Apa itu Biopsi Endometrium?

Biopsi endometrium adalah proses pengambilan sampel jaringan dari endometrium agar dapat diperiksa. Dokter yang dapat melakukan tindakan ini adalah dokter kandungan.

Sistem reproduksi wanita terdiri dari beberapa bagian, seperti ovarium yang menghasilkan sel telur, rahim, tuba falopi yang merupakan tempat berpindahnya sel telur, dan serviks yang menghubungkan rahim ke vagina dan berperan sebagai pintu masuk ke rahim.

Sementara itu, rahim sebagian besar terdiri dari korpus atau bagian dalam rahim di mana bayi akan tumbuh. Rahim memiliki dua lapisan, salah satunya adalah endometrium, yang dapat ditemukan di bagian dalam rahim.

Endometrium adalah penanda yang baik akan adanya gangguan hormon karena struktur endometrium, seperti ketebalannya, akan berubah saat siklus menstruasi. Apabila wanita hamil, ketebalan endometrium akan bertambah sebagai respon terhadap bertambahnya produksi estrogen. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan rahim untuk pertumbuhan janin. Apabila tidak terjadi fertilisasi, tubuh akan menghasilkan lebih banyak progesteron, yang akan menipiskan endometrium, sehingga endometrium akan meluruh dan menjadi aliran darah saat menstruasi.

Semua bagian sistem reproduksi dapat mengalami kelainan, terutama rahim dan endometrium. Kelainan yang dapat terjadi meliputi kanker rahim atau endometrium, endometriosis (pertumbuhan endometrium di luar rahim), dan fibroid (tumor jinak di dalam rahim). Biopsi dapat membantu dokter kandungan untuk lebih memahami penyebab kelainan ini sehingga mereka dapat memberikan pengobatan yang tepat.

Siapa yang Perlu Menjalani Biopsi Endometrium dan Hasil yang Diharapkan

Biopsi endometrium sering disarankan bagi wanita yang mengalaman pendarahan yang tidak normal. Pendarahan tidak normal dapat berupa pendarahan yang banyak atau berat saat menstruasi, menstruasi yang tidak teratur, atau tidak terjadinya menstruasi. Semua kelainan tersebut dapat menandai adanya beberapa gangguan, termasuk ketidakseimbangan hormon atau penyakit seperti kanker.

Endometriosis adalah penyakit di mana endometrium tumbuh di luar rahim dan menyebar ke organ di sekitarnya, seperti ovarium dan usus. Endometrium masih dapat menebal, yang dapat menyebabkan iritasi pada organ, sehingga menyebabkan terjadinya lesi. Endometriosis sering menyebabkan menstruasi yang sangat menyakitkan dan ketidaksuburan. Kanker rahim dan endometrium disebabkan oleh kelainan sel tertentu yang terus tumbuh dan menyebar. Kanker rahim adalah kanker yang terjadi di bagian dalam rahim.

Biopsi endometrium juga dapat digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hiperplasia, yaitu bertambah besarnya endometrium akibat produksi sel yang tidak normal. Hiperplasia sering dianggap sebagai tahap pra-kanker.

Biopsi endometrium juga dapat berfungsi sebagai salah satu alat pemeriksaan untuk ketidaksuburan, namun hanya yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon dan gangguan metabolisme, yang dapat mencegah sel telur menjadi matang atau menebalnya endometrium sehingga endometrium tidak dapat menopang rahim saat kehamilan.

Wanita yang telah mengalami menopause juga dapat menjalani biopsi endometrium apabila mereka terus mengalami pendarahan yang tidak normal. Biopsi endometrium adalah penanda yang baik untuk mengetahui keberhasilan terapi hormon dan kesuburan.

Beberapa wanita menjalani Pap smear terlebih dahulu. Pap smear adalah pemeriksaan kanker serviks yang dilakukan dengan mengambil sampel sel dari serviks. Apabila hasilnya menunjukkan adanya kelainan, dokter kandungan dapat meminta dilakukan pemeriksaan lainnya, seperti biopsi endometrium, untuk menghasilkan diagnosis yang akurat.

Biopsi endometrium tidak boleh dilakukan pada wanita yang hamil, memiliki kelebihan berat badan yang parah, atau telah didiagnosis menderita kanker sistem reproduksi. Peradangan pada vagina atau panggul juga dapat menghambat kemampuan tes ini untuk mendeteksi kelainan. Pasien kemungkinan harus menunggu sampai pendarahan berhenti sebelum menjalani tes ini.

Biopsi endometrium dapat diselesaikan dalam waktu 10 menit, namun hasilnya baru akan keluar setelah satu minggu, yang akan menunjukkan apakah ada kelainan pada struktur, jaringan, dan sel endometrium.

Cara Kerja Biopsi Endometrium

Biopsi endometrium tidak membutuhkan obat bius, walaupun beberapa pasien meminta pemberian obat bius untuk mengurangi kegelisahan mereka. Selama tindakan, pasien akan diminta berbaring di meja pemeriksaan, dengan telapak kaki di atas bantalan kaki dan kaki yang terbuka lebar.

Kemudian, dokter kandungan akan memasukkan spekulum secara perlahan agar vagina tetap terbuka dan tidak goyah selama tindakan, sehingga ia dapat melihat serviks. Setelah itu, sebuah alat akan digunakan untuk membuka serviks dan terkadang menarik serviks apabila lubang serviks dirasa masih terlalu sempit. Zat penghilang rasa dapat digunakan untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan dan nyeri.

Sampai proses ini, dokter kandungan memiliki setidaknya tiga pilihan cara pengambilan sampel endometrium. Sampel dapat diambil dengan pipet, yang akan menyedot lapisan endometrium. Pengambilan sampel juga dapat dilakukan dengan penyedotan elektronik atau irigasi jet, yang menggunakan air untuk meluruhkan lapisan endometrium.

Setelah sampel diambil dan jaringan endometrium dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan, pasien akan dijadwalkan untuk kunjungan selanjutnya, di mana hasil biopsi akan dibicarakan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Biopsi Endometrium

Pasien dapat merasakan ketidaknyamanan dan rasa sakit saat biopsi endometrium. Pasien juga dapat mengalami kram perut dan pendarahan, namun keduanya akan berhenti beberapa jam setelah tindakan. Walaupun jarang terjadi, tindakan ini dapat menyebabkan kerobekan rahim, infeksi panggul, atau nyeri pada pelvis.

Rujukan:

  • Choby BA. Endometrial biopsy. In: Pfenninger JL, Fowler GC, eds. Pfenninger & Fowler’s Procedures for Primary Care. 3rd ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Mosby; 2010:chap 143.
  • Lentz GM. Endoscopy: hysteroscopy and laparoscopy: indications, contraindications and complications. In Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Mosby; 2012:chap 10.
Bagikan informasi ini: