Apa Itu Biopsi Ginjal?

Biopsi ginjal adalah prosedur diagnostik yang dilakukan dengan cara pengambilan sampel berukuran kecil dari ginjal untuk melihat dan menilai kondisi jaringan organ tersebut melalui mikroskop, yang akan digunakan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya penyakit pada organ tersebut, juga dikenal dengan nama biopsi renal. Biopsi ginjal dapat membantu untuk memantau perkembangan dari penyakit ginjal yang sudah ada, atau untuk menentukan pilihan perawatan yang paling tepat untuk mengobati kondisi yang dialami pasien.

Ada beberapa jenis biopsi ginjal, yaitu sebagai berikut:

  • Biopsi Ginjal yang Diincar : Tindakan ini, sesuai dengan namanya, mengincar suatu bagian pada ginjal tempat adanya penyakit, seperti tumor. Dengan mengincar satu titik saja, diharapkan risiko rusaknya jaringan dan struktur daerah sekitar tempat penyakit tersebut dapat berkurang.

  • Biopsi Ginjal Transplantasi : Dalam tindakan ini, jaringan ginjal akan diambil dari ginjal pasien yang ditransplantasi. Ini dilakukan jika ginjal yang sudah ditransplantasi tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya atau jika kinerja ginjal transplantasi tersebut memburuk. Sampel jaringan ginjal akan diambil dari ginjal asli milik donor untuk memisahkan hasil pemeriksaan dari beberapa faktor, seperti nephropathy BK, gagal ginjal, penyakit, atau reaksi penolakan, yang salah satunya dapat menjadi penyebab memburuknya kinerja ginjal yang didonorkan. Tindakan ini sudah menjadi prosedur umum untuk banyak rumah sakit yang melakukan tindakan transplantasi ginjal, dan biasanya dilakukan tidak lama setelah transplantasi selesai, saat tiga bulan setelah transplantasi dilakukan, atau satu tahun setelahnya.

  • Biopsi Transplantasi Implantasi : Juga dikenal sebagai biopsi transplantasi postperfusion, tindakan ini dilakukan untuk menentukan penyebab terjadinya disfungsi ginjal yang ditransplantasi kepada pasien.

  • * Biopsi Ginjal dengan Pencitraan / penggambaran-* Pada jenis biopsi ginjal ini, tindakan dilakukan dengan bantuan gambar yang ditampilkan secara langsung untuk membantu alat pengambilan sampel pada ginjal, yang dapat membuat tindakan menjadi lebih efektif.

  • Biopsi Ginjal Buta : Tindakan ini menggunakan teknik "ayunan jarum" untuk menentukan posisi alat biopsi selama tindakan tersebut dilakukan. Jenis biopsi ini tidak menggunakan alat bantu gambar sama sekali.


Sebelum tahun 1950-an, biopsi ginjal biasanya dilakukan dengan menggunakan pembedahan besar. Tindakan tersebut tetap dilakukan sampai dua orang dokter berkebangsaan Denmark menemukan metode yang memungkinkan biopsi dapat dilakukan hanya menggunakan jarum biopsi untuk mengambil sampel jaringan ginjal yang diperlukan. Perkembangan teknologi medis terkini, seperti CT Scan dan USG, dapat meningkatkan akurasi dan keamanan dari tindakan ini.

Siapa yang Perlu Melakukan Biopsi Ginjal

Pasien yang mengalami penyakit pada ginjal biasanya - perlu melakukan tindakan ini. Namun, biopsi ginjal bukanlah pilihan pertama untuk melakukan diagnosa pada pasien yang diduga mengalami masalah ginjal — biopsi baru akan disarankan jika jenis tes lain yang non-infasif tidak memberikan informasi berarti yang diperlukan untuk melakukan diagnosa, pemantauan, dan perawatan untuk penyakit - ginjal. Dokter ahli ginjal akan menentukan saat yang tepat untuk melakukan biopsi ginjal.

Ada beberapa alasan kenapa biopsi ginjal perlu dilakukan, yang diantaranya adalah:

  • Adanya kadar darah pada urin (air seni) : Kondisi ini juga dikenal sebagai hematuria, gejala yang bisanya dihubungkan dengan berbagai masalah dengan sistem urinasi pada ginjal. Dokter ahli ginjal akan melakukan biopsi untuk mendiagnosa ada atau tidaknya penyakit pada ginjal atau sindrom pembengkakan ginjal.
  • Adanya kadar protein pada urin : Kondisi yang juga dikenal sebagai proteinuria, di mana keberadaan protein pada urin biasanya menandakan adanya masalah pada ginjal.
  • Gagal ginjal : Pada kasus di mana terdapat salah satu ginjal yang rusak, dokter ahli ginjal akan melakukan tindakan biopsi untuk memastikan penyebab terjadinya gagal ginjal kronis atau gagal ginjal akut tersebut.
    Bagi pasien yang sudah menjalani transplantasi ginjal, biopsi ginjal akan dilakukan untuk:

  • Menentukan ada atau tidaknya penyakit yang belum tampak pada organ donor: Biopsi akan dilakukan pada setiap jeda waktu tertentu setelah transplantasi organ dilakukan. Tindakan ini dilakukan tidak hanya untuk memantau fungsi dari ginjal transplantasi tersebut, tapi juga untuk memeriksa kemungkinan adanya penyakit pada ginjal tersebut. Untuk memastikan penyebab kegagalan ginjal yang ditransplantasi.


Biopsi ginjal tidak akan dilakukan jika pasien mempunyai tekanan darah tinggi yang tidak dapat diatasi atau menderita pendarahan. Tindakan ini juga tidak dapat dilakukan pada pasien yang tidak dapat bersikap kooperatif. Perawatan perlu segera dilakukan jika pasien mengalami infeksi kulit pada daerah tempat jarum biopsi akan dimasukkan, mengalami kelainan pada ginjal, atau menderita uraemia atau azotemia. Pasien yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah dan juga wanita yang sedang hamil juga tidak disarankan untuk melakukan biopsi ginjal.

Cara Kerja Biopsi Ginjal

Tindakan ini memerlukan pemeriksaan dan analisis yang menyeluruh oleh dokter ahli ginjal sebelum dapat dilakukan. Biopsi ginjal memiliki beberapa risiko, dan dokter ahli ginjal perlu menilai apakah keuntungan dengan melakukan tindakan tersebut lebih bernilai dibandingkan dengan risikonya pada pasien atau tidak. Dokter ahli ginjal akan meminta pemeriksaan darah dan pemeriksaan ultrasonik untuk menghindari masalah infeksi, struktur tubuh, dan pengentalan darah. Sebelum tindakan biopsi ginjal dilakukan, pasien perlu berhenti mengonsumsi beberapa jenis obat yang dapat membuat aliran darah pasien tidak menggumpal secara tepat. Penggumpalan darah ini diperlukan untuk mengurangi risiko terjadinya pendarahan dalam.

Dokter ahli ginjal biasanya akan melakukan tindakan biopsi ini dengan bantuan alat pengambilan gambar secara langsung, seperti CT Scan atau mesin ultrasonik, untuk memastikan akurasi dari tindakan biopsi yang dilakukan. Pasien akan diminta untuk tengkurap selama tindakan dilakukan. Daerah tempat jarum akan dimasukkan kemudian akan dibersihkan dengan cairan antiseptik dan juga diberikan obat bius (pasien juga dapat diberikan obat penenang dengan dosis sedang selama tindakan berlangsung). Pasien akan tetap terjaga selama tindakan ini berlangsung, yang biasanya menghabiskan waktu selama lima belas menit.

Sayatan kecil akan dibuat, yang berfungsi sebagai titik masuk untuk jarum biopsi. Jarum biopsi adalah jarum yang memiliki pegas di ujungnya, yang akan ditembakkan ke arah ginjal guna mengambil sampel jaringan ginjal.

Setelah jumlah sampel yang diambil dirasa cukup, dokter ahli ginjal akan memberikan tekanan pada daerah tempat jarum tersebut masuk, dan daerah tersebut akan dibersihkan. Karena sayatan pada tindakan ini berukuran kecil, daerah yang disayat tidak memerlukan jahitan.

Risiko Biopsi Ginjal dan Kemungkinan Komplikasi

Komplikasi serius yang disebabkan biopsi ginjal biasanya sangat jarang terjadi, terutama jika tindakan ini dilakukan oleh dokter profesional yang berpengalaman dan terlatih. Namun, masalah yang paling sering muncul adalah pendarahan dalam pada ginjal. Masalah ini dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan dengan baik dan memberikan penjelasan dan arahan pada pasien sebelum tindakan dilakukan.

Rujukan:

  • Lee YZ, McGregor JA, Chong WK. Ultrasound-guided kidney biopsies. Ultrasound Clin. 2009;4:45–55.
  • Salama AD, Cook HT. The ginjal biopsy. In: Taal MW, Chertow GM, Marsden Pa, et al., eds. Brenner and Rector’s The Kidney. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 28.
Bagikan informasi ini: