Apa itu Pengguguran Kehamilan Ektopik?

Kehamilan ektopik adalah kondisi di mana embrio tumbuh di luar rahim. Pada situasi tertentu, kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya tanpa penanganan apapun, namun biasanya kandungan perlu digugurkan untuk menyelamatkan nyawa ibu.

Siapa yang Perlu Menjalani Pengguguran Kehamilan Ektopik dan Hasil yang Diharapkan

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar area normal, yaitu rahim. Pada kebanyakan kasus, embrio tumbuh di tuba falopi (kehamilan tuba) sedangkan kehamilan lainnya ditemukan di ovarium, leher rahim, dan rongga perut. Kehamilan ektopik rata-rata ditemukan pada 2-4% kasus persalinan.

Pasien yang memiliki kehamilan ektopik biasanya mengalami nyeri perut (biasanya terasa tajam atau kram) dan pendarahan vagina. Mereka juga beresiko mengalami berbagai komplikasi serius. Salah satunya adalah pecahnya tuba falopi, yang dapat menyebabkan pendarahan berat, syok, dan kematian.

Pada kasus tertentu, kehamilan ektopik dapat hilang tanpa pengobatan apapun dan perawatan kandungan biasanya tetap dilakukan, terutama jika tidak ada gejala atau gejalanya sangat ringan. Bagi pasien lain, pengguguran kehamilan ektopik harus dilakukan untuk mencegah komplikasi. Prosedur ini dapat dilakukan dengan obat-obatan atau pembedahan. Beberapa obat, seperti methotrexate, terbukti efektif untuk menggugurkan kehamilan ektopik awal atau ketika embrio masih berukuran kecil dan kadar beta-HCG rendah. Obat ini akan menghentikan pertumbuhan sel embrio. Namun, pembedahan masih menjadi pilihan utama bagi banyak pasien, terutama jika telah terjadi komplikasi atau kondisi pasien tidak stabil. Pada kasus seperti ini, kandungan perlu digugurkan untuk menyelamatkan nyawa ibu. Setelah pengguguran, kadar beta-HCG akan terus diawasi hingga mencapai angka normal. Proses ini sangat penting, terutama bagi pasien yang menjalani pengobatan medis atau bedah konservatif (salpingostomi).

Jika ditemukan sejak dini, kehamilan ektopik memiliki angka keselamatan yang baik dan kesuburan ibu seringkali berhasil dijaga. Kesuburan juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan salpingostomi, bukan salpingektomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pembedahan dan pengobatan konservatif memiliki angka kesuburan hingga 88%. Namun, sekitar 8% dari pasien ini nantinya memiliki kehamilan ektopik lagi.

Cara Kerja Pengguguran Kehamilan Ektopik

Pengguguran kehamilan ektopik dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu laparotomi (bedah terbuka) atau laparoskopi (minim invasif). Perbedaan terbesar dari keduanya adalah panjang sayatan. Pada laparotomi, sayatan vertikal pada linea alba (midline) dibuat untuk menjangkau rongga perut. Sedangkan pada laparoskopi, dokter membuat beberapa sayatan kecil untuk memasukkan berbagai alat bedah. Metode yang lebih sering digunakan adalah laparoskopi, karena telah terbukti dalam banyak studi bahwa metode ini mengurangi kehilangan darah dan adhesi serta mempercepat pemulihan. Sedangkan laparotomi dianjurkan untuk kasus darurat, misalnya kehamilan ektopik pecah atau terjadi pendarahan berat. Laparotomi juga dapat dilakukan bagi pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk laparoskopi. Misalnya, pasien yang pernah menjalani bedah panggul dan diperkirakan memiliki adhesi tebal.

Setelah rongga perut dibuka, kehamilan ektopik akan dicari dan tuba falopi dilepaskan dari struktur sekitarnya. Lalu, dokter bedah dapat melakukan salpingostomi atau salpingektomi.

Pada salpingostomi, dokter bedah hanya akan mengangkat embrio. Sayatan dibuat di atas kandungan, bagian perut yang biasanya menonjol. Lalu, jaringan ektopik diambil dan dilakukan irigasi untuk membersihkan tuba falopi dari sisa jaringan ektopik. Tuba falopi dapat dibiarkan tetap terbuka atau diperbaiki.

Sedangkan salpingektomi dilakukan dengan mengangkat suatu bagian atau seluruh bagian tuba falopi. Prosedur ini perlu dilakukan jika pasien pernah mengalami kehamilan ektopik di sisi yang sama, kerusakan parah tuba falopi, dan pendarahan berat. Prosedur ini juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah tidak ingin hamil lagi. Pada salpingektomi, tuba falopi dijepit dan arteri tubo ovarium diikat. Mesosalping dijepit dan dipotong, dan tuba falopi dengan jaringan ektopik dipindah dan diangkat. Pada kasus tertentu, dapat dilakukan salpingektomi parsial, yaitu hanya mengangkat bagian tuba falopi yang rusak dan jaringan yang sehat disambungkan kembali.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pengguguran Kehamilan Ektopik

Pasien yang menjalani pengguguran kehamilan ektopik laparoskopi biasanya hanya merasakan sedikit nyeri. Kebanyakan pasien dapat langsung pulih dan biasanya diperbolehkan pulang satu hari setelahnya. Sedangkan pasien yang menjalani laparotomi akan merasa lebih sakit, dan mungkin perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Nyeri pasca bedah biasanya dapat diatasi dengan obat pereda nyeri.

Resiko utama dari pengguguran kehamilan ektopik adalah pendarahan. Penanganan yang paling efektif untuk kondisi ini adalah hemostasis yang baik saat pembedahan. Pasien dapat diberi obat tertentu untuk mengurangi pendarahan atau perlu dilakukan embolisasi oleh radiologis intervensional. Pasien yang mengalami pendarahan mungkin akan memerlukan transfusi darah.

Rujukan:

  • Dicker D, Feldberg D, Samuel N, Goldman JA (1985). "Etiology of cervical pregnancy. Association with abortion, pelvic pathology, IUDs and Asherman's syndrome.". J Reprod Med 30 (1): 25–7. PMID 4038744.

  • Al-Azemi M, Refaat B, Amer S, Ola B, Chapman N, Ledger W (May 2009). "The expression of inducible nitric oxide synthase in the human fallopian tube during the menstrual cycle and in ectopic pregnancy". Fertil. Steril. 94 (3): 833–840.doi:10.1016/j.fertnstert.2009.04.020. PMID 19482272.

Bagikan informasi ini: