Apa Itu Aborsi dengan Pembedahan

Aborsi dengan pembedahan adalah tindakan untuk menghilangkan isi rahim, secara efektif mengakhiri kehamilan, menggunakan cara bedah yang berbeda; metode tertentu yang digunakan tergantung pada seberapa jauh kehamilan yang terjadi. Terlepas dari pilihan metodenya, aborsi dengan pembedahan adalah tindakan sensitif, dan pasien membutuhkan perawatan pra-bedah dan pasca-operasi untuk memastikan tidak ada komplikasi yang timbul.

Siapa Yang Harus Menjalani Aborsi dengan Pembedahan & Hasil Yang diharapkan

Aborsi bedah merupakan pilihan ketika:

  • Janin telah didiagnosis dengan cacat lahir pada janin atau masalah medis yang parah (ini sering terdeteksi melalui tes rutin yang dilakukan selama trimester kedua)
  • Janin telah berhenti berkembang
  • Kehamilan menimbulkan resiko pada nyawa sang ibu
  • Kehamilan yang dihasilkan dari gagalnya alat kontrasepsi
  • Kehamilan yang tidak diinginkan

Jika sedang mempertimbangkan melakukan aborsi, penting bagi pasien dan pasangannya untuk berhati-hati menimbang semua pilihan yang tersedia. Namun, jika telah memutuskan melakukan aborsi, penting untuk mengakhiri kehamilan sedini mungkin (idealnya sebelum trimester kedua berakhir) untuk meminimalkan kemungkinan resiko dan komplikasi yang dapat memengaruhi ibu.

Meskipun invasif, aborsi dengan pembedahan hanya membutuhkan satu kali kunjungan, di mana seluruh proses selesai sehingga pasien tidak perlu kembali lagi. Ini tidak seperti aborsi medis yang memerlukan setidaknya dua atau lebih kunjungan ke dokter selama 3 minggu. Aborsi dengan pembedahan juga benar-benar mengakhiri kehamilan dalam sekali proses, sementara aborsi medis terjadi secara bertahap dan bahkan dapat berlangsung beberapa hari dan beberapa langkah.

Aborsi dengan pembedahan membutuhkan bius lokal atau umum, sementara aborsi media tidak membutukan bedah. Keduanya dianggap efektif, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi (95% untuk aborsi medis dan 99% untuk aborsi bedah).

Cara Kerja Aborsi dengan Pembedahan

Proses spesifik yang digunakan untuk bedah pengangkatan isi rahim tergantung pada usia kehamilan, apakah masuk pada trisemester pertama, kedua, atau ketiga. Tiga metode yang berbeda termasuk:

  • Aspirasi vakum manual atau mesin vakum aspirasi - Metode ini dimulai dengan cara memasukkan tabung kecil ke dalam rahim dan menggunakan alat pengisap untuk menyedot semua jaringan yang ditemukan di dalam. Metode ini digunakan untuk pasien pada usia kehamilan trimester pertama, atau 5-12 minggu. Karena banyak cacat lahir pada janin dapat didiagnosis sebelum trimester kedua, aborsi pada trimester pertama lebih umum dilakukan.

  • Dilasi dan evakuasi (D & E) - Meskipun aborsi pada trimester kedua lebih dikenal dengan D & C atau dilatasi dan kuretase, metode ini biasanya dikombinasikan dengan aspirasi vakum, dalam hal ini disebut dilasi dan evakuasi. Metode ini digunakan selama trimester kedua, atau yang 12 minggu kedua kehamilan. Tindakan ini menggunakan kombinasi instrumen hisap dan bedah untuk mengangkat semua jaringan janin dan plasenta dalam rahim. Metode ini memiliki risiko komplikasi rendah dibandingkan dengan menginduksi persalinan.

  • Aborsi Induksi - Ini adalah metode non-bedah untuk mengakhiri kehamilan di trimester kedua. Induksi aborsi menggunakan obat untuk menyebabkan kontraksi persalinan, yang kemudian akan mendorong janin dari rahim.

Usai bedah mengakhiri kehamilan, pasien dibawa ke ruang pemulihan dan akan dipantau dan diawasi selama 24 jam. Dokter akan memberikan instruksi khusus untuk perawatan pasca-operasi dan obat-obatan, jika memang diperlukan. Pasien uga disarankan tidak melakukan hubungan seksual setidaknya selama tiga minggu setelah tindakan; ini adalah rata-rata lama waktu yang diperlukan bagi tubuh untuk sepenuhnya pulih.

Aborsi dengan pembedahan adalah proses satu langkah yang benar-benar mengakhiri kehamilan, sehingga biasanya pasien tidak perlu datang kembali untuk kunjungan berikutnya, asalkan tidak ada komplikasi.

Terlepas dari metode yang digunakan, bagaimanapun, aborsi dengan pembedahan hanya dapat dilakukan oleh seorang profesional kesehatan, seperti ginekolog, perawat-bidan bersertifikat, atau dokter keluarga, yang memiliki spesialisasi pelatihan dalam tindakan tertentu.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Aborsi dengan Pembedahan

Pasien bisa merasakan rasa sakit, mulai dari yang ringan sampai yang berat, selama dan usai aborsi dengan pembedahan. Rasa sakit ini tergantung pada keadaan fisik dan emosional yang dialami pasien usai tindakan. Baik metode medis dan bedah juga menyebabkan perdarahan sementara, yang pada akhirnya akan mereda seperti yang terjadi setelah persalinan normal. Gejala normal lainnya bahwa pasien mungkin mengalami:

  • Spotting, yang bisa berlangsung selama tiga minggu setelah prosedur
  • Kram, biasanya berlangsung antara dua dan enam minggu
  • efek emosional, yang berlangsung antara dua dan tiga minggu

Jika gejala tampak kelihat parah dan semakin parah, atau tampaknya tidak mereda, hal yang terbaik adalah mencari bantuan medis untuk menghindari komplikasi. Gejala abnormal meliputi:

  • Pendarahan hebat selama 12 jam terus menerus dan merendam dua bantalan besar dalam waktu satu jam
  • Keluar gumpalan darah berukuran lebih besar dari bola golf
  • Tanda-tanda infeksi
  • Nyeri perut parah
  • Demam tinggi dari 38 derajat celcius atau lebih tinggi
  • Muntah selama 4 sampai 6 jam
  • Denyut jantung yang cepat
  • Pembengkakan mendadak di perut
  • Pembengkakan, nyeri, dan kemerahan di alat kelamin
  • Tidak adanya menstruasi dalam waktu enam minggu setelah aborsi
  • Tanda-tanda depresi

Tanda-tanda infeksi dapat mencakup:

Antara aborsi medis dan aborsi dengan pembedahan, yang terakhir dianggap sebagai kurang berisiko. Sementara aborsi medis menghadapkan pasien pada risiko infeksi yang parah, ini tidak berlaku untuk proses bedah karena tindakan akan dilakukan dalam pengaturan bedah.

Namun, jika aborsi medis dilakukan dan tidak berhasil, aborsi dengan pembedahan dapat dilakukan untuk menyelesaikan proses. Hal ini sering menjadi perlu karena aborsi medis tidak berhasil mempertinggi risiko pasien dari:

  • Infeksi
  • Kehilangan banyak darah
  • Janin dengan cacat lahir

Dalam kasus yang sangat langka, aborsi dapat menyebabkan kematian, tetapi risiko kurang dari 1 dari 100.000 untuk aborsi bedah. Risiko ini sedikit lebih tinggi untuk aborsi medis.

Rujukan:

  • Annas GJ, Elias S. Legal and ethical issues in obstetric practice. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. Edisi ke-6. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:bab 54.

  • Jensen JT, Mishell Jr. DR. Family planning: contraception, sterilization, and pregnancy termination. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. Edisi ke-6. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:bab 13.

Bagikan informasi ini: