropubic, tindakan Burch, dan tindakan Marchall-Marchetti-Kranz. Tindakan pada panggul untuk inkontinensia juga mungkin melibatkan pembuatan sling atau memasukkan sfingter buatan.

Setelah tindakan, pasien disarankan menghindari aktivitas penuh tekanan dan mengangkat beban. Aktivitas seksual juga sebaiknya dihindari. Terapi estrogen mungkin diperlukan terutama bagi wanita yang telah mengalami menopause.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Bedah Panggul

Pasien dengan kelainan panggul dapat dikenali dengan berbagai gejala, kebanyakan penurunan organ panggul dapat dikenali melalui asymptomatic. Dalam kasus kebanyakan, organ panggul dapat dilihat melalui tonjolan disekitar area genital. Pasien dengan penurunan organ panggul biasanha merasakan ketidaknyamanan atau sakit dia area panggul, biasanya terasa penuh di area vagina. Ketidaknyamanan dapat meningkat ketika pasien berbaring. Bercak dan sakit saat berhubungan juga dapat muncul. Ketidakstabilan saluran urin dapat terjadi terpisah, ataupun berbarengan dengan penurunan organ panggul. Ada beberapa jenis ketidakstabilan saluran urin seperti, stress incontinence, urge incontinence, dan overflow incontinence. Dari semua jenis ini, stress incontinence adalah tipe yang menguntungkan untuk bedah panggul. Melalui tipe stress incontinence, bersin, batuk, mengangkat beban berat atau aktivitas sejenis dapat mengakibatkan kebocoran urin. Incontinence dapat menyebabkan infeksi saluran urin atau iritasi dan peradangan pada kulit disekitar area genital.

Pasien dengan kelainan panggul dapat diatasi dengan teknik modifikasi gaya hidup seperti pengurangan berat badan. Latihan untuk memperkuat otot panggul dan kandung kemih juga dapat dilakukan. Peralatan seperti pampers dewasa dan pessaries juga dapat digunakan. Apabila perawatan medis gagal untuk menyembuhkan gejala, maka baru akan dilakukan bedah. Bedah untuk pangkal panggul memiliki angka kesuksesan yang tinggi, dengan presentase 76% hingga 100%.

Bagaimana prosedurnya?

Berbagai pendekatan dan teknik digunakan pada bedah panggul, tergantung pada kondisi dan penyebab pada pasien. Sangat penting untuk menemukan penyebab yang spesifik agar dapat diperoleh pendekatan yang paling baik untuk penyembuhan.

Pengobatan untuk penurunan organ panggul dapat dicapai melalui vaginal atau saluran abdominal. Bedah dilakukan melalui saluran vaginal seperti colporrhaphy dan saluran vaginal menuju sacral ligament. Colporrhaphy berkesinambungan dengan lapisan muscular, membuat kanal vaginal semakin kecil. Sementara itu, pendekatan abdominal dapat mendorong rekonstruksi panggul, seperti sacrocolpopexy, dimana graft dapat digunakan untuk memaksimalkan fungsi vagina. Sekarang, pendekatan abdominal dapat dilakukan secara laparoscopically, meminimalisir pendekatan invasif pada prosedur. Pada beberapa pasien, terutama yang kurang memenuhi persyaratan bedah, colpocleisis, atau penghilangan epithelium dan perawatan vagina dapat diindikasikan. Ketidakstabilan saluran urin juga dapat diatasi dengan bedah yang bertujuan untuk membuat obstruksi parsial pada uretra untuk memfasilitasi penutupan dan mencegah kebocoran saluran urin. Beberapa prosedur dapat dilakukan untuk tujuan ini, seperti suspensi retropubic, prosedur the burch, dan prosedur the Marchall-Marchetti-Krantz. Prosedur untuk gangguan panggul dapat menyangkut pembuatan slings atau penggunaan sphincters buatan.

Setelah prosedur, pasien akan disarankan untuk menghindari aktivitas yang menimbulkan stress serta menghindari mengangkat beban yang berat. Aktivitas seksual juga dapat dihentikan sementara. Terapi estrogen mungkin dibutuhkan, terutama pada wanita dalam masa postmenopausal.

Kemungkinan komplikasi dan resiko

Cedera pada panggul dapat menyebabkan beragam cedera juga pada struktur panggul, seperti kandung kemih. Cedera pada saluran kemih terjadi pada 2 persen dari total pasien yang menjalani bedah panggul, sementara pada cedera pada uretra relatif langka. Sekitar setengah dari pasien yang menjalani bedah panggul untuk mengatasi prolap organ panggul mungkin mengalami dyspareunia atau nyeri saat berhubungan seksual. Beberapa tindakan untuk prolaps organ panggul juga dapat memperburuk inkontinensia urin.

Kegunaan cangkok atau jala bagi bedah panggul juga diasosiasikan dengan komplikasi tertentu. Erosi pada jala dapat terjadi pada presentase kecil dari pasien, di mana jala memotong melalui jaringan keluar lewat kulit. Ini dapat menyebabkan nyeri dan infeksi. Saat erosi terjadi, pengangkatan diperlukan.

Ada juga komplikasi yang muncul setelah waktu yang lama, yaitu berkembangnya hernia, terutama pada tindakan melalui abdomen.

Rujukan:

  • DeSimone CP, Ueland FR. Gynecologic laparoscopy. Surg Clin North Am. 2008;88:319-341.

  • Gait├ín HG, Reveiz L, Farquhar C. Laparoscopy for the management of acute lower abdominal pain in women of childbearing age. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011, Issue 1. Art. No.: CD007683.

Bagikan informasi ini: