Apa itu Sistostomi?

Sistostomi adalah prosedur di mana kandung kemih dan kulit dihubungkan dengan pembedahan untuk mengeringkan urin melalui tabung yang keluar di dinding perut. Ini perlu dilakukan pada pasien yang tidak dapat berkemih secara normal akibat sumbatan pada kandung kemih atau kondisi medis lainnya yang mengganggu bagian dari saluran kemih atau fungsi normal ginjal yang menyebabkan urin pasien tertahan.

Penggunaan tabung sistostomi, yang juga dikenal dengan sebutan kateter suprapubik, salah satu pengalihan saluran kemih yang rendah resiko dan dapat digunakan sementara maupun jangka panjang.

Siapa yang Perlu Menjalani Sistostomi dan Hasil yang Diharapkan

Sistostomi direkomendasikan bagi pasien yang menderita masalah-masalah kesehatan berikut:

  • Hipertrofi prostat jinak – Ini adalah kondisi di mana kelenjar prostat membesar dan menyebabkan penyumbatan parsial atau penuh pada urin yang mengalir melalui uretra.
  • Cedera akibat trauma pada uretra, atau tabung yang bertanggungjawab mengeluarkan urin dari tubuh.
  • Cacat kongenital pada saluran kemih.
  • Batu ginjal– Retensi atau tertahannya urin adalah komplikasi serius dari batu ginjal atau batu salurah kemih, yang muncul karena dehidrasi berkepanjangan.
  • Kanker – Tumor ganas yang menyerang saluran kemih, sehingga menyebabkan penyumbatan.
  • Cedera tulang belakang – Cedera apapun pada tulang belakang dapat memengaruhi otot yang menopang saluran kemih bagian bawah.
  • Kontraktur leher kandung kemih
  • Striktur uretra
  • Infeksi kompleks saluran urogenital rendah Complex
  • Kandung kemih neurogenik
  • Penyumbatan akibat peradangan
    Sistostomi mengembalikan kemampuan pasien untuk berkemih dan mencegah komplikasi akibat tertahannya urin.

Namun, ada prosedur ini dapat menyebabkan efek negatif pada mereka yang, memiliki riwayat koangulopati, kanker kandung kemih, kanker pelvis, dan pernah menjalani prosedur bedah perut. Selain itu, pasien yang memiliki perangkat ortopedi yang ditanamkan dalam tubuh akibat cedera pelvis tidak dapat menjalani pemasangan kateter suprapubik tanpa mengalami komplikasi.

Cara Kerja Sistostomi

Sebelum prosedur dimulai, pasien perlu menjalani pemeriksaan fisik, tes pencitraan, tes darah, serta urin.

Pemasangan kateter suprapubik adalah prosedur mudah dan cepat yang tidak memerlukan peralatan khusus. Dapat dilakukan dengan pendekatan terbuka atau perkutan.

Pada sistostomi terbuka, dokter bedah akan membuat sayatan kecil pada infraumbilikal di atas bagian pubik untuk menjangkau saluran kemih. Sementara, dalam sistostomi perkutan, dokter bedah memasukkan kateter langsung melalui dinding perut. Kemudian, ia menggunakan ultrasound sebagai pemandu untuk menyelesaikan sistostomi.

Setelah prosedur, kateter akan tetap berada pada tempatnya sementara jaringan membentuk saluran antara kandung kemih dan bagian permukaan luar tubuh. Jika jaringan luka telah terbentuk pada saluran tersebut, kateter akan dilepaskan dari waktu ke waktu untuk mencegah infeksi.

Keseluruhan prosedur memakan waktu 10 hingga 45 menit, tergantung pendekatan yang digunakan. Pasien yang menjalani metode perkutan biasanya dapat pulang ke rumah di hari yang sama, sementara mereka yang menjalani metode terbuka perlu tinggal semalam di rumah sakit.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Sistostomi

Ada beberapa komplikasi terkait dengan sistostomi, seperti:

  • Kebocoran
  • Infeksi
  • Iritasi
  • Penyumbatan pada tabung kateter
  • Kateter terlepas secara tidak sengaja
  • Rusaknya struktur di sekitar termasuk usus
  • Penggumpalan darah
  • Efek negatif dari obat bius
    Untuk mencegah komplikasi berkepanjangan, pasien diajarkan untuk menangani kateternya dan cara mengeringkan kandung kemih.

Resiko sistostomi lebih besar pada pasien yang mempunyai riwayat konsumsi rokok dan minuman beralkohol,atau kondisi medis mendasar, seperti diabetes, obesitas, gangguan pendarahan, dan kanker kandung kemih.

Rujukan

  • Neff D.M. “Suprapubic Cystostomy.” http://health.cvs.com/GetContent.aspx?token=f75979d3-9c7c-4b16-af56-3e122a3f19e3&chunkiid=620496

  • Aguilera PA., Choi T., Durham BA. (2004). “Ultrasound-guided suprapubic cystostomy catheter placement in the emergency department.” The Journal of Emergency Medicine. http://www.jem-journal.com/article/S0736-4679(03)00380-9/abstract

Bagikan informasi ini: