Apa itu Operasi Mata Juling?

Operasi mata juling adalah bedah yang dilakukan pada otot ekstraokular untuk memperbaiki posisi mata. Di Amerika Serikat, prosedur ini merupakan salah satu jenis bedah mata yang paling sering dilaksanakan.

Mata juling atau strabismus adalah kondisi mata yang umum terjadi pada satu dari 20 anak. Kondisi ini ditandai dengan posisi kedua mata yang tidak bergerak dan fokus ke arah yang sama, melainkan ke arah berbeda. Biasanya, kondisi ini mulai terbentuk ketika pasien berusia lima tahun, namun ada juga kondisi yang dimulai saat pasien berusia lebih tua.

Gejala mata juling dapat diamati dengan jelas. Salah satu mata pasien mengarah ke luar, ke dalam, ke bawah, atau ke atas, sedangkan mata lainnya fokus ke depan. Namun, penting diingat bahwa tidak semua jenis dari kondisi ini bersifat menetap – ada kalanya mata terlihat normal. Mata juling ringan tidak dapat langsung terdeteksi dan kemungkinan terdiagnosis sebagai kondisi lain.

Selain efeknya terhadap rupa pasien, mata juling juga bisa menyebabkan penglihatan buram atau ganda. Bila dibiarkan, pasien bisa mengidap ambliopia atau mata malas. Selain itu, kemampuan melihat salah satu mata tidak akan berkembang sempurna, ini membuat pasien mengandalkan penuh kemampuan mata yang lainnya, sehingga otak akan mengabaikan sinyal yang datang dari mata juling.

Sebaiknya mata anak diperiksa secara rutin. Bayi yang baru lahir secara tidak sengaja akan menyilangkan posisi mata saat mereka lelah, namun kondisi ini tidak normal pada bayi berusia lebih dari tiga tahun.

Ada pasien yang terlahir dengan mata juling, namun ada pula yang terjangkit kondisi ini di usia tertentu. Mata juling yang menjangkit pasien seringkali tumbuh saat mata mencoba menangkis kesalahan refraktif, termasuk miopi (rabun jauh), hiperopia (rabun dekat), dan astigmatisma (penglihatan buram akibat kornea melengkung dengan tidak sempurna).

Penyakit masa kanak-kanak seperti campak, kondisi genetik seperti lumpuh otak dan sindrom Down, hidrosefalus, dan kondisi lain yang menyerang otot mata atau retina pun bisa memicu mata juling.

Operasi mata juling bukanlah rekomendasi pengobatan utama bagi kondisi ini. Pasien yang terdiagnosis mata juling seringkali diberi kacamata, yang harus terus digunakan untuk memperbaiki kesalahan refraktif. Latihan mata pun akan diberikan untuk merangsang mata agar dapat bekerja sama. Baru-baru ini, dokter seringkali merujuk pasien pada pengobatan yang tidak invasif dengan suntikan botulinum atau Botox ke otot mata pasien. Zat ini bekerja dengan cara melemahkan otot, sehingga posisi mata berangsur normal dalam waktu 3 bulan.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Mata Juling dan Hasil yang Diharapkan

Jika pengobatan lain tidak mampu memperbaiki kondisi mata juling, pasien dapat menjalani operasi perbaikan mata juling. Sebaiknya operasi ini dilakukan berdasarkan diagnosis strabismus, khususnya pada pasien anak, untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Operasi mata juling dapat memperbaiki posisi mata dan penampilan pasien. Prosedur ini juga mencegah perkembangan komplikasi penglihatan di kemudian hari dan membuat kedua mata mampu bekerja sama dengan baik.

Cara Kerja Operasi Mata Juling

Sebelum menjalani prosedur ini, pasien perlu menjalani tes diagnostik standar seperti lampu celah dan pemeriksaan gerakan mata. Pemeriksaan khusus, seperti tes force duction, force generation, dan saccadic velocity mampu mengenali bekas luka berlebih, otot yang hilang atau tergelincir, dan kelekatan lemak. Reaksi pupil pun diperiksa dan dilakukan pemeriksaan dilasi untuk mengenali kehadiran gangguan retina atau vitreous lain yang memerlukan pengobatan tambahan. Berdasarkan pada diagnosis ini, kondisi (seperti perubahan refraksi) dapat ditangani dengan pengobatan optikal, pengobatan medis (dengan menggunakan kortiskosteroid dan obat-obatan anti-radang) dan prosedur bedah (untuk melepaskan jaringan parut, pemotongan biopsi, dan pengobatan gangguan retinovitreous).

Bila operasi mata juling dianggap sebagai pengobatan yang paling tepat, pasien dijadwalkan untuk mengikuti operasi. Prosedur ini seringkali dilaksanakan di rumah sakit, meskipun ada beberapa klinik mata dengan fasilitas lengkap yang menyediakan prosedur operasi mata juling. Operasi mata juling dilakukan dengan bius total dan biasanya rawat jalan. Ini berarti pasien boleh pulang ke rumah di hari yang sama.

Saat obat bius telah bekerja, mata yang juling akan dibuka menggunakan spekulum kelopak mata. Dengan bantuan pisau bedah kecil, dokter akan memutuskan bagian otot yang terhubung ke mata dengan menarik ke arah belakang secara perlahan untuk melemahkan efek tarik yang menyebabkan mata juling. Otot pun dapat dipotong menjadi pendek dan dikencangkan agar efek tarik meningkat, namun ini semua tergantung pada kebutuhan mata pasien.

Kemudian, dokter bedah melanjutkan operasi dengan menjahit otot mata ke tempat semula. Prosedur ini menggunakan jahitan yang dapat diserap, sehingga pasien tidak perlu kembali ke rumah sakit atau klinik dalam 7 hari.

Pemulihan pasca operasi mata juling berjalan selama beberapa minggu. Dokter akan memberi resep obat anti nyeri untuk meringankan nyeri mata. Bila sudah mampu, pasien bisa langsung melakukan aktivitas sehari-hari, seperti membaca. Bagaimanapun, sangatlah penting bagi mata pasien untuk segera kembali normal.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operasi Mata Juling

Resiko dan komplikasi dari operasi strabismus sangat beragam, namun sebagian besar di antaranya jarang terjadi. Ini meliput:

  • Penglihatan ganda, komplikasi ini biasanya hilang dalam satu minggu
  • Infeksi mata
  • Pendarahan berlebih
  • Perforasi mata dan struktur di sekitarnya
  • Perubahan proses refraksi, bisa ditangani dengan terapi penglihatan
  • Reaksi alergi terhadap anestesi, bahan benang jahit, atau obat-obatan pasca operasi
  • Bekas luka pada konjungtiva
  • Iskemia segmen anterior, kondisi ini terjadi bila operasi menyebabkan aliran darah ke segmen anterior terganggu
  • Ptosis pada otot rektus vertikal


Komplikasi pasca operasi biasanya dapat ditangani dengan terapi medis. Antibiotik topikal dan sistemik digunakan untuk mengobati infeksi pasca operasi, sedangkan antibiotik tetes mata untuk alergi. Setelah operasi, pasien akan berada di bawah pengawasan sementara untuk memastikan tidak terjadi komplikasi.



Rujukan:

  • Engel JM (September 2012). “Adjustable sutures: an update”. Current Opinion in Ophthalmology 23 (5): 373–6.

  • Kushner, Burton J. (2014). “The Benefits, Risks, and Efficacy of Strabismus Surgery in Adults”. Optometry and Vision Science 91 (5): e102–e109.

  • Wright, Kenneth W.; Thompson, Lisa S.; Strube, Yi Ning; Coats, David K. (August 2014). “Novel strabismus surgical techniques—not the standard stuff”. Journal of American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (JAAPOS) 18 (4): e47

Bagikan informasi ini: