Apa itu Operasi Perut: Gambaran Umum, Manfaat, & Hasil yang Diharapkan

Operasi perut adalah klasifikasi luas untuk beragam tindakan pembedahan yang dilakukan di daerah perut untuk melakukan diagnosa atau mengobati suatu penyakit. Tindakan ini menggunakan berbagai macam teknik tergantung organ perut mana yang akan dibedah, seperti perut, liver, atau ginjal, dan lainnya. Hampir seluruh tindakan ini biasanya memerlukan sayatan besar untuk merobek perut dan biasa disebut bedah pembukaan abdomen atau laparotomi, yang termasuk sebagai salah satu operasi besar dan akan memerlukan periode pemulihan dan istirahat yang panjang. Namun, teknik yang lebih baru membuat pembedahan laparoskopi dapat dilakukan, di mana tindakan hanya memerlukan sayatan yang lebih kecil, yang akan memberikan bekas luka yang lebih kecil dan rasa sakit pasca operasi yang lebih ringan.

Pembedahan laparoskopi menggunakan pipa pipih yang akan dimasukkan melalui sayatan kecil yang dibuat di tubuh pasien. Pada pipa pipih ini akan ditancapkan kamera video yang dapat menampilkan gambar bagian dalam perut sebagai arahan untuk melakukan pembedahan. Alat pembedahan yang digunakan juga dirancang agar dapat digunakan dengan pipa pipih tersebut, agar sayatan besar tidak perlu dibuat. Sebagai hasilnya, pasien dapat pulih dari tindakan lebih cepat dan juga tidak kehilangan banyak darah, serta bekas luka yang lebih kecil. Tindakan ini juga meminimalisir risiko infeksi. Tindakan operasi perut yang berisiko rendah ini semakin populer dewasa ini karena teknologi laparoskopi semakin berkembang.

Siapa yang Harus Menjalani Operasi Perut & Hasil yang Diharapkan

Operasi perut disarankan bagi pasien yang mengalami penyakit yang menyerang bagian dalam perut. Pasien yang mungkin memerlukan operasi perut adalah yang menderita penyakit-penyakit di bawah ini:

  • Usus buntu
  • Keguguran / gagal janin
  • Gejala-gejala yang menyerang bagian dalam perut
  • Pendarahan di daerah perut

Hampir semua pasien yang mengalami gejala tertentu akan berkonsultasi dengan dokter. Gejala-gejalanya antara lain rasa sakit, diare, sembelit, dan perubahan sewaktu buang air besar.

Operasi perut bertujuan untuk mengurangi rasa sakit akibat gejala-gejala dari cedera perut, seperti rasa sakit yang diakibatkan usus yang meradang atau pecah atau untuk mengontrol pendarahan yang mungkin terjadi. Operasi perut juga perlu memastikan penyebab dasar dari gejala yang dialami untuk menentukan perawatan yang tepat. Jika dimungkinkan, penyabab dasar dari gejala tersebut harus diatasi dalam satu pembedahan yang sama, untuk menghindari kemungkinan pembedahan lanjutan ke depannya.

Operasi perut akan membuat perubahan pada rasa sakit yang diderita pasien, buang air besar, pernapasan, dan pola makan untuk sementara waktu.

Cara Kerja Operasi Perut

Ada beberapa teknik operasi perut, dan masing-masing dilakukan dengan beberapa teknik yang berbeda.

  • Pembedahan Caesar: Tindakan ini juga dikenal sebagai C-section, adalah sebuah operasi perut yang digunakan dalam kelahiran bayi yang sudah berusia sembilan bulan, meskipun dalam beberapa kasus yang rumit, pembedahan ini juga dapat dilakukan untuk mengangkat jabang bayi yang keguguran. Tindakan ini memerlukan sayatan besar di bagian perut ibu dengan menggunakan metode yang disebut laparotomi, dan juga melalui rahim dengan metode yang disebut histerotomi.

  • Pembedahan hernia inguinalis: Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi hernia inguinal. Tindakan ini akan memerlukan sayatan dekat dengan daerah yang hernia untuk mengangkat kantong yang keluar dan kemudian, mendorong usus kembali ke letak seharusnya di bagian abdomen. Tindakan ini biasanya dilakukan dengan teknik laparoskopik.

  • Laparotomi Exploratory: Sebuah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk melakukan diagnosa penyebab terjadinya pendarahan atau luka berat yang mempengaruhi organ di dalam perut dan menyebabkan gejala yang menyakitkan bagi pasien. Tindakan ini dilakukan dengan membuka celah bagian dalam perut untuk memeriksa langsung isi organ-organ di bagian dalam perut. Jika kondisinya memungkinkan, penyebab penyakit dapat ditangani dalam satu prosedur yang sama.

  • Cholecystectomy: Sebuah tindakan operasi perut yang bertujuan mengangkat kantung empedu. Ini adalah tipe pembedahan laparosokopi yang paling umum dilakukan dewasa ini.

  • Appendectomy: Sebuah tindakan operasi perut yang ditujukan untuk orang-orang yang menderita usus buntu atau pembengkakan usus. Ini adalah tindakan perawatan yang pasti dilakukan untuk mengobati usus buntu dan dalam tindakan ini, usus buntu akan diangkat sepenuhnya. Dalam beberapa kasus, bagian usus buntu dapat pecah, yang membuat tindakan pembedahan appendectomy sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Terlepas dari jenis operasi perut yang dilakukan, persiapan yang dilakukan pada umumnya sama. Pasien akan diminta untuk mengganti pakaian dengan pakaian operasi dan akan diminta untuk mencabut benda buatan yang terpasang pada tubuh, seperti gigi palsu atau lensa kontak. Tanda-tanda vital pasien akan direkam, dan dalam nilai tertentu, seperti suhu tubuh, detak jantung, dan tekanan darah, akan terus dimonitor selama tindakan berlangsung. Pasien juga mungkin akan diberikan suntik infus untuk memberikan cairan dan obat-obatan yang diperlukan selama tindakan pembedahan. Tindakan dimulai dengan cara menyuntikkan obat anestesi.

Untuk tindakan laparotomi, pasien biasanya akan diminta untuk istirahat di rumah sakit selama 5 hari atau lebih, tapi periode istirahat ini dapat dikurangi bagi pasien dengan tindakan laparoskopi. Untuk mencegah terjadinya komplikasi, pasien akan diminta untuk tidur dengan posisi yang bergantian, dengan terlentang dan menyamping. Penggantian posisi tidur ini dilakukan setiap dua jam. Pasien juga mungkin akan merasa lesu selama beberapa minggu pasca pembedahan.

Pasien yang sudah pernah melakukan tindakan operasi perut biasanya perlu berkunjung ke dokter untuk mencabut jepitan yang digunakan untuk jahitan. Jika terjadi komplikasi pasca pembedahan, pasien dapat diminta untuk kembali ke rumah sakit.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko

Pasien yang melakukan tindakan operasi perut akan dimonitor secara intens untuk mencegah terjadinya komplikasi dan risiko lainnya, termasuk diantaranya :

  • Rasa perih
  • Bekas jaringan yang sobek
  • Pendarahan
  • Infeksi
  • Rasa shock
  • Mati rasa temporer pada bagian usus besar

Komplikasi-komplikasi tersebut dapat dicegah dengan memastikan teknik dilakukan secara steril dan juga menggunakan alat-alat kebersihan antiseptik pasca operasi.

Teknik steril akan dilakukan selama tindakan pembedahan berlangsung karena para ahli medis dan para stafnya perlu melakukannya untuk memastikan lingkungan ruangan pembedahan bebas dari kontaminan yang dapat menyebabkan penyakit. Namun, untuk pembedahan dalam situasi darurat, kondisi steril akan lebih sulit dikontrol, terutama jika pembedahan darurat tersebut dilakukan di daerah yang tidak steril. Ini sangat penting dalam setiap tindakan yang menyangkut bagian perut, karena ada kemungkinan bocornya isi dalam usus, yang biasanya akan menyebabkan luka besar pada perut.

Namun, hampir sebagian komplikasi dapat ditangani selama pasien melaporkannya kepada dokter secepat mungkin. Rasa sakit dapat diatasi dengan obat penghilang rasa sakit, sedangkan serangkaian antibiotik dapat mencegah terjadinya infeksi.

Referensi:

  • McGrath MH, Pomerantz J. Plastic surgery. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 69.
Bagikan informasi ini: