Apa itu Tonsilektomi?

Tonsilektomi adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk mengobati tonsilitis, atau peradangan kronis pada amandel. Amandel adalah sepasang kelenjar kecil di belakang tenggorakan yang mengandung sel darah putih, yang dapat melawan infeksi. Bila terinfeksi, amandel biasanya akan menjadi bengkak. Pada kebanyakan kasus, tonsilitis dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, bila kondisinya memburuk dan menjadi kronis (terjadi beberapa kali setiap tahun), pasien dianjurkan untuk menjalani operasi pengangkatan amandel total.

Saat ini, tonsilektomi juga dapat mengobati penyakit lain, termasuk apnea atau kelainan bernapas saat tidur, gangguan pernapasan, dan penyakit amandel lainnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Tonsilektomi & Hasil yang Diharapkan

Tonsilektomi disarankan bagi pasien yang menderita:

  • Tonsilitis kronis, contoh gejalanya adalah kesulitan menelan, kelelahan, dan demam
  • Amandel membesar dan menyebabkan penyumbatan pernapasan
  • Disfagia yang parah
  • Gangguan tidur akibat gangguan jantung dan paru
  • Infeksi tenggorokan kronis akibat bakteri yang menghambat proses pernapasan dan menelan serta tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan
  • Nanah menumpuk di belakang amandel
  • Tonsilitis akibat kejang demam


Tonsilektomi merupakan prosedur bedah yang tidak terlalu rumit. Pasien anak biasanya hanya perlu menginap satu malam di rumah sakit, sedangkan pasien dewasa boleh langsung pulang. Pasien perlu mengonsumsi obat penghilang nyeri selama 1-2 minggu untuk mengatasi radang tenggorokan dan komplikasi lainnya. Pasien biasanya dapat kembali beraktivitas seperti biasa setelah beristirahat selama beberapa hari.

Cara Kerja Tonsilektomi

Tonsilektomi dapat dilakukan dengan dua metode. Metode yang lebih sering digunakan adalah diseksi diatermi bipolar, karena metode ini dapat mengurangi pendarahan. Metode ini dilakukan dengan menggunakan forcep elektris untuk menutup pembuluh darah yang ada di antara amandel dan otot di sekitarnya. Kemudian, amandel akan diangkat satu persatu. Metode ini digunakan pada tonsilektomi total, karena dapat memastikan tidak ada jaringan amandel yang tertinggal.

Metode lain adalah tonsilektomi intrakapsular. Metode ini menggunakan probe elektris untuk memecahkan dan menghancurkan protein di jaringan amandel. Probe tersebut mengandung larutan garam yang dipanaskan dengan arus listrik, sehingga dapat menghancurkan kelenjar yang ada di lapisan amandel. Metode ini lebih tidak beresiko merusak otot dan pembuluh darah di sekitar amandel. Tonsilektomi jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati apnea tidur atau mendengkur terlalu keras.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Tonsilektomi

Seperti prosedur bedah lainnya, tonsilektomi juga beresiko menyebabkan pendarahan. Pendarahan dapat terjadi pada diseksi diatermi bipolar, saat dokter bedah sedang melakukan kauterisasi atau menutup pembuluh darah. Namun, pendarahan ini mudah dihentikan dan biasanya tidak dianggap sebagai komplikasi serius.

Setelah tonsilektomi, pasien kemungkinan besar akan merasakan nyeri dan memerlukan obat. Pada beberapa kasus, pasien juga merasakan nyeri pada telinga dan hidungnya mampet. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi tidak nafsu makan dan minum.

Selain itu, bagian belakang tenggorokan akan berubah menjadi putih dan mengeluarkan bau tidak sedap setelah pembedahan.

Komplikasi yang jarang terjadi akibat tonsilektomi adalah nyeri rahang dan kerusakan pada mulut karena alat logam yang dimasukkan saat pembedahan.

Orang yang merawat pasien juga harus mencari tanda-tanda kambuhnya tonsilitis atau suara mendengkur yang keras setelah pembedahan. Ini dapat terjadi karena amandel tumbuh kembali, yang berarti pasien memerlukan pembedahan ulang.

Rujukan:

  • Goldstein NA. Evaluation and management of pediatric obstructive sleep apnea. In: Flint PW, Haughey BH, Lund LJ, et al, eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 184

  • Wetmore RF. Tonsils and adenoids. In: Kliegman RM, Stanton BF, St Geme JW, Schor NF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 20th ed. Philadelphia, PA: Elsevier; 2016:chap 383.

Bagikan informasi ini: