Apa itu Termoplasti Bronkial?

Termoplasti bronkial (bronchial thermoplasty) adalah prosedur medis untuk mengobati asma parah. Prosedur ini menggunakan ablasi radiofrekuensi untuk mencegah kontraksi atau penyempitan otot polos pernapasan (airway smooth muscles/ASM). Prosedur non-invasif ini merupakan salah satu jenis pengobatan asma baru yang menjadi alternatif unggulan dari injeksi kortikosteroid, yang memiliki resiko efek samping tinggi.

Termoplasti bronkial dapat mengurangi pembengkakan yang menghambat saluran udara saat serangan asma. Saat ini, prosedur ini merupakan terapi pertama dan satu-satunya yang dapat mengatasi asma tanpa obat apapun.

Siapa yang Perlu Menjalani Termoplasti Bronkial dan Hasil yang Diharapkan

Termoplasti bronkial disarankan bagi pengidap asma kronis, suatu penyakit peradangan kompleks yang menyerang saluran pernapasan bronkitis. Gejala utamanya adalah saluran pernapasan yang terlalu sensitif sehingga terjadi peradangan yang berujung pada penyumbatan jalur udara. Gejala lainnya adalah batuk atau mengi yang sering terjadi atau tak terkendali.

Asma merupakan penyakit yang sangat umum. Penyakit ini diderita 1 dari 10 orang, dan lebih dari sebagian pengidapnya mengalami serangan asma setiap tahunnya. Sekitar 5-10% dari kasus asma merupakan kasus yang parah dan sulit ditangani. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki berusia 0-14 tahun, perempuan berusia 15 tahun ke atas, dan orang yang tinggal di pusat kota.

Berdasarkan studi klinis, pengobatan asma dengan termoplasti bronkial memiliki persentase hasil sebagai berikut:

  • 32% pengurangan jumlah kasus serangan asma parah
  • 85% pengurangan jumlah kasus darurat akibat asma
  • 66% pengurangan jumlah hari tidak hadir di sekolah atau tempat kerja karena asma
  • 79% peningkatan kualitas hidup pasien secara keseluruhan
    Selain itu, terapi ini juga merupakan pengobatan jangka panjang, dengan efek yang diperkirakan bisa bertahan hingga lima tahun.

Cara Kerja Termoplasti Bronkial

Termoplasti bronkial adalah prosedur rawat jalan yang dilakukan oleh spesialis paru-paru dalam waktu kurang dari satu jam. Pengobatan ini diciptakan oleh Alair System dan disetujui oleh FDA pada tahun 2010. Sebelum ablasi dilakukan, pasien akan diberi obat penenang dengan dosis sedang supaya tetap merasa nyaman. Biasanya pasien tidak membutuhkan obat bius.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pasien harus menjalani beberapa sesi pengobatan setiap tiga minggu sekali. Setiap sesi ditargetkan untuk mengobati salah satu area bronkoskopi, yaitu satu lobus bawah dan dua lobus paru-paru bagian bawah.

Saat termoplasti bronkial, pasien akan diminta berbaring di meja pemeriksaan. Dokter spesialis paru-paru akan memasukkan kateter khusus atau bronkoskop ke dalam paru-paru melalui hidung atau mulut. Tujuannya adalah untuk memasukkan energi panas dalam jumlah terkontrol ke saluran pernapasan.

Seusai prosedur, pasien akan diawasi selama beberapa jam sebelum diperbolehkan pulang.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Termoplasti Bronkial

Seperti prosedur medis lainnya, termoplasti bronkial memiliki kemungkinan resiko dan efek samping. Komplikasi yang paling umum adalah gejala gangguan pernapasan sementara yang mirip dengan serangan asma, seperti batuk, mengi, dan sesak napas ringan. Gejala ini biasanya terjadi sehari setelah prosedur, namun lama-kelamaan akan mereda dan hilang dalam tujuh hari.

Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah:

  • Atelektasis (paru-paru tidak dapat mengembang dengan sempurna) berulang
  • Abses paru-paru
    Pengobatan ini juga tidak dapat dilakukan pada semua orang. Pasien yang baru saja mengalami serangan asma atau meminum obat steroid perlu menunggu setidaknya dua minggu sebelum menjalani prosedur. Pasien yang sedang mengidap infeksi pernapasan harus menunggu hingga infeksinya telah disembuhkan.

Ada juga pasien yang tidak disarankan untuk menjalani pengobatan ini. Di antaranya adalah pasien berusia di bawah 18 tahun dan pasien yang menggunakan implan elektronik, seperti alat pacu jantung dan defibrilator. Pasien yang sensitif terhadap lidocaine, atropin, dan benzodiazepines juga sebaiknya mencari pengobatan lain, karena ketiga obat ini akan digunakan saat termoplasti bronkial.

Rujukan:

  • “Bronchial thermoplasty for severe asthma.” NICE interventional procedure guidance. Published January 2012. https://www.nice.org.uk/guidance/ipg419

  • Laxmanan B, Hogarth DK. (2015). “Bronchial thermoplasty in asthma: current perspectives.” J Asthma Allergy. 2015; 8: 39-49.

Bagikan informasi ini: