Apa itu Stimulasi Otak Dalam?

Stimulasi otak dalam atau deep brain stimulation (DBS) adalah prosedur yang digunakan untuk mengobati gangguan neurologis, yang terjadi saat otak dan otot tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Kondisi tersebut menyebabkan pasien melakukan gerakan tanpa disengaja dan berulang.

DBS juga digunakan untuk mengobati rasa sakit kronis dengan menargetkan area otak untuk memblokir sinyal nyeri. Saat ini, DBS juga sedang diuji untuk pengobatan kondisi lain seperti kecanduan, demensia, dan depresi.

DBS memerlukan operasi untuk menanamkan alat di otak. Alat tersebut akan memblokir sinyal abnormal untuk mengendalikan atau mengurangi tingkat keparahan gejala. Sehingga, pasien bisa menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Alat tersebut bekerja dengan cara yang sama seperti alat pacu jantung, yaitu dengan mengaktifkan impuls listrik.

Siapa yang Perlu Menjalani Stimulasi Otak Dalam dan Hasil yang Diharapkan

DBS banyak digunakan untuk mengobati gangguan dan kondisi medis yang disebutkan disebutkan sebelumnya. Tapi prosedur ini bukan pilihan pengobatan pertama karena sangat berisiko dan mahal.

Pasien sering diminta menjalani terapi medis terlebih dahulu dan mengonsumsi obat untuk meredakan gejala. Tapi DBS menjadi pilihan jika:

  • Obat mulai menimbulkan efek samping yang serius.

  • Kondisi pasien semakin parah

  • Gejalanya melemahkan.

  • Pasien berhenti merespons pengobatan.

  • Kualitas hidup pasien mulai menurun.

  • Pasien telah mengembangkan dyskinesia obat yang diinduksi

DBS bukan untuk semua orang. Untuk pasien dengan penyakit Parkinson, misalnya, pembedahan tidak disarankan jika mereka memiliki riwayat atau gejala fisik dari sindrom “Parkinson’s plus”. Ini berarti gejala mereka telah berkembang dengan cepat. Pasien dengan sindrom ini juga menunjukkan tanda disfungsi serebelum.

DBS juga bukan pilihan jika pasien:

  • Tidak stabil secara mental. Ini adalah kasus yang sama jika disfungsi kognitif membuat pasien tidak dapat menjalani operasi dengan kesadaran penuh.

  • Memiliki kondisi medis serius lainnya. Ini termasuk hipertensi dan penyakit jantung.

  • Tidak memiliki harapan yang realistis tentang hasil operasi.

  • Sudah berusia lebih dari 70 tahun. Karena risiko DBS, jarang disarankan untuk pasien berusia 70 dan lebih tua.

  • Tidak dapat tenang selama operasi. Operasi DBS bisa bertahan hingga tiga jam. Penting bagi pasien bahwa mereka dapat bekerja sama selama prosedur berlangsung.

  • Tidak dapat melakukan konsultasi bulana.. Pemrograman DBS adalah proses trial and error. Sehingga, penting bagi pasien bersedia dan bisa menemui dokter mereka setidaknya sebulan sekali selama sekitar satu tahun setelah operasi.

Cara Kerja Stimulasi Otak Dalam

Langkah-langkah berikut akan dilakukan selama pelaksanaan prosedur, yaitu:

  • Kepala pasien akan disangga oleh struktur yang terbuat dari logam, sehingga tidak melakukan gerakan yang tidak perlu

  • Tes pencitraan dilakukan. Ini termasuk MRI dan CT scan. Keduanya digunakan untuk memetakan otak untuk menentukan di mana elektroda akan ditanamkan.

  • Bius lokal digunakan untuk membuat bagian tengkorak dimana lubang kecil akan dibuat, mati rasa.

  • Kemudian, elektroda ditanamkan di daerah otak yang berkaitan dengan gejala penyakit. Pasien harus bangun selama prosedur ini. Elektroda akan dinyalakan dan dimatikan. Selama hal tersebut berlangsung, gejala pasien akan diamati.

  • Generator denyut nadi kemudian ditanamkan di dada pasien, tepat di bawah tulang selangka. Prosedurnya sering dilakukan keesokan harinya setelah elektroda diimplantasikan. Generator denyut nadi adalah perangkat kecil yang menghasilkan dan mengirimkan sinyal listrik ke elektroda. Prosedur ini dilakukan dengan bius total.

  • Ekstensi DBS juga ditanamkan. Ini adalah kabel terisolasi yang membawa sinyal listrik dari generator denyut ke elektroda. Sebuah lubang kecil dibuat di belakang telinga. Ekstensi akan melewatibawah kulit dan terhubung ke generator denyut nadi.

Pasien kemudian diberi beberapa hari untuk pulih dari operasi sebelum generator denyut dinyalakan. Berbagai aspek pola rangsangan listrik akan disesuaikan, termasuk frekuensi denyut nadi, bentuk, dan kekuatan.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Stimulasi Otak Dalam

Ada risiko pendarahan berlebihan jika jaringan otak dan sarafnya rusak. Adapun risiko lainnya meliputi infeksi, stroke, dan masalah jantung serta masalah pernapasan dan kejang. Stimulasi listrik juga membawa risiko tertentu. Yang paling umum adalah perubahan mood dan depresi yang tidak diinginkan serta masalah bicara, mati rasa, dan otot terasa kaku.

Rujukan:

  • Timmermann L, et al. Multiple-source current steering in subthalamic nucleus deep brain stimulation for Parkinson’s disease (the VANTAGE study): A non-randomised, prospective, multicentre, open-label study. The Lancet Neurology. 2015;14:693.

  • Deep brain stimulation for Parkinson’s disease. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. http://www.ninds.nih.gov/disorders/deep_brain_stimulation/deep_brain_stimulation.htm.

  • Isaac Perry Clements “How Deep Brain Stimulation Works” 18 May 2008. HowStuffWorks.com. https://science.howstuffworks.com/life/inside-the-mind/human-brain/deep-brain-stimulation.htm 24 October 2017

Bagikan informasi ini: