Apa itu Kuret?

Kuret adalah istilah populer yang dikenal masyarakat. Sedangkan dalam istilah medis, kepanjangan kuret adalah Dilatasi dan Kuretase (D&C), yaitu prosedur bedah pembukaan serviks (dilatasi) dan pemotongan jaringan yang berada di sekitar rahim (kuretase) untuk menangani penyakit pada sistem reproduksi wanita. Prosedur ini dilakukan oleh dokter kandungan.

Rahim atau peranakan merupakan salah satu organ berotot pada sistem reproduksi wanita. Rahim adalah tempat penyimpanan janin yang terhubung dengan tuba falopi (saluran tempat sel telur dibuahi) dan memberi nutrisi pada bayi hingga ia lahir. Di sisi lainnya, rahim tersambung pada serviks (leher rahim), yaitu jaringan berbentuk silinder atau terowongan yang menempel pada vagina. Sedangkan vagina adalah jalan keluar bagi bayi saat proses melahirkan.

Gangguan sistem reproduksi wanita dapat terdiagnosis oleh prosedur yang lebih invasif daripada kuret, yaitu USG. Namun, kuret berperan lebih baik dalam menangani kondisi tertentu dan merupakan satu-satunya prosedur untuk mendiagnosis serta menangani gangguan pada sistem reproduksi secara langsung.

Siapa yang Perlu Menjalani Kuret dan Hasil yang Diharapkan

Kuret dilaksanakan pada wanita yang:

  • Keguguran – Ketika seorang wanita keguguran atau aborsi mendadak, rahimnya diharapkan mampu untuk mengeluarkan jaringan yang tersisa secara alami dalam sepuluh minggu. Saat jaringan ini terhambat dan tidak dapat keluar, maka prosedur kuret diperlukan untuk membuang sisa jaringan agar peranakan pasien tidak mengalami pendarahan dan infeksi.

  • Memilih untuk aborsi – Wanita yang menginginkan aborsi atau induksi aborsi pada kehamilannya, dapat menjalani prosedur kuret. Kuret idealnya dilaksanakan saat usia janin belum mencapai 16 minggu dan alat penghisap kecil (mini suction), yang tidak membutuhkan prosedur pembukaan leher rahim, telah dilepas.

Kuret juga disarankan apabila terdapat gangguan yang berdampak buruk pada rahim. Gangguan ini meliputi, munculnya pertumbuhan abnormal, seperti polip atau fibroid. Prosedur kuret perlu dilaksanakan pada pasien yang mengalami gejala berupa penebalan dinding rahim dan pendarahan atau keputihan.

kuret tidak boleh dilaksanakan apabila:

  • Pasien tidak bisa membuka kakinya dengan lebar
  • Pasien diduga hamil
  • Pasien hamil dan tidak ingin menjalani induksi aborsi
  • Pasien lebih memilih prosedur lain

Cara Kerja Kuret

Prosedur kuret perlu dijadwalkan sebelumnya dan umumnya dilaksanakan di rumah sakit, klinik, atau ruang dokter dengan bantuan bius lokal atau umum, bahkan epidural. Jenis bius didasarkan pada preferensi pasien dan rekomendasi dokter.

Pasien terlebih dahulu akan mengikuti pemeriksaan fisik untuk memastikan kesehatannya dalam kondisi prima.

Saat pasien datang untuk menjalani kuret di rumah sakit atau klinik, ia akan dibantu oleh seorang perawat dalam melakukan persiapan. Sebelum prosedur dimulai, perawat meminta pasien untuk mengganti pakaian dengan baju khusus, lalu pasien dibius. Jika dokter menggunakan bius umum, maka tanda vital pasien perlu dipantau dengan cermat. Pasien dengan tingkat kecemasan tinggi biasanya akan diberi obat penenang (substansi sedatif).

Kemudian, pasien berbaring dengan kedua kaki yang dibuka lebar, namun berpijak pada penyangga. Dokter akan meletakkan selimut atau kain besar pada lutut pasien untuk menutupi bagian kaki. Dokter akan memasukkan spekulum untuk membuka vagina, agar leher rahim dapat terlihat dengan jelas. Untuk mendapatkan jalan masuk ke dalam rahim, dokter perlu menggunakan alat penjepit pada leher rahim.

Alat kuret yang berbentuk seperti sendok akan dimasukkan ke dalam leher rahim. Sisi-sisi kuret bekerja menghabisi sisa jaringan atau pertumbuhan abnormal pada lapisan rahim. Jika masih ada tetap ada jaringan yang tersisa, maka dokter akan menggunakan alat penghisap.

Kuret hanya memakan waktu 15 menit. Pemeriksaan lain, seperti histeroskopi, atau pemeriksaan rahim secara visual, dapat dilaksanakan setelahnya.

Pasien akan diperbolehkan pulang dalam beberapa jam. Ia pun boleh beraktivitas seperti biasa, namun untuk 24 jam pertama, sebaiknya dibatasi hanya aktivitas ringan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Kuret

Pasien akan mengalami kram dan merasa tidak nyaman setelah menjalani kuret, khususnya jika dokter hanya memberi bius lokal. Pendarahan dan bau tidak sedap akan timbul pada area vagina. Kemungkinan infeksi juga dapat terjadi, biasanya ditandai dengan kedinginan, demam, dan radang vagina atau leher rahim. Walaupun jarang terjadi, kuret dapat memicu kebocoran atau lubang pada rahim, kerusakan serviks, dan bekas luka pada rahim (adesi). Namun, secara keseluruhan, kuret hanya memiliki resiko kecil dan menyebabkan sedikit komplikasi. Pasien akan diberi antibiotik untuk mencegah atau mengurangi resiko dan komplikasi.

Rujukan:

  • Bulun SE. The physiology and pathology of the female reproductive axis. In: Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, Kronenberg HM, eds. Williams Textbook of Endocrinology. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: bab 17.

  • Lobo RA. Abnormal uterine bleeding: ovulatory and anovulatory dysfunctional uterine bleeding, management of acute and chronic excessive bleeding. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012: bab 37.

Bagikan informasi ini: