Apa itu Kraniotomi?

Kraniotomi adalah prosedur pembedahan pada kranium, atau bagian tengkorak yang melindungi otak.

Tengkorak memiliki lebih dari 20 jenis tulang; 8 di antaranya merupakan bagian dari kranium. Pada awal masa kanak-kanak, tulang tersebut tidak menyatu, sehingga memberi ruang bagi otak untuk tumbuh dan berkembang. Saat dewasa, tulang akan saling menyatu sehingga hanya ada ruang kecil untuk saraf dan pembuluh darah.

Pada kraniotomi, bagian tengkorak yang bernama flap tulang (bone flap) akan dibuka atau diangkat untuk menjangkau otak, melakukan biopsi, atau mengurangi tekanan intrakranial. Apabila dikembalikan ke posisi semula, maka tulang akan ditahan dengan baut dan plat logam. Jika flap tulang diangkat permanen, maka prosedur ini disebut kraniektomi.

Kraniotomi dapat dikategorikan berdasarkan teknik bedah dan bagian otak yang dibedah. Berdasarkan letak bagian otak, kraniotomi dibedakan menjadi parietal, suboccipital, frontotemporal, dan temporal. Namun, ada kasus di mana pembedahan dilakukan pada lebih dari satu bagian otak.

Sedangkan untuk teknik, kraniotomi dapat menggunakan teknik lubang kunci atau burr (melubangi tengkorak dengan pengeboran) atau skull base, untuk pembedahan yang kompleks atau riskan.

Bedah otak dilakukan oleh dokter bedah saraf. Untuk menjadi spesialis bedah saraf, seorang dokter harus telah menyelesaikan residensi saraf (minimal 1 tahun) dan fellowship bedah (sekitar 6 tahun). Spesialis bedah saraf dapat bekerjasama dengan dokter bedah lain, misalnya spesialis bedah plastik atau kepala dan leher, terutama pada bedah skull base.

Siapa yang Perlu Menjalani Kraniotomi dan Hasil yang Diharapkan

Kraniotomi dapat dilakukan untuk:

  • Menyembuhkan penyakit otak – Contohnya adalah tumor otak (jinak dan ganas), aneurisma, atau cedera traumatis. Penyakit ini dapat menimbulkan tekanan intrakranial atau peningkatan tekanan dari cairan serebrospinal. Jika tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen atau kematian.

  • Menghentikan pendarahan intrakranial – Ini adalah akumulasi darah pada otak karena pecahnya arteri. Arteri seringkali pecah karena kondisi lain, misalnya bertambahnya tekanan pada dinding arteri atau cedera otak traumatis. Pendarahan intrakranial dapat menyebabkan sel otak mati.

  • Melakukan biopsi – Biopsi otak adalah prosedur pengambilan sampel jaringan otak untuk analisis mikroskopis. Prosedur ini sering digunakan untuk menentukan keganasan tumor.

  • Melakukan aspirasi – Hampir serupa dengan biopsi, aspirasi adalah pengambilan sampel cairan untuk analisis.

  • Mengobati penggumpalan darah – Darah akan menggumpal ketika ada cedera yang menyebabkan trombosit saling berkumpul. Kondisi ini dapat menyumbat arteri dan meningkatkan tekanan dalam otak.

  • Mengobati patah tulang pada tengkorak – Tengkorak adalah salah satu tulang terkuat di tubuh, karena fungsinya sebagai pelindung otak, yang sangat lunak. Akan tetapi, tengkorak juga dapat mengalami patah tulang apabila terkena benturan keras.

  • Memasang suatu alat – Implan saraf biasanya digunakan untuk bypass area otak yang sudah tidak berfungsi akibat penyakit, seperti stroke atau cedera.

Cara Kerja Kraniotomi

Sebelum kraniotomi, pasien harus berkonsultasi dengan spesialis bedah saraf untuk merencakan pembedahan. Hal yang akan dibahas saat konsultasi adalah:

  • Alasan pasien membutuhkan kraniotomi
  • Teknik bedah yang akan digunakan
  • Langkah pembedahan
  • Proses pemulihan dan perawatan lanjutan
  • Resiko dan komplikasi
  • Perawatan dan pemeriksaan pra-bedah
  • Biaya
  • Prognosis


Saat perawatan pra-bedah, pasien diharapkan untuk:

  • Menjelaskan riwayat kesehatannya, termasuk obat yang dikonsumsi, penyakit lain, kebiasaan seperti merokok, serta faktor lain yang dapat memengaruhi proses dan hasil pembedahan.
  • Menjalani tes fisik dan saraf untuk memastikan kondisi fisik dan mentalnya memungkinkan untuk menjalani kraniotomi
  • Menyiapkan diri sebelum prosedur dengan berhenti merokok, mengonsumsi obat (misalnya steroid untuk mengendalikan pembengkakan), menggunakan sampo antiseptik, menginap di rumah sakit selama beberapa hari, dan lain-lain.
  • Bekerja sama dengan anggota tim bedah lainnya, termasuk ahli anestesi


Saat kraniotomi:

  • Pasien akan diminta mengenakan baju khusus bedah, kemudian ia dibawa ke ruang bedah. Lalu, pasien akan dibaringkan di meja operasi.

  • Obat bius biasanya diberikan melalui infus, supaya pasien tidak merasakan sakit. Pada bedah otak tanpa pembiusan, pasien akan tetap terjaga setelah tengkorak dibuka.

  • Lalu, pasien dihubungkan ke alat yang memonitor tanda vital, seperti tekanan darah dan detak jantung. Kateter juga dimasukkan ke kandung kemih untuk mengeluarkan urin.

  • Rambut di area pembedahan akan dicukur, lalu diberi antiseptik.

  • Dokter bedah akan membuka tengkorak dengan bor.

  • Gergaji khusus akan digunakan untuk mengangkat flap tulang

  • Hal pertama yang terlihat adalah dura mater atau lapisan luar dari meninges otak. Dokter bedah akan membuka dura mater secara perlahan, hingga otak terlihat.

  • Kemudian, perawatan otak akan dimulai dengan alat bedah kecil. Pada beberapa kasus, dokter bedah akan menggunakan endoskop atau MRI sebagai panduan. Bila ada kelebihan cairan, maka cairan tersebut akan dikeluarkan dulu sebelum operasi dimulai. Ini biasanya terjadi pada kasus tekanan intrakranial atau pendarahan otak.

  • Setelah pembedahan usai, jaringan yang terbuka akan dijahit. Flap tulang akan dipasang kembali dan ditahan dengan kawat, baut, dan plat logam.

  • Dokter bedah juga akan menjahit sayatan pada kulit serta memperban kepala.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Kraniotomi

Bedah otak merupakan prosedur yang sangat sensitif dan memiliki resiko serta komplikasi serius. Saat pembedahan, tekanan intrakranial dapat tiba-tiba meningkat, sehingga membahayakan jaringan otak. Resiko lain adalah infeksi. Bila terkena infeksi, maka flap tulang tidak dapat dikembalikan ke otak. Pembengkakan dan pendarahan juga dapat terjadi pada area pembedahan.

Kemungkinan komplikasi lain adalah otot atau tungkai terasa lemas, disorientasi, perubahan perilaku, kejang, nyeri, gangguan penglihatan, penggumpalan darah, serta peradangan otak.

Rujukan:

  • Gasco J, Mohanty A, Hanbali F, Patterson JT. Neurosurgery. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 68.
Bagikan informasi ini: