Apa itu Bursectomy?

Bursectomy adalah prosedur bedah untuk mengangkat bursa, kantong berbentuk bantal yang dapat ditemukan di dekat sendi.

Bursa diisi oleh cairan sinovial yang berfungsi sebagai pelumas sendi. Bursa sendiri merupakan titik gesekan antara tulang dan otot, ligamen, tendon, serta kulit di sekitarnya. Salah satu bursa terbesar pada tubuh dapat ditemukan di antara tempurung lutut dan kulit, dengan ketebalan beberapa milimeter dan diameter sekitar 4 cm. Fungsi utamanya adalah menjadi bantalan saat seseorang melakukan pergerakan.

Saat cedera atau kondisi seperti rematik, membran sinovial pada bursa akan meradang karena produksi cairan sinovial yang berlebih. Akibatnya kondisi yang disebut sebagai bursitis muncul. Biasanya menyerang lutut, siku, pinggul, dan bahu, yang menyebabkan rasa nyeri dan membatasi pergerakan. Kondisi ini juga dapat menyerang tumit dan ibu jari kaki.

Bursectomy biasanya dilaksanakan di klinik ortopedi atau pusat layanan kesehatan lain sebagai prosedur rawat jalan.

Siapa yang Perlu Menjalani Bursectomy dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang terdiagnosis bursitis biasanya dianjurkan untuk mengonsumsi obat-obat anti yang mampu mengobati kondisi ini. Namun, bila kondisi terus memburuk atau pasien tidak lagi menunjukkan reaksi terhadap obat-obatan, ia akan dirujuk pada bursectomy yang mampu meredakan nyeri dalam kurun waktu lama. Selain itu, prosedur ini juga dapat direkomendasi pada atlet yang mengalami cedera dan kondisi bursitis septik, yaitu peradangan bursa yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sehingga, membran sinovial dipenuhi nanah dan harus dikeringkan secara bertahap agar infeksi tidak menyebar atau datang kembali. Pada kondisi ini, ada kemungkinan dokter juga akan menyarankan prosedur pengangkatan seluruh bursa.

Bursectomy bersifat aman dan minimal invasif. Sebagian besar sendi yang rusak bisa sembuh tanpa menimbulkan komplikasi serius. Pasien dianjurkan beristirahat selama beberapa minggu untuk membantu proses pemulihan, meminimalisir gerakan bagian sendi yang sakit. Pasien akan diberi obat pereda nyeri dan anti peradangan untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Sesi terapi fisik pasca operasi sangat membantu memulihkan dan mengembalikan kekuatan sendi. Sebagian besar kasus bursectomy mampu meredakan nyeri dalam jangka panjang dan mengembalikan mobilitas sendi.

Cara Kerja Bursectomy

Umumnya, prosedur dimulai dengan memberi bius topikal pada sendi yang sakit agar mati rasa dan tidak perlu menenangkan pasien. Bila dokter merasa perlu mengeringkan cairan di daerah sendi, maka ia akan membuat sayatan kecil dan membuka bursa. Saluran pengering yang berukuran kecil ditanam dalam bursa selama beberapa hari untuk menguras cairan. Bersamaan dengan ini, pasien perlu mengonsumsi obat antibiotik agar tidak terjadi infeksi.

Jika pengeringan cairan tidak mampu meredakan nyeri, dokter akan memilih untuk mengangkat seluruh bursa. Apalagi jika bursa menjadi semakin tebal sehingga membuat gerakan menjadi terbatas dan pasien merasa nyeri yang sangat menguras tenaga. Namun, bila dokter bedah memutuskan untuk mengangkat hanya mengangkat sebagian bursa agar tingkat pelumasan tetap terjaga dan meminimalisir pergesekan. Maka, besar kemungkinan bahwa bursa dapat tumbuh kembali ke ukuran normal. Di akhir prosedur, sayatan akan ditutup dengan jahitan.

Dalam versi yang sudah lebih berkembang, yang dikenal dengan nama bursectomy artroskopi, prosedur ditujukan untuk pasien yang terdiagnosis bursitis atau radang bursa di daerah sendi pinggul. Pada prosedur ini, dokter membuat sayatan di daerah pinggul untuk memasukkan kamera kecil yang memandu peralatan bedah menuju bursa. Kemudian, dokter menggunakan alat bedah khusus untuk menghisap cairan berlebih. Pada kondisi tertentu, dokter memerlukan alat cukur untuk memisahkan seluruh bagian bursa dari otot dan jaringan. Prosedur ini pun diakhiri dengan menjahit sayatan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Bursectomy

Bursectomy dapat menyebabkan komplikasi berupa infeksi di area sayatan, namun bisa dihindari dengan konsumsi antibiotik. Jika dibiarkan atau tidak segera diobati, infeksi bisa berujung pada kematian jaringan kulit atau nekrosis.

Pasien pun perlu menaati anjuran waktu istirahat selama beberapa minggu. Jika tidak, proses pemulihan menjadi sangat lambat dan kemungkinan kambuh lebih besar. Apalagi jika sendi dipakai untuk menopang berat padahal belum sembuh total. Pada area di mana pasien melakukan gerakan berulang-ulang, ada juga kemungkinan bahwa gerakan anggota tubuh menjadi terbatas dalam jangka waktu yang panjang pasca operasi. Bahkan, bersifat permanen.

Selain itu, ada pasien mengeluh mengalami gejala arthritis lutut setelah menjalani bursectomy.

Rujukan

  • Snider RK. Olecranon bursitis. Snider RK, ed. Essentials of Musculoskeletal Care. 2nd ed. Rosemont, Ill: American Academy of Orthopaedic Surgeons; 1997. 156-9.

  • McGee DJ. Elbow joints. Orthopedic Physical Assessment. 2nd ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders Co; 1992. 143-167.

Bagikan informasi ini: