Apa itu Operasi Karotis?

Operasi karotis, yang lebih dikenal dengan istilah endarterektomi karotis, adalah operasi di mana lapisan dalam arteri karotis diangkat karena adanya penyumbatan yang menghambat peredaran darah. Tujuan dari operasi ini adalah untuk menghilangkan timbunan kolesterol dan lemak yang menumpuk pada arteri karotis.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Karotis & Hasil yang Diharapkan

Operasi karotis diperlukan untuk orang yang didiagnosis terkena:

  • Stenosis arteri karotis atau penyakit arteri karotis
  • Arterosklerosis, atau pengerasan arteri

Kedua penyakit tersebut dapat memicu stroke iskemik maupun stroke iskemik sesaat, di mana arteri karotid tersumbat sepenuhnya dan darah tidak dapat mengalir ke otak. Pada beberapa kasus, penggumpalan darah mungkin juga terjadi di sepanjang arteri; apabila pecah, ada kecenderungan gumpalan darah bergerak ke otak di mana hal itu akan memicu stroke embolik.

Arteri yang menyempit dan mengeras dapat dikategorikan berdasarkan tingkat keparahan penyumbatan. Termasuk pada stenosis (penyempitan) ringan bila hanya 49% arteri yang tersumbat, stenosis sedang apabila 50-69% arteri yang tersumbat, dan stenosis berat ketika 70-99% arteri yang tersumbat. Operasi karotis paling bermanfaat untuk pasien yang mengalami penyumbatan pada satu atau kedua arterinya, termasuk sedang atau parah. Adanya dan seberapa luas penyumbatan dapat ditentukan menggunakan pencitraan pada otak, seperti USG duplex scan, CT scan, Computed Tomography Angiogram (CTA), atau magnetic resonance angiography. Pada kebanyakan kasus, pertama dokter akan menggunakan USG untuk mendeteksi stenosis dan menentukan kemungkinan keberhasilan pembedahan. Bila penyempitan arteri ditemukan, pemeriksaan lebih lanjut mungkin akan dilakukan untuk menentukan luasnya penyumbatan.

Akan tetapi, dokter tidak akan menunggu hingga gejala seperti stroke muncul. Ini karena dalam beberapa kasus, kondisi tersebut tidak menyebabkan gejala (asimtomatik), dan dokter hanya menemukan arteri yang mengeras dan menyempit ketika melakukan pemeriksaan untuk tujuan lain. Sebaliknya, stenosis simtomatik dapat menyebabkan gejala berikut:

  • Kehilangan penglihatan pada salah satu mata
  • Sulit berbicara
  • Mati rasa atau lemah pada wajah dan bagian-bagian tubuh
  • Turunnya wajah pada salah satu sisi

Risiko seseorang yang membutuhkan operasi karotis dalam beberapa hal mungkin diperburuk oleh faktor yang menyebabkan penumpukan kolesterol, seperti:

Operasi karotis diharapkan dapat secara signifikan mengurangi risiko seseorang terkena stroke atau gejala lain terkait stenosis arteri karotis dan aterosklerosis. Selain itu, pasien yang telah mengalami stroke dan tidak mencari pengobatan dengan operasi, memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke kembali, tetapi endarterektomi karotis dapat mengurangi sepertiga dari risiko tersebut.

Pasien yang mengalami penyumbatan arteri juga dapat memilih apakah ingin menjalani endarterektomi atau pemasangan stent (cincin penyangga) pada arteri karotis. Pemasangan stent, yang tidak membutuhkan sayatan apapun dan lebih minim risiko, hanya melebarkan arteri sehingga darah dapat mengalir dengan seharusnya. Akan tetapi, jenis tindakan minim risiko ini bukanlah pengobatan jangka panjang dan terkait dengan risiko stroke pasca-operasi yang lebih besar dibandingkan dengan endarterektomi. Oleh karena itu, pemasangan stent hanya digunakan untuk pasien yang belum jelas untuk endarterektomi dengan kemungkinan alasan apapun.

Cara Kerja Operasi Karotis

Endarterektomi karotis dilakukan dengan membuat sayatan kecil di sepanjang arteri karotis, terutama tempat di mana arteri menyempit, untuk mengangkat kolesterol yang tertimbun. Sayatan biasanya berjarak antara 7-10 cm atau 2,5-4 inchi, dan umumnya dibuat di antara tulang dada dan rahang. Ketika timbunan lemak telah dihilangkan, arteri akan dijahit atau di tutup dengan patch (penutup khusus). Pada beberapa kasus, dokter bedah dapat sementara memasang sebuah tabung untuk mengeluarkan darah yang tersisa, yang mungkin keluar setelah operasi. Apabila kedua arteri dioperasi, dokter bedah akan mengoperasi satu sisi terlebih dahulu, dan sisi yang lain pada operasi selanjutnya setelah beberapa minggu.

Operasi ini dapat dilakukan baik dengan pembiusan lokal atau total. Pada pembiusan lokal, dokter bedah dapat memantau fungsi otak selama operasi. Bagaimana pun, keduanya dianggap aman dan tidak ada perbedaan berarti yang ditemukan selama operasi karotis.

Selama operasi, aliran darah ke otak mungkin dilakukan dengan menggunakan shunt, atau tabung kecil terbuat dari plastik yang tujuannya mengalihkan darah, sehingga tetap mengalir ke otak selama operasi berlangsung. Bila shunt tidak digunakan, arteri karotis hanya akan dijepit untuk membatasi aliran darah hingga operasi selesai.

Karena operasi karotis adalah tindakan yang sensitif, operasi ini mengharuskan rawat inap, dengan kebanyakan pasien diperbolehkan pulang sekitar 48 jam setelah operasi. Normal bila pasien mengalami rasa tidak nyaman dan mati rasa di leher, tetapi hal tersebut akan hilang dengan sendirinya tidak lama setelah operasi

Kemungkinan Komplikasi & Resiko Operasi Karotis

Ada sedikit resiko munculnya beberapa komplikasi saat atau setelah operasi. Meskipun jarang, komplikasi tersebut bisa serius dan mengancam-jiwa. Pada setiap operasi karotis, ada risiko terkena stroke, atau bahkan kematian. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa resiko stroke dan kematian lebih tinggi di antara pasien yang menderita stenosis arteri karotis dan memutuskan untuk tidak melakukan operasi.

Komplikasi yang tidak begitu serius termasuk:

  • Rasa nyeri atau mati rasa di tempat sayatan
  • Pendarahan
  • Infeksi
  • Masalah saraf sementara, yang menyebabkan lemah dan mati rasa sementara pada sisi wajah yang mungkin membutuhkan waktu 1 bulan untuk ditangani.

Resiko seseorang mengalami komplikasi selama dan setelah operasi karotis tergantung pada:

  • Usia
  • Gaya hidup, apakah ia perokok atau bukan
  • Apakah ia pernah mengalami stroke
  • Apakah kedua arterinya telah tersumbat
  • Riwayat Kesehatan, seperti apakah ia memiliki penyakit lain pada waktu operasi

Operasi karotis juga tidak memastikan bahwa arteri tidak akan tersumbat kembali. Hingga 4% pasien yang telah menjalani operasi karotis membutuhkan tindakan lain untuk menangani munculnya kembali stenosis (restenosis).

Rujukan:

  • Goldstein LB. Prevention and management of stroke. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 62.

  • Silva MB Jr., Choi L, Cheng CC. Peripheral arterial occlusive disease. In: In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 63.

  • Society for Vascular Nursing. 2009 Clinical practice guideline for patients undergoing carotid endarterectomy (CEA). JVasc Nurs. 2010;28:21-46.

Bagikan informasi ini: