Apa itu Disektomi?

Disektomi adalah bedah pengangkatan herniasi atau degeneratif diskus yang menekan tulang belakang dan saraf di sekitarnya.

Di dalam herniasi diskus terdapat annulus fibrous (cincin luar fibrosa). Apabila cincin ini terluka, terganggu, menyempit, atau memberi tekanan besar pada saraf, maka akan membuat pasien merasa nyeri dalam skala ringan hingga berat. Pada kasus tertentu pasien mengalami nyeri kronis, bahkan dapat menyebabkan cacat. Nyeri berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain, seperti bahu dan lengan apabila herniasi diskus berada di daerah servikal (leher), sedangkan jika terletak di daerah lumbal (punggung bawah), nyeri akan menyebar ke kaki.

Siapa yang Perlu Menjalani Disektomi dan Hasil yang Diharapkan

Disektomi adalah salah satu pilihan pengobatan untuk orang yang mengalami herniasi diskus, dengan gejala sebagai berikut:

  • Nyeri akut atau kronis di bagian tulang belakang, kemudian menjalar ke bagian tubuh terdekat
  • Sensasi geli
  • Lemah otot
  • Kaku
  • Kram otot
  • Lumpuh
  • Tidak bisa menahan buang air kecil atau besar
    Herniasi diskus memiliki nama lain diskus tergelincir, dipicu oleh berbagai faktor, seperti usia, penyakit diskus degeneratif, trauma atau cedera dan gaya hidup pasif.

Disektomi memang bukan merupakan pilihan utama dalam mengobati herniasi diskus, tapi prosedur ini akan dilaksanakan apabila metode non-bedah, seperti pemberian obat anti-radang dan suntikan epidural (menyuntikkan obat langsung ke sumsum tulang) tidak mampu memperbaiki kondisi tersebut. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini, operasi tulang belakang telah berkembang, kemungkinan komplikasi dan resiko serius tetap ada. Dokter perlu menjelaskan rincian ini sebelum pasien menjalani prosedur. Biasanya, dokter terlebih dahulu akan memberi pengobatan tanpa prosedur bedah selama 3-4bulan. Jika pengobatan tidak menunjukkan pengaruh yang berarti, maka dokter akan menjadwalkan disektomi.

Cara Kerja Disektomi

Disektomi atau perbaikan herniasi diskus dapat dilakukan menggunakan metode bedah terbuka konvensional atau minimal invasif. Metode konvensional lebih diutamakan apabila diskus telah pecah dan nucleus melampaui dinding diskus. Namun, metode ini lebih beresiko tinggi karena diperlukan sayatan besar di area punggung atau leher sesuai dengan posisi herniasi diskus.

Di sisi lain, metode minimal invasif yang dikenal dengan nama mikrodisektomi, biasanya dilakukan pada area lumbal. Dokter akan membuat sayatan kecil di punggung bawah pasien, sebagai jalan masuk endoskop, sehingga ia dapat melihat dengan jelas posisi diskus dan jaringan yang berada di sekelilingnya. Kemudian dokter akan menggunakan laser untuk menghancurkan diskus yang menekan saraf. Metode ini sangat tepat untuk pasien dengan tahap awal diskustergelincir.

Disektomi terbuka mengharuskan pasien untuk rawat inap, sedangkan mikrodisektomi berupa prosedur rawat jalan dengan masa pemulihan yang lebih singkat.

Bagaimanapun, kedua metode ini memerlukan persiapan matang, termasuk membawa pasien ke laboratorium untuk menjalani rangkaian tes yang dapat memastikan lokasi herniasi diskus. Dokter bedah akan melakukan laminotomi, yaitu prosedur untuk mengangkat lamina sehingga lokasi herniasi diskus akan lebih mudah dijangkau. Kedua metode ini membutuhkan bius umum.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Disektomi

Sebagai salah satu prosedur perbaikan herniasi diskus, disektomi dikenal memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Metode disektomi minimal invasif memiliki tingkat efektivitas hingga 90%. Hal ini memiliki arti lain, yaitu prosedur bedah tidak menjamin dapat mencegah kemungkinan kambuh, sehingga dokter akan menyarankan operasi revisi (bedah ulang).

Karena merupakan prosedur bedah, maka pasien kemungkinan akan mengalami infeksi, maka dokter perlu merekomendasi antibiotik. Prosedur ini juga dapat menyebabkan pendarahan dan kerusakan pada area sumsum tulang, termasuk saraf. Reaksi alergi terhadap obat bius juga dapat terjadi.

Setelah prosedur selesai, pasien dilarang melakukan aktivitas berat, khususnya mengangkat benda-benda berat, membungkuk atau berolahraga hingga ia sembuh total.

Rujukan:

  • Ehni BL, Satyan K. Lumbar discectomy. In: Benzel EC, ed. Spine Surgery. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:bab 78.

  • Gardocki RJ, Park AL. Lower back pain and disorders of intervertebral discs. In: Canale ST, Beaty JH, eds. Campbell's Operative Orthopaedics. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2013:bab 42.

  • Wilson AS, Samartzis D, Shen FH. Anterior cervical discectomy and fusion. In: Shen FH, Samartzis D, Fessler RG, eds. Textbook of the Cervical Spine. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:bab 30.

Bagikan informasi ini: