Apa itu Labiaplasti?

Labiaplasti atau rekonstruksi labia adalah prosedur bedah yang bertujuan meningkatkan penampilan kelamin wanita secara umum. Dilakukan pada bagian labia dalam (labia minora) dan luar, yaitu lipatan kulit di sekitar vulva.

Siapa yang Perlu Menjalani Labiaplasti & Hasil yang Diharapkan

Wanita yang menjalani labiaplasti adalah mereka yang menderita kondisi yang memengaruhi bagian kelaminnya, dan mereka yang melakukannya hanya untuk meningkatkan penampilannya saja.

Kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan abnormalitas pada labia, di antaranya:

  • Atresia vagina, atau kondisi di mana wanita tidak memiliki saluran vagina
  • Agenesis Mullerian, adalah kondisi yang menyebabkan malformasi tuba falopi dan uterus
  • Interseksualitas, yaitu wanita dengan karateristik pria


Alasan kesehatan lainnya untuk melakukan labiaplasti termasuk

  • Trauma atau cedera pada labia
  • Sobeknya labia minora karena melahirkan
  • Meregangnya labia karena usia
  • Operasi penggantian kelamin


Sekitar 30 persen kasus labiaplasti dilakukan untuk alasan kesehatan, sementara 40 persen dilakukan karena tujuan estetika semata.

Operasi rekonstruksi labia memiliki tingkat kepuasan hingga 95 persen dan telah terbukti efektif meningkatkan penampilan labia dan menyelesaikan masalah terkait dengan bagian kelamin wanita. Namun, labiaplasti tidak bisa dilakukan semua wanita, beberapa orang disarankan untuk tidak melakukannya, jika:

  • Wanita yang pernah dan sedang menderita penyakit kandungan, seperti tumor ganas atau kanker
  • Perokok dan tidak ingin berhenti karena merokok mengganggu kemampuan pasien untuk menyembuhan diri
  • Tujuan estetika yang tidak realistis, dalam kasus ini, pasien membutuhkan konseling

Cara Kerja Labiaplasti

Labiaplasti bisa dilakukan di rumah sakit atau klinik dengan spesialisasi operasi plastik.

Namun tidak semua dokter bedah ginekologi tidak mendukung dan melakukan labiaplasti untuk tujuan kecantikan. Banyak yang mengkritik bahwa keinginan untuk menjalani labiaplasti karena rendahnya rasa percaya diri mendorong ekspektasi yang tidak realistis. Ini kenapa labiaplasty untuk tujuan kecantikan hanya tersedia di klinik kecantikan swasta, terutama di negara yang memiliki pedoman jelas kasus mana saja yang membutuhkan rekonstruksi labia. Di beberapa negara, wanita perlu menjalani konseling sebelum operasi. Jika tidak, maka ia tidak diperkenankan melakukan labiaplasti.

Saat operasi rekonstruksi labia, pasien diberikan bius lokal atau total tergantung seberapa luas operasi yang akan dilakukan atau dilakukan sebagai bedah tunggal atau gabungan dengan prosedur lainnya.

Teknik yang dapat digunakan untuk labiaplasti antara lain:

  • Teknik reseksi tepi – Ini dikenal sebagai teknik asli yang digunakan untuk rekonstruksi labia, di mana sayatan sederhana dibuat pada jaringan labia minora berlebih. Setelah selesai dokter bedah akan menjahitnya dengan benang yang dapat larut. Namun, hasilnya tidak nampak alami, sebab labia terlihat sangat halus.

  • Teknik reseksi central wedge – Metode ini akan memotong dan membuang jaringan wedge pada bagian tebal labia untuk memperkecil ukurannya, namun tetap ada kerutan dan kontur alami.

  • Teknik de-epitheliazation – Metode ini memotong epitelium menggunakan pisau bedah untuk mengurangi jaringan berlebih, namun tetap menjaga sensitivitas dan seksualitas labia. Teknik ini juga efektif mempertahankan kerut alami dari kulit labialis, membuat labia tampil lebih alami.

  • Labiaplasti dengan laser – Metode ini menggunakan teknologi laser untuk memotong labia minora. Menggunakan laser menurunkan resiko benjolan epidermoid, dibandingkan dengan sayatan manual.


Setelah prosedur selesai biasanya pasien akan merasa nyeri dan terjadi pembengkakkan. Namun, pasien tidak perlu tinggal di rumah sakit karenanya. Ia hanya akan mendapatkan instruksi dari dokter tentang cara pembersihan yang benar dengan menggunakan antibiotik oles. Mereka juga diminta kembali untuk kunjungan lanjutan seminggu setelah prosedur dilakukan.

Biasanya masa penyembuhan labiaplasti cepat dan tidak rumit, pasien dapat kembali melakukan aktivitasnya dengan normal setelah 3 – 4 hari setelahnya, tapi perlu menghindari aktivitas berat. Pasien juga tidak diperkenankan menggunakan tampon, celana dalam yang ketat, dan melakukan hubungan seksual, selama 4 minggu pertama pasca operasi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Labiaplasti

Resiko yang terkait dengan prosedur labiaplasti, termasuk:

  • Luka permanen
  • Pendarahan
  • Infeksi
  • Kulit labialis yang asimetris
  • Tertundanya penyembuhan luka
  • Undercorrection
  • Overcorrection
  • Membuat lapisan dalam labia minora berubah ke arah luar
  • Iritasi kulit atau iritasi daerah genital
  • Hematoma, atau ketika darah menumpuk di luar sistem vena dan arteri
  • Kerusakan saraf, yang dapat menambah atau mengurangi sensitivitas genital
  • Neuroma



Rujukan:

  • Motakef S, Rodriguez-Feliz J, Chung MT, Ingargiola MJ, Wong VW, Patel A. Vaginal labiaplasty: current practices and a simplified classification system for labial protrusion. Plast Reconstr Surg.2015;135(3):774–88.

  • Wu JA, Braschi EJ, Gulminelli PL, Comiter CV. Labioplasty for hypertrophic labia minora contributing to recurrent urinary tract infections. Female Pelvic Med Reconstr Surg. 2013;19(2):121–3

Bagikan informasi ini: